Lentera Sastra Banyuwangi
22 Februari 2026

Berkata dengan Ujung Jari, Media Digital dalam Cermin Hadits Arbain

oplus_0

Berkata dengan Ujung Jari, Media Digital dalam Cermin Hadits Arbain

Oleh : Syafaat

Bakda Dzuhur Ramadan, ketika matahari Banyuwangi jatuh lembut di halaman kantor, di Masjid Ar Royan, sebuah kitab tipis kembali dibuka. Kitab itu tidak tebal, tetapi bobotnya melampaui zaman: Al-Arba’in An-Nawawiyah karya Imam An-Nawawi,  ulama besar hadis dan fiqih Mazhab Syafi’i terkemuka, dengan nama lengkap Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi. Beliau lahir di Nawa, Damaskus (Suriah), (631-676 H/1233-1278 M), dikenal sebagai ahli ibadah yang wara’, produktif menulis kitab seperti Arbain NawawiRiyadhus Shalihin, dan Syarah Shahih Muslim

Yang menyampaikannya bukan sekadar seorang ustaz yang bersila di serambi pesantren, dengan kitab terhampar dan tasbih berayun pelan di jemari. Ia berdiri sebagai pemimpin di hadapan orang-orang yang dipimpinnya, Dr. Chaironi Hidayat, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, namun pada saat yang sama ia merendahkan diri sebagai sesama penuntut cahaya.

Di hadapannya, kajian tak lagi menjadi rutinitas yang datang dan pergi bersama dentang waktu. Ia menjelma nur yang menetes perlahan ke relung hati. Bukan sekadar ceramah yang menggema lalu larut bersama angin, melainkan cermin bening yang diam-diam memantulkan wajah batin kami, menyibakkan debu-debu yang lama tak tersentuh. Dengan mengutip hadis-hadis dalam Arba’in dan sumber-sumber hikmah para ulama, yang beliau sampaikan bukanlah petuah kering dari atasan kepada bawahan. Ia terasa seperti nasihat seorang ayah kepada anaknya; kadang seperti obrolan hangat saat gesah ngopi di bawah payung besar halaman kantor—akrab, mengayomi, namun tetap tegak dalam kebenaran. Dengan rendah hati ia menyadari, yang disampaikan belum tentu telah sempurna diamalkan, sebab majelis itu bukan panggung merasa paling benar, melainkan ruang belajar bersama, tempat kita saling meneguhkan langkah. Ada tanggung jawab yang tak hanya bertumpu pada struktur jabatan, tetapi berakar pada kesadaran spiritual. Setiap petikan hadis seakan mengetuk pintu batin yang lama terdiam, mengajak kami menimbang iman bukan dari kefasihan lisan, bukan pula dari tinggi rendahnya kedudukan, melainkan dari kejujuran dalam meneladani.

Saya hanyalah satu di antara jamaah yang duduk bersimpuh, sambil membiarkan kantuk siang berlalu, mendengar dengan sisa-sisa kesadaran orang yang sedang berpuasa. Tak semua kata sempat saya tuliskan, tetapi ingatan berusaha menyimpannya seperti menyimpan doa selepas sujud. Sebab yang sampai bukan hanya makna, melainkan rasa, bahwa kepemimpinan sejati adalah ketika ilmu dan amal berjalan beriringan, dan jabatan menjadi salah satu jalan ibadah, bukan sekadar kehormatan dunia.

Hadits yang dikaji adalah Hadits ke-15:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Sabda itu lahir lima belas abad silam, terucap di padang pasir yang sunyinya hanya ditemani desir angin dan jejak unta. Namun gema maknanya tak pernah lapuk oleh zaman. Ia terasa seakan-akan diturunkan justru untuk hari ini, untuk zaman notifikasi yang tak pernah tidur, untuk era komentar yang berderet lebih cepat daripada detak nurani, untuk dunia algoritma yang sering kali lebih nyaring daripada suara hikmah. Dulu, berkata baik atau diam berarti menjaga mulut, menahan lidah agar tidak melukai, meredam suara agar tak menebar luka. Kini, maknanya meluas, menjelma amanah yang berpindah ke ujung jari. Bukan hanya bibir yang dituntut beradab, tetapi juga jempol dan jemari yang menari di atas layar.

Sebab kata tak lagi sekadar lahir dari rongga mulut. Ia menjelma ketikan. Ia mengalir melalui pesan suara. Ia meluncur dari layar kecil yang digenggam, lalu terbang menembus ruang dan waktu dalam hitungan detik. Sekali tekan, ia bisa menjadi doa yang menguatkan. Sekali kirim, ia bisa menjadi opini yang menggugah. Namun dalam kelengahan yang sama, ia pun bisa memantik emosi, menyulut amarah, bahkan membelah persaudaraan yang telah lama dirajut. Di sinilah iman diuji dengan cara yang berbeda. Bukan hanya pada apa yang kita ucapkan, tetapi pada apa yang kita unggah. Bukan hanya pada suara yang terdengar, tetapi pada jejak digital yang tak mudah terhapuskan.

Semua bergantung pada bagaimana jari-jari memainkannya. Apakah ia menjadi tasbih yang menyebarkan kebaikan, atau menjadi percikan api yang membakar ukhuwah. Sebab pada akhirnya, setiap huruf yang kita lepaskan adalah saksi, di dunia sebagai pantulan diri, di akhirat sebagai catatan yang tak pernah alpa. Di dunia digital, satu kalimat bisa lebih tajam dari pedang. Satu unggahan bisa lebih luas dari mimbar. Maka sabda Rasulullah menjadi sangat relevan: tidak ada opsi ketiga.

Berkata baik. Atau diam.

Tidak ada: “berkata pedas tapi niatnya baik.”

Tidak ada: “menyindir demi dakwah.”

Tidak ada: “menghina demi kebenaran.”

Iman diukur dari kendali.

Di zaman ketika layar lebih sering menyala daripada lampu ruang tamu, media digital bukan lagi sekadar alat, melainkan ruang ujian. Ia bukan ruang hampa hukum, bukan pula lorong sunyi tanpa saksi. Ia adalah ruang tanggung jawab, tempat setiap jejak tersimpan, setiap kata tercatat, dan setiap klik memiliki konsekuensi, seperti yang disampaikan siang itu bahwa kalau tidak dapat mengirim yang menentramkan, setidaknya yang membuat pembacanya tersenyum  dan tertawa.

Bagi seorang Aparatur Sipil Negara, dunia maya bukanlah halaman pribadi yang bebas dari makna. Ia adalah cermin jabatan, bayangan institusi, dan gema dari nama negara yang disandangnya. Di sana, pelayanan yang kurang bijak dapat segera menjelma ulasan di mesin pencarian, tersebar luas tanpa menunggu persetujuan. Layanan tak lagi tersekat jam kerja; ia hidup dua puluh empat jam, sebagaimana publik menaruh harap tanpa jeda. Maka, satu unggahan bernada yang tidak menyenangkan atau mengandung kebencian, bukan sekadar luapan emosi. Ia bisa menjadi bara yang membakar integritas. Satu kabar yang dibagikan tanpa tabayyun bukan sekadar kekeliruan ringan, melainkan potensi pelanggaran hukum. Hoaks yang disebar, data yang dibocorkan, atau keberpihakan politik yang ditunjukkan melalui tanda suka dan komentar, semuanya dapat menjelma pelanggaran netralitas, meruntuhkan kepercayaan, bahkan berujung pada sanksi administratif hingga pidana.

Seorang ASN tidak berjalan sendiri membawa namanya. Ia memikul wibawa negara di pundaknya. Setiap gestur digitalnya dianggap representasi institusi. Menyukai unggahan politik praktis dapat dimaknai sebagai keberpihakan. Menyebarkan kabar tanpa verifikasi dapat tersandung regulasi hukum yang berlaku. Membocorkan dokumen internal bukan hanya soal kelalaian, tetapi bisa mengguncang fondasi kepercayaan publik yang dibangun dengan susah payah. Di sinilah kebijaksanaan diuji. Bukan hanya dalam rapat-rapat resmi, tetapi dalam sunyi ketika jari hendak menekan tombol kirim. Bukan hanya di podium, tetapi di ruang maya yang tak terlihat namun nyata dampaknya.

Media digital sejatinya bisa menjadi ladang amal, ruang pelayanan, dan jalan dakwah nilai-nilai integritas. Namun ia juga bisa menjadi jurang bila digunakan tanpa kendali. Maka bijaklah sebelum berbagi, tabayyunlah sebelum menyebar, setiap huruf yang dilepas bukan sekadar data, melainkan amanah. Bahkan manipulasi kecil, seperti penggunaan aplikasi ilegal untuk memalsukan absensi digital, sebenarnya merupakan pengkhianatan terhadap amanah.

Di sinilah hadits itu menemukan makna administratifnya: iman bukan hanya urusan sajadah, tetapi juga urusan server dan sistem. Kita hidup di zaman ketika sesuatu yang negatif lebih cepat naik ke permukaan. Komentar pedas lebih ramai daripada doa. Konten sensasional lebih laris daripada nasihat. Namun Rasulullah tidak pernah mengajarkan kita mengikuti arus keburukan. Justru beliau mengajarkan kendali. Jika tidak bisa menenangkan, jangan memperkeruh. Jika tidak bisa membangun, jangan meruntuhkan.

Literasi digital hari ini bukan lagi sekadar kepandaian membaca teks atau menulis status. Ia telah menjelma menjadi laku batin: kemampuan menahan diri di tengah derasnya arus informasi. Sebab di zaman ketika segala sesuatu dapat dibagikan dalam sekejap, yang paling langka justru adalah jeda, ruang hening sebelum menekan tombol kirim. Iman tidak diukur dari seberapa sering kita online, bukan pula dari seberapa ramai jejak kita di linimasa. Ia diukur dari seberapa mampu kita menjaga diri saat online, menahan amarah sebelum berkomentar, menimbang kebenaran sebelum membagikan, dan memilih diam ketika kata hanya akan menambah luka. Di situlah takwa menemukan maknanya yang paling sunyi.

Ramadan hadir sebagai madrasah jiwa. Ia bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi menahan diri dari segala yang sia-sia. Jika siang hari kita berpuasa dari makanan, maka malam dan siangnya kita pun semestinya berpuasa dari kata-kata yang tak perlu, dari unggahan yang tak mendidik, dari debat yang mengikis persaudaraan, layar gawai bisa menjadi cermin. Setiap notifikasi adalah ujian kesabaran. Setiap pesan yang datang adalah peluang untuk memilih: menjadi penebar kebaikan atau sekadar pengikut, pengendalian diri adalah puncak literasi; bahwa kedewasaan digital lahir dari hati yang terlatih sabar. Literasi digital sejati adalah ketika jari tunduk pada nurani, ketika akal memimpin emosi, dan ketika iman menjadi pengawas paling setia dalam setiap aktivitas daring. Sebab yang akan kita pertanggungjawabkan kelak bukan hanya apa yang kita makan dan minum, tetapi juga apa yang kita tulis dan bagikan.

Dalam kajian siang tersebut juga disampaikan tentang perawi hadis, , Abu Hurairah, sahabat yang hidup sederhana, sering menahan lapar, tetapi kaya hafalan dan amanah. Beliau meriwayatkan ribuan hadis dengan kehati-hatian luar biasa. Setiap kata dijaga, setiap sanad diteliti. Tidak ada ruang untuk kebohongan. Bandingkan dengan zaman kini, ketika orang mudah membagikan informasi tanpa tabayun. Tanpa memastikan sumber. Tanpa peduli akibat. Padahal para ulama telah memilah ratusan ribu hadis, meneliti perawi satu per satu, hingga lahirlah hadis-hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Betapa seriusnya mereka menjaga kebenaran. Ironis jika kita, generasi digital, justru kadang sembrono menyebarkan kabar.

Rasulullah juga memerintahkan memuliakan tetangga dan tamu. Di dunia nyata, tetangga adalah orang di samping rumah. Di dunia digital, tetangga adalah orang dalam satu grup, satu forum, satu ruang percakapan. Memuliakan tetangga hari ini berarti tidak mempermalukan rekan kerja di ruang publik maya. Tidak menyindir kolega lewat status terselubung. Tidak menumpahkan konflik kantor ke media sosial. Adapun tamu, dalam konteks digital, bisa berarti siapa pun yang datang ke ruang komunikasi kita. Pengikut, pembaca, bahkan pengkritik. Mereka layak diperlakukan dengan adab. Karena akhlak tidak berubah hanya karena medium berubah.

Kajian Dzuhur Ramadan itu menjadi pengingat: ibadah bukan hanya soal menahan lapar, tetapi juga menahan komentar. Bukan hanya menahan haus, tetapi juga menahan unggahan. Media digital adalah alat. Ia bisa menjadi ladang pahala atau ladang dosa. Semua kembali pada satu kalimat Rasulullah: Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Di era layar sentuh, iman diuji di ujung jempol. Dan mungkin, keselamatan kita di hari akhir kelak, ditentukan oleh satu keputusan sederhana: menekan tombol “kirim” atau memilih untuk diam.

Penulis adalah ASN / Ketua Lentera Sastra Banyuwangi

By redaksi

Lentera Sastra Banyuwangi merupakan wadah Literasi, Seni dan Budaya Banyuwangi dan Indonesia

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *