Geber BBM dan Nyala Gotong Royong Menjemput Ramadhan
Oleh : Syafaat
Di ambang Ramadan, masjid dan musala kembali berdenyut oleh langkah-langkah rindu. Mereka yang jarang bersujud pun seakan dipanggil oleh cahaya tarawih. Saf merapat, doa mengalir, meski sebagian kelak surut seperti ombak yang kembali ke laut. Namun Ramadan tetap menjadi musim semi bagi jiwa yang ingin bertunas. Dan sebelum takbir pertama menggema, para takmir telah berpeluh menyapu dan mengelap, bukan demi pujian, melainkan demi memuliakan rumah Allah bagi para tamu-Nya. Dalam sukacita menyambut bulan suci, tersimpan ibadah yang sunyi: membersihkan masjid seraya menjernihkan hati. Setiap debu yang disingkirkan adalah tanda bahwa jiwa pun ingin kembali bening di hadapan-Nya.
Ramadan tidak pernah datang sendirian. Ia selalu diiringi oleh sapu yang digerakkan dengan ikhlas, oleh air yang mengalir membasuh lantai-lantai masjid, oleh tangan-tangan yang saling bersalaman sebelum azan pertama maghrib di bulan suci itu berkumandang. Sejak lama, umat Islam di Indonesia mengenal gerakan bersih-bersih masjid sebagai laku batin, bukan sekadar kerja bakti, tetapi kesadaran ruhani yang telah lama bersemayam dalam nadi bangsa.
Budaya Roan (atau sering pula ditulis Ro’an) terutama di Jawa bukan sekadar tradisi gotong royong membersihkan lingkungan di kalangan pondok pesantren. Ia adalah madrasah sunyi yang mengajarkan bahwa kebersihan bukan hanya perkara sapu dan air, melainkan peristiwa penyucian jiwa. Menjelang bulan suci Ramadan, ketika angin Sya’ban mulai berembus pelan dan langit seperti memberi tanda akan datangnya tamu agung, para remaja masjid bergerak serempak. Tangan-tangan muda itu menggenggam sapu, cangkul, dan lap, tetapi hati mereka menggenggam niat. Roan dilakukan bersama-sama: membersihkan halaman, menyapu masjid, hingga membersihkan pemakaman umum.
Di Sumatra Barat, masyarakat Minangkabau mengenalnya dengan istilah Bakuras, sebuah kata yang berarti membersihkan secara total hingga ke sudut-sudut yang paling sulit dijangkau. Bakuras bukan sekadar aktivitas menjelang Ramadan. Ia adalah manifestasi kolektif dari falsafah hidup Minang: adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Dalam khazanah yang pernah dihidupkan oleh A.A. Navis melalui ungkapan “Alam Takambang Jadi Guru”, masyarakat Minangkabau memandang masjid bukan hanya ruang sujud, tetapi pusat peradaban, tempat bermusyawarah, tempat membangun jati diri, dan menegakkan marwah kaum. Karena itu, memastikan masjid dalam keadaan bersih, suci, dan wangi adalah menjaga kehormatan bersama. Debu di lantai bukan sekadar kotoran, melainkan isyarat bahwa harga diri sedang diabaikan.
Di ambang Ramadan, ketika langit Sya’ban mulai beringsut pelan dan udara petang terasa lebih hening dari biasanya, para takmir telah lebih dahulu terjaga dalam kesibukan yang tak banyak diketahui orang. Sebelum gema takbir pertama menggetarkan malam, sebelum azan maghrib hari pertama puasa menyentuh langit dengan getarannya yang syahdu, mereka sudah berpeluh dalam diam. Sapu bergerak perlahan di atas lantai yang lama tak tersentuh. Kain lap menyeka kaca jendela, membiarkan cahaya kelak masuk tanpa terhalang noda. Karpet-karpet dijemur di bawah matahari, seolah disucikan kembali agar layak menjadi alas sujud. Tempat wudu dibersihkan, kran-kran diperiksa, selokan dilancarkan agar air mengalir tanpa ragu. Tidak ada kamera yang menyorot tangan-tangan itu. Tidak ada tepuk tangan yang menunggu di ujung kerja. Namun justru di situlah rahasianya: kebersihan yang lahir dari niat, bukan dari kebutuhan akan pengakuan.
Yang sesungguhnya mereka bersihkan bukan hanya debu di lantai atau daun kering di halaman. Dalam setiap ayunan sapu, ada latihan kerendahan hati. Dalam setiap karpet yang diangkat, ada ego yang diturunkan. Tradisi Roan di pesantren-pesantren, atau Bakuras di ranah Minang, bukan sekadar kerja bakti menjelang bulan suci. Ia adalah madrasah sunyi yang mengajarkan bahwa kemuliaan tidak tumbuh dari mimbar, melainkan dari kesediaan untuk menunduk. Seorang remaja masjid yang kelak mungkin akan berdiri memberi nasihat, hari itu membersihkan selokan dengan tangan kotor. Seorang yang terbiasa membaca kitab, hari itu mengangkat sampah tanpa merasa hina. Di sanalah ilmu menemukan akarnya: bahwa kehormatan sejati lahir dari pelayanan, bukan dari pujian.
Roan dan Bakuras menjadi tafsir hidup dari sabda Nabi tentang kebersihan sebagai bagian dari iman. Ia menanamkan kesadaran bahwa ibadah bukan hanya urusan pribadi antara hamba dan Tuhannya, melainkan juga tanggung jawab sosial. Tidak ada yang bekerja sendiri. Sapu yang diayunkan satu orang akan sia-sia tanpa tangan lain yang mengangkut sampah. Air yang dituangkan tak berarti tanpa yang membersihkan saluran. Begitulah umat diajarkan untuk kuat, bukan karena berdiri sendiri, melainkan karena bergerak bersama. Di halaman masjid yang bersih, di lantai yang wangi, di udara yang terasa lebih lapang, tersimpan pesan sunyi: sebelum membersihkan dunia di luar, bersihkanlah dirimu di dalam. Sebab Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang menundukkan diri, agar hati layak menjadi tempat turunnya cahaya.
Ada pula tradisi Nyekar (ziarah ke makam leluhur) yang tak pernah absen dalam kalender batin masyarakat Jawa. Dengan membawa bunga dan air, masyarakat membersihkan makam, menundukkan kepala, mengirim doa. Nyekar bukan sekadar ritual budaya, melainkan pengingat bahwa hidup adalah perjalanan singkat menuju keabadian. Sebelum memasuki Ramadan, bulan penyucian diri bagi umat Islam, manusia diajak menengok akar asal-usulnya. Kita berpuasa bukan hanya untuk menahan lapar, tetapi untuk menyadari bahwa suatu hari kita pun akan menjadi nama yang didoakan.
Gerakan Bersama Bersih-bersih Masjid (Geber BBM) yang dikumandangkan kembali secara serempak menjelang Ramadan oleh Kementerian Agama sesungguhnya menyambungkan simpul-simpul kearifan lokal dari berbagai penjuru Nusantara. Ia bukan program yang jatuh dari langit birokrasi, melainkan gema dari tradisi yang telah hidup lama dalam masyarakat. Negara hanya mengetuk kembali pintu kesadaran yang sebenarnya tak pernah benar-benar tertutup. Indonesia merawat Ramadan bukan hanya dengan kalender, tetapi dengan kerja kolektif, dengan gotong royong, dengan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun. Dari Sumatra hingga Jawa, dari surau kecil hingga masjid raya, umat Islam menjemput bulan suci dengan satu kesadaran: membersihkan rumah Allah berarti sedang belajar membersihkan diri sendiri. Sebab pada akhirnya, yang paling membutuhkan kebersihan bukanlah lantai masjid, melainkan hati manusia. Dan Ramadan datang setiap tahun untuk mengingatkan: sebelum menghadap Tuhan, sapulah dulu debu di dalam diri.
Bisa di bayangkan, di berbagai penjuru negeri, dari surau kecil di tepian sawah hingga masjid raya di tengah kota, Geber BBM Kementerian Agama menyatu dengan Roan, dengan Bakuras, dengan tradisi-tradisi lain yang mungkin berbeda nama tetapi sama makna. Negara dan rakyat bertemu di titik yang sama: sapu yang digerakkan bersama. Ketika masjid dibersihkan melalui Geber BBM, seharusnya itu menjadi cermin: sudahkah hati kita dibersihkan dari prasangka? Sudahkah kita menyapu sisa-sisa kesombongan yang menempel diam-diam?
Masjid yang bersih memudahkan kita khusyuk. Tetapi hati yang bersih memudahkan kita tulus. Indonesia memiliki kekayaan kearifan lokal yang luar biasa dalam menyambut Ramadan. Gotong royong bukan sekadar slogan. Ia adalah napas. Dari desa hingga kota, dari pesantren hingga kantor pemerintahan, orang-orang bergerak bersama. Bahkan aparatur sipil negara, melalui Geber BBM Kementerian Agama, ikut turun tangan. Di sana ada pesan penting: ibadah bukan monopoli ruang privat. Ia menembus sekat birokrasi.
Ramadan tidak mengenal strata sosial. Di hadapan sajadah, semua setara. Di hadapan sapu, semua pun setara. Tidak ada jabatan yang terlalu tinggi untuk membersihkan lantai masjid. Tidak ada gelar yang terlalu mulia untuk mengangkat karpet. Geber BBM Kementerian Agama adalah salah satu cara kita berkata kepada Ramadan: kami menyambutmu dengan kesiapan. Tetapi lebih dari itu, ia adalah cara kita berkata kepada diri sendiri: kami ingin berubah.
Sebab pada akhirnya, yang paling membutuhkan kebersihan bukan hanya lantai masjid, melainkan hati manusia. Lantai yang kotor masih bisa disapu dalam hitungan menit. Tetapi hati yang kotor membutuhkan kesungguhan, doa, dan keberanian untuk mengakui kesalahan. Ramadan datang setiap tahun untuk mengingatkan bahwa hidup ini sementara. Bahwa kita pun suatu hari akan menjadi nama yang disebut dalam doa, seperti leluhur yang diziarahi. Maka sebelum itu tiba, bersihkanlah apa yang bisa dibersihkan. Karena ketika dahi menyentuh lantai yang bersih, doa akan lebih mudah mengalir. Dan ketika hati dalam keadaan bening, Ramadan tidak lagi sekadar bulan dalam kalender, melainkan cahaya yang menetap, bahkan setelah ia pergi. Di sanalah kita belajar: membersihkan masjid adalah latihan. Membersihkan diri adalah tujuan. Dan Ramadan adalah jembatan yang setiap tahun memberi kita kesempatan untuk menyeberang, dari diri yang lama menuju diri yang lebih bercahaya.
Penulis adalah ASN / Kelua Lentera Sastra Banyuwangi
