Lentera Sastra Banyuwangi

Rukyatul Hilal di Pantai Pancur, Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh 19 Februari 2026

Oplus_16908288
  • BANYUWANGI (Lentera Sastra) Langit senja di Pantai Pancur, kawasan Taman Nasional Alas Purwo, Selasa (17/02/2026), diselimuti mendung. Matahari tak menampakkan diri hingga ufuk barat tenggelam dalam kelabu. Meski demikian, pelaksanaan rukyatul hilal untuk menentukan awal Ramadan 1447 Hijriah tetap berlangsung khidmat dan penuh harap.
    Kegiatan yang digelar Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi itu dihadiri Kepala Kantor Kemenag Banyuwangi Chaironi Hidayat, jajaran Pengadilan Agama Banyuwangi yang melaksanakan sidang di tempat, para perwakilan kampus PTAI se-Banyuwangi, serta unsur organisasi kemasyarakatan Islam. Rukyatul hilal dipimpin Gufron Musthofa, Kepala KUA Kecamatan Cluring, dengan pengamatan menggunakan alat optik di tepi pantai.
    Namun, kondisi cuaca yang mendung menyebabkan matahari tidak terlihat hingga waktu magrib, sehingga hilal tidak dapat teramati secara visual. Hasil rukyat dari Banyuwangi selanjutnya dilaporkan sebagai bahan pertimbangan dalam Sidang Isbat penetapan awal Ramadan oleh pemerintah.
    Dalam sambutannya, Chaironi Hidayat mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan potensi perbedaan penetapan awal Ramadan sebagai hikmah, bukan sumber perpecahan.
    “Kita jadikan atensi bersama. Jangan sampai apabila terjadi perbedaan antara satu kelompok dengan kelompok yang lain, perbedaan itu kita jadikan konflik. Ilmu Allah sangat luas. Mana yang benar itu urusan Allah. Tugas kita adalah berupaya semaksimal mungkin agar apa yang kita lakukan mendekati kebenaran menurut keyakinan kita masing-masing,” ujarnya.
    Ia menegaskan, perbedaan dalam menentukan awal puasa tidak semestinya menjadi alasan pertentangan. Selama sama-sama menjalankan ibadah puasa, menurutnya, semua berada dalam koridor ketaatan.
    “Yang salah itu bukan yang berbeda. Jangan sampai perbedaan kecil ini kita besarkan menjadi konflik. Bagaimana mungkin kita bermusuhan karena perbedaan tanggal, sementara masih ada saudara kita yang belum salat, belum zakat, bahkan belum berpuasa,” tegasnya.
    Chaironi juga mengingatkan pentingnya menjaga kondusivitas Banyuwangi serta merawat suasana damai di tengah masyarakat.
    Sementara itu, pemerintah melalui Sidang Isbat menetapkan 1 Ramadan 1447 H/2026 M jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Penetapan tersebut didasarkan pada hasil Sidang Isbat yang dipimpin Menteri Agama Nasaruddin Umar di Hotel Borobudur, Selasa (17/2/2026).
    “Sidang Isbat menyepakati bahwa 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026,” ujar Menag dalam konferensi pers usai sidang.
    Keputusan itu mengacu pada hasil hisab dan rukyat yang dilakukan Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama bersama ormas-ormas Islam, serta laporan petugas pengamat di 96 titik pengamatan di seluruh Indonesia. Berdasarkan paparan, ketinggian hilal di seluruh wilayah NKRI berada di bawah ufuk dengan rentang antara -2,41° hingga -0,93°, sedangkan sudut elongasi berkisar antara 0,94° hingga 1,89°. Posisi tersebut belum memenuhi kriteria visibilitas hilal MABIMS, yakni tinggi minimum 3° dan elongasi minimum 6,4°.
    “Dengan demikian, secara astronomis hilal belum mungkin terlihat,” jelas Menag.
    Ia berharap keputusan tersebut memungkinkan umat Islam di Indonesia memulai ibadah puasa secara bersama-sama, sekaligus menjadikan momentum Ramadan sebagai simbol kebersamaan dan persatuan

By redaksi

Lentera Sastra Banyuwangi merupakan wadah Literasi, Seni dan Budaya Banyuwangi dan Indonesia

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *