Lentera Sastra Banyuwangi
27 Februari 2026

Fatah Yasin Noor

*Inspirasi*

Aku pikir semua orang dapat inspirasi untuk melakukan sesuatu. Ada tarikan tak kasat mata, ia pun bergerak. Akal bulus pun ikut bekerja. Inspirasi tidak perlu dicari. Tapi kita hanya perlu menciptakan suasana kondusif yang nyaman. Inspirasi itu petunjuk. Sementara itu akal bulus adalah ide yang merusak. Musang berbulu domba. Hidup di dunia hanya berkutat dan berkubang dengan urusan dunia. Turun inspirasi bagaimana menciptakan hidup di dunia yang lebih baik. Terutama untuk kepentingan pribadi dan kemudian, merambah ke kemaslahatan masyarakat. Esai berbulu prosa. Seperti hantu itu nyata yang tak kasat mata. Seperti kegaiban yang harus dipercayai ada. Walau tak tahu apa-apa tentang yang gaib, ia bisa ngarang dengan sangat meyakinkan. Karena gaib itu nyata. Ada seseorang yang merasa mendapat inspirasi. Padahal pada dasarnya itu ide belaka. Bagi penyair, itu sejenis kehendak ingin menulis puisi. Tapi kehendak itu, tentu saja, belum jadi puisi “beneran”. Mungkin terlalu banyak pertimbangan. Atau sejatinya ia tak bisa menciptakan puisi? Tapi puisi yang bagus memanglah puisi yang masih ada dalam angan.

Katakanlah inspirasi itu musabab suasana psikologis tertentu. Kalau memang inspirasi tak perlu dicari, tapi kenapa ia seperti menunggu inspirasi? Kenapa tidak langsung ke titik soal? Jadi, lupakanlah inspirasi. Artinya, dalam proses kreatif inspirasi niscaya hadir dengan sendirinya. Pemahamanku mungkin meleset dari pengertian yang dibawa kamus. Tapi saya curiga jangan-jangan inspirasi itu adalah energi yang bergetar bersama cuaca. Ia akan menuntun pada kesadaran pertama pada kebenaran. Semacam cahaya yang turun, melapangkan jalan untuk melangkah pada ekstase estetis. Seseorang yang tengah memeluk dan merasakan “pencerahan”. Memancarkan cahaya ilahi ke alam semesta. Dengan kata lain, ia tengah menerjemahkan kenyataan dari yang gaib, dari yang tak kasat mata menjadi ada. Pengetahuan yang hadir saat ia bersinggungan, katakanlah membaca dan mendengarkan. Membaca alam semesta dalam artian melihat dan merasakan keindahan alam semesta. Alam semesta yang mencakup semua hal. Oleh sebab itu karya manusia hanyalah sebentuk teror.

Diakui atau tidak alam semesta setidaknya menawarkan inspirasi. Benda-benda yang ada, yang dapat dilihat, kadang kita mengelusnya. Hanya manusia yang punya tipu muslihat. Di zaman modern, ia bangga berbulu seniman. Sedap dipandang dengan bentuk menawan. Memanfaatkan mesin dan komputer. Tipu muslihat itu teror, di baliknya ada kehendak berkuasa, penindasan. Tak sebanding dengan penampakan alam semesta. Manusia punya pemikiran aneh-aneh, terutama para filsuf. Sastrawan juga. Begitu tabahnya ia menulis hingga berbuku-buku. Semangat dan etos kerja itu datang dari mana? Malam sakral dan ia terus berkontemplasi. Seolah merayakan akal sehat tak boleh lengah dari yang gaib. Hukum alam diterima dengan takzim. Kalau aku ingat mereka, maka aku tengah belajar, bahwa kita harus banyak bersyukur. Nasib memang tak sama. Inspirasi yang sejalan dengan karakter dan sifatnya.

Hanya ada dua hal: baik atau buruk. Yang buruk boleh jadi ada campur tangan setan. Yang baik adalah petunjuk dari langit. Tuhan memberkati dengan inspirasi untuk berjalan menyusuri tepian laut, misalnya. Celakanya kita ditakdirkan hidup mati di bumi. Dari tanah kembali ke tanah. Kisah Adam yang melegenda itu adalah kisah manusia pertama yang tersengat rayuan setan. Ia tidak mematuhi larangan Allah yang melarang Adam dan Hawa memakan buah khuldi. Rayuan setan tentunya dilakukan terus-menerus dengan sabar. Tipu muslihat dan akal bulus setan yang memainkan narasi “keabadian”. Kita tak tahu bahasa apa yang dipakai dialog Adam dan setan. Aku tidak yakin mereka memakai bahasa Arab. Kisah percakapan antara setan dan Adam. Boleh jadi tanpa suara, hanya suara hati yang bicara. Seperti kita sekarang yang merasa tak pernah berdialog dengan setan. Tapi pengalaman pernah digoda setan, tanpa kita bisa melihat langsung setan dengan mata telanjang. Perkara ini perlu kita tanyakan ke orang yang ngerti, siapa? Adam dan Hawa diturunkan ke bumi tanpa sehelai pakaian yang menutupi auratnya. Mereka mendapat inspirasi membuat pakaian yang ada di bumi.

Inspirasi itu petunjuk. Yakni pengetahuan bagaimana caranya kita membereskan masalah. Inspirasi itu gaib. Mestinya inspirasi mengandung pengetahuan yang bermanfaat untuk manusia. Tapi rasanya aku tidak mendapat inspirasi untuk menafsir manusia pertama di bumi. Jadi jelas, kita anak cucu Adam. Bumi menyediakan pakaian, tapi pakaian takwa, kata Allah, itulah yang terbaik. Kayaknya itu sindiran untuk era sekarang dimana orang-orang lebih mementingkan penampilan lahiriah. Kadang penyair ingin lari ke gunung katokan saja. Kehendak lari itu tentu saja mengabaikan penampilan. Ingin nyepi sejenak di gunung seperti mencari inspirasi. Seperti seorang resi yang kenyang makan asam garam kehidupan. Banyak penyair yang mengakui kebesaran Tuhan. Akhirnya takluk pada ketakberdayaan. Kebenaran kokoh di langit dan di bumi.

Kalau inspirasi seperti pengelana, ia adalah pengelana yang gelisah. Bahasa hanyalah suara alam bawah sadar. Tuhan tidak lagi di sana, tapi di sini. Ia berjalan bersama bahasa. Tak bisa lepas dari takdir bahasa yang ambigu. Justru dari situ, sebagai pengembara agung. Jauh dari ambisi apapun yang dibawa dunia. Mungkin itu sejenis tirakat. Tuhan ada di sini. Meletup. Terus-menerus meletup dalam keterjagaan.

(2026)

By redaksi

Lentera Sastra Banyuwangi merupakan wadah Literasi, Seni dan Budaya Banyuwangi dan Indonesia

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *