Anomali Soal Tanpa Bobot
Oleh : Briliana Gritiasari (MTsN 2 Banyuwangi)
Dua bulan terakhir hidupku terasa seperti terowongan gelap yang ujungnya hanya TKA. Aku melahap puluhan buku, menuntaskan puluhan bank soal, menghabiskan ribuan latihan soal, sampai tidak ada lagi materi yang tertinggal. Aku sudah hafal betul trik rumus cepat, tahu persis kapan harus berpikir lateral. Namun, malam sebelum tes, sebuah bayangan aneh muncul. Aku merancang ujian secara mandiri pada momen ujian pamungkas, satu tipe soal berisi logika analitis, tentang pergeseran pola bilangan yang rumit, benar-benar anomali, tak pernah ada di bank soal mana pun. Aku gelisah susunan bilangannya melampaui rumus-rumus biasa, membuat mataku perih mencari pemecahan soal sampai dini hari. Aku berusaha melupakan dan menyingkirkannya dari benakku. Mencoba menenangkan diri bahwa soal ajaib ini fiksi, yang tidak pernah muncul di lembar soal besok.
Aku melaju dengan penuh percaya diri pada keheningan ruang ujian. Semua materi yang aku pelajari terbayar lunas, hingga aku mencapai bagian akhir, di bagian akhir, sontak mataku membelalak. Soal Logika Analitis itu muncul, persis seperti bayangan semalam, jantungku langsung berdegup kencang rasa cemas yang aku rasakan. Aku mencoba menerapkan semua teoriku, tapi pola bilangan itu seolah
menertawakan semua rumusan. Waktu tersisa tinggal lima menit, dan satu soal ini mengancam merusak keseluruhan usahaku selama dua bulan terakhir. Tiba-tiba aku melihat sebuah petunjuk visual, angka-angka prima ke kanan, genap ke kiri. Ini bukan soal perhitungan, ini ujian melihat bentuk!
Aku akhirnya bisa bernafas lega, menyadari jebakan psikologis yang sangat menguras tenaga di balik soal itu. Aku segera beralih fokus dan berhasil memecahkannya di detik- detik akhir. Kemenangan kecil ini adalah kunci. Saat hasil TKA datang seminggu kemudian, aku meraih skor terbaik dan sempurna. Kerja keras selama dua bulan membuahkan hasil yang berbanding lurus. Tapi kebahagiaan itu tercoreng oleh catatan di lembar hasil “Soal yang melibatkan Logika Analitis (40-45) adalah dummy question dan tidak mempengaruhi nilai akhir.” Ternyata soal yang kupikir adalah penentu nasibku itu tidak bernilai sepeserpun.
MTsN 2 BANYUWANGI
