Rembulan yang Tidak Bisa Dipaksa Terlihat Menjelang Ramadhan
Oleh: Syafaat
Takdir tidak pernah tunduk pada kalender yang kita rapikan dengan hitungan presisi. Waktu tidak bergerak diluar ketentuan hanya karena tarawih telah disiapkan dan spanduk Ramadan telah digantung. Hilal tidak muncul karena kita sepakat menyebutnya tanggal satu. Ia lahir dalam ketetapan sunyi, berjalan setia pada garis edar yang ditetapkan, dan menampakkan diri hanya ketika takdir mengizinkan, sebab hilal tidak mendengar rapat, tidak membaca keputusan, dan hanya patuh pada sunnatullah.
Di Banyuwangi, ketika saya berdiri melaksanakan salat Subuh, langit seperti lembaran doa yang baru saja dibuka. Birunya masih kemerahan, seakan malu memperlihatkan wajah sepenuhnya. Cahaya belum benar-benar menjadi terang; ia masih bernegosiasi dengan sisa-sisa malam. Di kejauhan, Gunung Ijen hanya tampak sebagai bayang yang khusyuk, seperti makmum yang menunduk dalam saf panjang alam raya. Ayam jantan berkokok dengan percaya diri, seolah ia muazin pertama yang diberi tugas membelah gelap. Suaranya menembus kabut, menegaskan bahwa waktu telah bergeser, bahwa bumi tak pernah lupa berputar. Angin membawa dingin yang bersih. Saya mengangkat tangan, bertakbir, dan di antara desah napas yang tipis, nama Allah meluncur perlahan, seperti embun yang jatuh tanpa suara.
Di saat yang sama, di Saudi Arabia, saudara Muslim kita mungkin baru saja memejamkan mata menikmati tegah malam. Kota-kota di sana masih berselimut malam. Lampu-lampu jalan menyala setia, sementara langitnya tetap hitam pekat, belum disentuh warna fajar. Mereka menutup hari ketika kita membukanya. Mereka menyebut nama Allah dalam sunyi yang lebih dalam, dalam gelap yang belum diganti cahaya. Betapa waktu membuat kita seperti dua halaman kitab yang dibaca pada jam berbeda, tetapi ditulis oleh tangan yang sama. Kita di timur menerima cahaya lebih dahulu. Kita berdiri dalam saf Subuh ketika saudara kita di barat masih memeluk sisa hari. Namun kiblat kita satu. Takbir kita satu. Ayat-ayat yang kita baca sama, meski dibisikkan dalam warna langit yang berbeda.
Di Banyuwangi, cahaya merayap pelan di sela dedaunan, menandai awal hari, awal kerja, awal harap. Di Saudi, malam mungkin masih menjadi selimut panjang yang belum dilipat. Tetapi Tuhan yang kita panggil dalam rakaat-rakaat itu tidak pernah tertukar oleh zona waktu. Dia tidak terikat pada garis bujur. Dia tidak menunggu matahari terbit untuk mendengar doa. Kita memulai hari, mereka menutupnya. Namun di antara awal dan akhir itu, ada satu kesatuan yang tak terpecah: sujud yang sama-sama menempel di bumi. Bumi yang berputar ini memisahkan jam kita, tetapi justru dengan putaran itulah kita belajar bahwa perbedaan adalah cara Allah menunjukkan keluasan-Nya.
Waktu tidak pernah benar-benar seragam, bahkan untuk mereka yang menyembah Tuhan yang sama. Ketika saya telah melaksanakan salat Zuhur di Banyuwangi, saudara saya di Jakarta sekurang-kurangnya baru setengah jam kemudian berdiri menghadap kiblat. Padahal jarak kami bukan lautan. Hanya beberapa derajat bujur yang membuat matahari datang sedikit lebih lambat. Matahari memang terbit dari timur. Ia menyapa yang paling timur lebih dahulu, dan meninggalkan yang paling barat paling akhir. Itulah cara cahaya bekerja: ia tidak adil, tapi ia setia, dan disini juga kita tidak tahu secara pasti di belahan mana pagi di mulai, yang ada hanyalah kesepakatan dimulainya hari. Rembulan yang Tidak Bisa Dipaksa Terlihat Menjelang Ramadhan Kita tidak pernah bisa melihat matahari terbit secara serentak di seluruh dunia. Bahkan azan Subuh pun tidak pernah kumandang dalam satu tarikan napas global. Ia bergelombang, berpindah dari timur ke barat, seperti doa yang diserahkan dari satu tangan ke tangan lain.
Rembulan lebih lembut, tetapi lebih rumit. Ia tidak menyala seperti matahari yang tegas dan terang-terangan. Ia datang dengan cahaya pinjaman, cahaya yang tidak membakar, hanya membelai. Namun justru dalam kelembutannya itu, ia menyimpan teka-teki yang membuat manusia berdebat dari abad ke abad. Rembulan mengitari bumi sebulan sekali, setia tanpa pernah terlambat. Dalam cara pandang kita, ia muncul dari barat menuju timur, pelan, seperti peziarah yang tak ingin mengganggu kesunyian malam. Setiap putarannya seperti tasbih yang tak terdengar. Setiap fasenya adalah ayat yang ditulis di langit.
Hilal atau bulan sabit muda pertama setelah konjungsi, setelah ijtimak, adalah isyarat yang ditunggu-tunggu. Ia bukan sekadar lengkung cahaya; ia adalah tanda dimulainya hitungan baru. Setelah matahari tenggelam di ufuk barat, ketika langit masih menyimpan jingga terakhirnya, hilal berusaha menampakkan diri. Tipis, nyaris tak percaya diri, seperti senyum pertama seorang bayi yang baru belajar menyapa dunia. Konjungsi atau ijtimak adalah saat matahari, bulan, dan bumi berada dalam satu garis lurus kosmis, sebuah pertemuan yang sunyi, tak kasatmata oleh mata awam. Pada saat itulah bulan “lahir” kembali dalam hitungan astronomi. Tetapi kelahiran itu tidak selalu segera terlihat. Ada jeda antara ada dan tampak. Ada jarak antara wujud dan kesaksian, kita bisa menghitungnya secara presisi, namun masih juga ada perbedaan dalam derajat berapa dianggap terlihat.
Maka bisa jadi, di satu negeri hilal telah tampak sebagai garis tipis yang menggetarkan dada para perukyat. Takbir pun bersiap dikumandangkan. Sementara di negeri lain, pada petang di hari yang yang sama, langit masih kosong. Ufuk barat bersih tanpa sabit cahaya. Bulan telah ada dalam hitungan tipis, tetapi belum hadir dalam pandangan. Di situlah manusia belajar rendah hati: bahwa tidak semua yang ada bisa segera dilihat. Ada yang telah bersuka cita menyambut Ramadan, menata niat dan menyiapkan sahur pertama. Ada pula yang masih menggenapkan Sya’ban menjadi tiga puluh hari, menunggu dengan sabar, karena sabda Nabi mengajarkan: jika tak terlihat, sempurnakan hitungan. Yang satu memulai puasa esok hari, yang lain lusa. Namun keduanya sama-sama berdiri di hadapan Tuhan yang sama.
Rembulan memang lembut, tetapi peredarannya mengandung hukum yang tegas. Ia tidak muncul karena kita mendesaknya dengan kalender. Ia tidak bersembunyi karena kita belum siap. Ia hanya taat pada garis edarnya, pada sunnatullah yang tak pernah berubah. Dan mungkin, di balik kerumitan itu, tersimpan pelajaran yang lebih dalam: bahwa perbedaan awal bukanlah perbedaan tujuan. Hilal yang tampak di ufuk barat mana pun tetaplah penanda bulan yang sama. Ramadan yang dimulai hari ini atau esok tetaplah bulan yang sama. Cahaya yang tipis itu tetap berasal dari sumber yang sama. Rembulan mengitari bumi, tetapi sesungguhnya ia juga mengitari kesadaran kita, mengajak kita memahami bahwa dalam yang samar ada kepastian, dalam yang berbeda ada kesatuan, dan dalam garis tipis cahaya itu ada rahmat yang tak pernah putus.
Kita diciptakan berbeda. Perbedaan bukan cacat produksi, melainkan tanda tangan Pencipta. Namun manusia selalu memiliki hasrat untuk menyamakan. Kita ingin satu tanggal, satu pengumuman, satu hari raya yang dirayakan bersama. Kita ingin dunia Islam bangun dalam satu pagi yang sama, takbir berkumandang dalam satu tarikan serentak. Dari hasrat itulah lahir gagasan tentang Kalender Hijriah Global Tunggal, sebuah upaya menyatukan waktu, agar Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha jatuh pada hari yang sama di seluruh dunia.
Keinginan itu bukan tanpa landasan. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman dalam Surah Yunus ayat 5:
“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.”
Ayat itu seperti pengingat halus: waktu bukan milik kita. Ia telah diatur. Matahari dan bulan bukan benda bebas; keduanya berjalan dalam sistem ilahi. Perhitungan waktu adalah bagian dari ketaatan. Rasulullah pun memberi pedoman yang sangat membumi: “Berpuasalah kamu karena melihat bulan dan berbukalah kamu karena melihat bulan. Jika tidak terlihat, maka genapkanlah Sya’ban tiga puluh hari.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini sederhana, tetapi melahirkan tafsir yang panjang. Sebagian menekankan rukyat, melihat langsung hilal. Sebagian lain mengandalkan hisab, perhitungan astronomi yang presisi. Dan di Indonesia, kita mengenal keduanya. Ada Rukyatul Hilal dengan kriteria MABIMS; ada pula Hisab Hakiki Wujudul Hilal sebagaimana dipedomani oleh beberapa ormas Islam. Yang satu berdiri di tepi pantai menatap ufuk; yang lain duduk di depan tabel astronomi, menghitung derajat demi derajat. Keduanya sama-sama ingin patuh. Di sinilah letak paradoksnya: kita ingin satu, tetapi kita berdiri di tempat yang berbeda. Kita ingin seragam, tetapi kita memandang langit dari sudut yang tidak sama.
Kalender Hijriah Global Tunggal mencoba menjembatani perbedaan itu dengan hisab yang konsisten dan batas wilayah global yang menyatu. Secara rasional, ia memudahkan: hari libur bisa ditetapkan jauh-jauh hari secara tepat, dunia Islam bisa bergerak dalam satu kepastian. Tidak ada lagi kebingungan, tidak ada lagi dua kali takbir dalam satu kota. Namun rembulan tetaplah rembulan. Ia tidak berubah karena keputusan konferensi. Pertanyaannya mungkin bukan: bisakah kita menyamakan tanggal? Tetapi: mampukah kita menerima bahwa keseragaman bukan satu-satunya bentuk persatuan? Sebab boleh jadi persatuan tidak selalu berarti serentak. Azan yang bergelombang dari timur ke barat tetaplah satu azan. Puasa yang dimulai berbeda jam tetaplah satu ibadah. Matahari yang menyinari bumi secara bergantian tetaplah satu matahari.
Kita sering lupa bahwa Tuhan menciptakan perbedaan bukan untuk dipaksa menjadi sama, melainkan untuk dipahami. Jika di Banyuwangi saya telah berbuka, dan di Jakarta saudara saya masih menunggu azan Magrib, itu bukan perpecahan. Itu hanya rotasi bumi karena di Banyuwangi pagi datang setengah jam lebih awal dari Jakarta. Begitu pula ketika satu negeri telah melihat hilal dan negeri lain belum. Itu bukan berarti iman mereka tertunda. Itu hanya berarti ufuk mereka berbeda.
Kalender Hijriah Global Tunggal adalah ikhtiar, dan setiap ikhtiar adalah bentuk cinta pada keteraturan. Tetapi cinta pada keteraturan tidak boleh membuat kita lupa pada hakikat: bahwa waktu bergerak dalam sunyi, dan bulan muncul bukan karena kita memanggilnya. Barangkali yang paling penting bukanlah apakah kita berpuasa dan berhari raya pada hari yang sama, tetapi apakah kita saling menghormati ketika berbeda. Sebab Tuhan yang mengatur manzilah bulan itu juga yang menciptakan garis bujur dan garis lintang. Kita memang tidak bisa memaksa rembulan untuk muncul sempurna pada tanggal satu. Tetapi kita bisa memaksa diri kita untuk lebih lapang menerima perbedaan.
Penulis adalah ASN / Ketua Lentera Sastra Banyuwangi
