Antara Kasih dan Luka
Oleh : Meisha Amelia Prastika
MTsN 2 Banyuwangi
Hari itu seharusnya menjadi hari yang paling membahagiakan bagiku. Aku bangun pagi sekali dengan perasaan senang dan antusias karena pada saat itu adalah hari ulang tahunku. Tapi, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Di hari yang sama sikap ibuku berubah. Suaranya menjadi mudah marah dan sering berteriak. Sejak saat itu, suasana rumah terasa berbeda.
Hari demi hari, ibuku semakin sering marah tanpa alasan yang jelas. Teriakannya membuatku takut dan tidak nyaman berada di dekatnya. Aku belajar diam, menahan diri, dan bersikap hati-hati agar tidak membuat ibuku semakin emosi. Aku juga mulai menghabiskan waktu lebih lama di kamar. Rumah yang dulu terasa hangat kini terasa menegangkan.
Semakin sering ibuku marah, aku semakin menjauh darinya. Aku merasa kesal, tetapi juga merasa bersalah. Aku membenci suara teriakannya menggema dalam telingaku, namun sedih melihat wajahnya yang lelah. Suatu hari, aku menemukan sebuah surat di dalam laci kamarnya. Surat itu, bertanggal tepat di hari ulang tahunku. Isinya tentang rasa kehilangan besar yang ia sembunyikan demi tersenyum untukku. Saat itu aku sadar, ulang tahunku bukan penyebab kehancurannya, melainkan hari terakhir ia berpura-pura kuat sendirian.
