🌿 Berkata Baik atau Diam: Cermin Iman di Zaman Media Sosial
Hadis ke-15 dalam kitab Arba’in an-Nawawiyah karya Imam an-Nawawi adalah sabda agung yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam. Dan hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan hendaklah ia memuliakan tamunya.”
Sabda ini telah diucapkan oleh Muhammad lebih dari lima belas abad yang lalu. Namun anehnya, justru terasa semakin relevan hari ini — di zaman jempol lebih cepat daripada akal, dan komentar lebih deras daripada doa.
Iman Bukan Sekadar Pengakuan
Rasulullah tidak mengatakan, “Barangsiapa yang beriman, maka ia bebas berbicara apa saja.”
Tidak. Beliau memberi batas yang tegas: berkata baik atau diam.
Artinya, iman bukan hanya pengakuan lisan. Iman itu terukur. Salah satu alat ukurnya adalah cara kita berbicara.
Hari ini, berbicara tidak lagi hanya lewat mulut. Ia menjelma menjadi status, caption, komentar, unggahan, dan pesan berantai. Jika dahulu orang berdosa karena lisannya, kini orang bisa berdosa hanya karena jarinya.
Media sosial adalah panggung besar. Tetapi iman menuntut kita tetap rendah hati di atasnya.
Jika tidak mampu menulis yang baik, maka diam adalah kemuliaan.
Jika tidak mampu menenangkan, jangan menambah keruh.
Jika tidak mampu menguatkan, jangan melemahkan.
Diam, dalam banyak keadaan, adalah bentuk kecerdasan spiritual.
Algoritma dan Ujian Iman
Kita hidup di zaman ketika sesuatu yang negatif sering lebih cepat viral daripada kebaikan. Konten yang memancing emosi lebih laku daripada nasihat yang meneduhkan. Sindiran lebih ramai daripada doa.
Di sinilah hadis ini menguji kita.
Apakah kita ingin menjadi bagian dari keramaian yang gaduh?
Ataukah menjadi pribadi yang tenang meski tidak populer?
Iman kepada hari akhir berarti sadar bahwa setiap kata dicatat. Bukan oleh server digital, tetapi oleh malaikat pencatat amal. Setiap huruf yang kita tulis akan dipertanggungjawabkan.
Jika seseorang benar-benar yakin ada hari pembalasan, ia tidak akan sembrono dalam berbicara.
Memuliakan Tetangga: Iman yang Bersifat Sosial
Rasulullah melanjutkan hadis itu dengan pesan kedua: memuliakan tetangga.
Ini menarik. Setelah urusan lisan, langsung urusan sosial.
Islam bukan agama yang hanya mengatur hubungan vertikal dengan Allah. Ia juga mengatur hubungan horizontal dengan manusia. Seseorang tidak bisa mengaku saleh jika tetangganya justru merasa terganggu olehnya.
Dalam kehidupan modern, “tetangga” bisa berarti banyak hal:
- Tetangga rumah,
- Rekan kerja,
- Bahkan sesama pengguna media sosial.
Memuliakan tetangga berarti tidak menyakiti.
Tidak mengganggu.
Tidak menyebar fitnah yang membuat suasana tidak nyaman.
Jika ingin tahu seseorang itu baik atau tidak, jangan tanya kepada dirinya. Tanyalah kepada tetangganya. Karena tetanggalah yang paling tahu bagaimana perilaku sehari-harinya.
Memuliakan Tamu: Iman yang Menghidupkan Kehangatan
Pesan ketiga: memuliakan tamu.
Ulama berbeda pendapat tentang durasi kewajiban memuliakan tamu. Ada yang mengatakan satu hari satu malam, ada yang mengatakan tiga hari. Namun intinya bukan pada lamanya, melainkan pada keikhlasan.
Memuliakan tamu tidak harus mewah. Tidak harus hidangan mahal. Yang utama adalah keramahan dan kehangatan.
Kadang orang merasa terhormat bukan karena makanannya, tetapi karena sikap tuan rumahnya.
Iman itu terlihat dalam hal-hal kecil:
cara menyambut,
cara mempersilakan duduk,
cara tersenyum.
Hadis Pilihan, Bukan Sembarangan
Perlu kita ingat, hadis ini bukan hadis biasa. Ia dipilih oleh Imam an-Nawawi dari ratusan ribu hadis yang diriwayatkan. Arba’in an-Nawawiyah berisi 42 hadis inti yang menjadi fondasi ajaran Islam.
Hadis-hadis di dalamnya adalah hadis-hadis sahih, kuat sanadnya, terpercaya periwayatnya. Ini bukan nasihat motivasi biasa. Ini sabda Nabi yang otentik.
Dan menariknya, hadis ini tidak berbicara tentang tata cara shalat, puasa, atau zakat. Ia berbicara tentang akhlak.
Seakan Rasulullah ingin menegaskan:
agama bukan hanya ritual,
agama adalah karakter.
Abu Hurairah dan Kesaksian Kesederhanaan
Salah satu perawi hadis ini adalah sahabat mulia Abu Hurairah. Nama aslinya adalah Abdurrahman bin Shakhr. Ia dikenal sebagai “bapak kucing kecil” karena kecintaannya pada kucing.
Ia bukan orang kaya. Ia hidup sederhana. Bahkan pernah menahan lapar. Tetapi justru dari orang-orang sederhana seperti inilah hadis-hadis Nabi sampai kepada kita.
Ia menyertai Rasulullah dengan sepenuh hati. Menghafal, menyaksikan, dan meriwayatkan. Dari lisannya, kita hari ini mengenal pesan tentang berkata baik atau diam.
Bayangkan, jika ia tidak menjaga hafalannya, mungkin kita tidak mendengar hadis ini hari ini.
Refleksi untuk Kita
Mari jujur pada diri sendiri.
Sudahkah kita menjaga lisan?
Sudahkah kita menjaga tulisan?
Sudahkah kita memuliakan tetangga?
Sudahkah kita memuliakan tamu?
Iman tidak selalu terlihat dari panjangnya doa.
Ia sering terlihat dari pendeknya komentar negatif.
Iman tidak selalu terdengar dari kerasnya ceramah.
Ia sering terasa dari lembutnya sikap.
Hadis ke-15 ini seperti cermin. Ia memantulkan wajah kita yang sebenarnya. Apakah kita benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir? Ataukah iman kita masih sebatas pengakuan tanpa pengendalian diri?
Di zaman digital ini, mungkin makna “berkata baik atau diam” bisa kita terjemahkan menjadi:
- Posting yang bermanfaat atau tidak usah posting.
- Komentar yang menenangkan atau tidak usah berkomentar.
- Sebarkan kebaikan atau simpan dalam draft.
Karena pada akhirnya, bukan jumlah pengikut yang akan ditanya.
Bukan jumlah like yang akan ditimbang.
Tetapi kata-kata kita.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang ketika berbicara menebar kebaikan, ketika diam menyimpan hikmah, ketika bertetangga menghadirkan ketenangan, dan ketika menerima tamu menghadirkan keberkahan.
Amin.
