Lentera Sastra Banyuwangi

Gemar Bahasa Indonesia: Gerakan Madrasah Yang Melawan Arus Instan Agar Tetap Melek Literasi

Banyak orang-orang yang pandai mengakses informasi, tapi siapa yang masih mau membaca sampai tuntas?

 

Kiranya, itu adalah pertanyaan yang pernah terbesit saat banyak disinformasi hari ini.

Sebagai pendidik yang peduli pada masa depan generasi muda, kegelisahan tentang menurunnya minat membaca dan menulis semakin terasa nyata. Anak-anak tumbuh di tengah arus teknologi yang begitu cepat, tetapi sering kali tanpa diimbangi kebiasaan berpikir mendalam. Kami bertanya-tanya, apa solusi yang tepat, kalau bukan pembiasaan yang baik?

Di lingkungan Kementerian Agama Banyuwangi. MTsN 1 Banyuwangi, Gerakan Bahasa Indonesia (Gerbin) hadir bukan sekadar program literasi yang mengajak siswa membaca buku, melainkan ruang pembiasaan karakter; tempat siswa belajar menulis, berbicara, berpikir, sekaligus menghargai proses.

Literasi di sini tidak dimaknai hanya sebagai kemampuan membaca teks, tetapi juga kemampuan memahami, mengolah, dan menyampaikan gagasan dengan baik. Di tengah gempuran teknologi, anak-anak semakin terbiasa dengan informasi instan. Layar gadget menyediakan hiburan tanpa jeda, permainan digital menawarkan kesenangan tanpa usaha panjang. Tanpa disadari, kebiasaan ini sering membuat mereka semakin jauh dari buku. Membaca terasa berat, menulis terasa melelahkan, dan berpikir panjang sering dianggap tidak praktis. Jika kondisi ini dibiarkan, bukan tidak mungkin kita menghadapi generasi yang cepat menerima informasi, tetapi lambat mengolahnya. Sangat meresahkan dan menyesakkan bagi kami, mengajar di kelas sama dengan mengajar dengan robot, karena mereka hanya terbiasa menerima perintah tanpa berpikir kritis.

Inovasi yang kami pikirkan bersama ini: Gerbin, hadir seperti oase kecil di tengah situasi tersebut. Siswa didorong untuk menulis, membaca karya sendiri, baik puisi atau karya lainnya, berpantun. Serta berani menyampaikan pendapat di hadapan teman-temannya. Kegiatan ini tampak sederhana. Tetapi, dapat menumbuhkan keberanian untuk tampil, keberanian untuk mencoba, dan kepercayaan diri untuk berkarya. Lebih dari itu, interaksi antara siswa dan guru pun menjadi lebih hangat; bahasa menjadi jembatan yang mendekatkan, bukan sekadar materi pelajaran yang harus dihafal. Pemandangan setiap pagi di hari Jumat, menjadi hal menyenangkan dilihat.

Kepala madrasah, Bapak Munawar Efendi, menegaskan bahwa pembiasaan membaca dan menulis bukan hanya bertujuan meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga membangun karakter. Membaca melatih kesabaran, menulis melatih ketekunan, dan berbicara melatih keberanian. Ketiganya adalah fondasi yang tidak bisa dibangun secara instan, tetapi harus dilatih melalui kebiasaan yang konsisten.

Ironisnya, di luar lingkungan sekolah kita sering melihat toko buku yang semakin sepi, perpustakaan yang dipenuhi buku-buku lama yang jarang disentuh, seakan-akan buku mulai kehilangan tempat di tengah kehidupan modern. Padahal sejak dahulu para ulama mengingatkan, khairu jalīsin fī az-zamān kitābun—sebaik-baik teman sepanjang zaman adalah buku. Buku tidak hanya memberi informasi, tetapi juga melatih cara berpikir, memperluas sudut pandang, dan menumbuhkan kedewasaan intelektual.

Gerbin mengingatkan kita bahwa membaca bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan bagian dari peradaban. Perintah pertama dalam Al-Qur’an adalah Iqra’—bacalah. Namun membaca saja tidak cukup; membaca harus diiringi kemampuan berpikir kritis, memahami makna, dan menumbuhkan kesadaran. Tanpa itu, masyarakat hanya menjadi kumpulan pembaca yang hafal teks, tetapi tidak mampu menafsirkan realitas.

Harapannya, kebiasaan yang ditanamkan hari ini tidak berhenti pada rutinitas sekolah. Tidak hanya berhenti, dan hanya dilakukan oleh satu atau dua Madrasah. Tetapi juga menginspirasi sebagai pendidikan karakter, di tengah arus zaman.

Semoga anak-anak kita kelak tumbuh menjadi generasi yang bukan hanya mau membaca, tetapi juga mau berpikir, menulis, dan berkarya. Karena peradaban yang kuat tidak dibangun oleh informasi yang melimpah, melainkan oleh manusia yang terbiasa mengolah pengetahuan dengan kesadaran dan kedalaman berpikir.

 

By Nuhbatul Fakhiroh Maulidia

Kadang membaca, kadang menulis. Karya terbaik, adalah karya selanjutnya. Punya motto: Menuju Akhir Hayat.

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *