Fatah Yasin Noor
*Kopi Setengah Manis*
Di perkebunan kalibendo, waktu itu, sepuluh tahun yang lalu. Kini pun masih tapi tak seperti dulu. Mungkin aku semakin tua, cuaca semakin tak ramah. Tumbuhan ikut merana, pohon-pohon besar tiba-tiba hilang, semak-semak membelukar. Rupa tanah yang diselimuti rumput hijau. Tumbuh tak beraturan lagi, jarang dipangkas. Seperti hidup segan mati tak mau. Berdarah-darah memiliki lahan perkebunan luas. Keuntungan tak dibagi rata, ha ha
Nyeruput kopi setengah manis. Di Pinggir jurang di bawahnya kali. Mengalir deras, dan dingin. Batu-batu hitam besar dan kecil. Memandang dari sini, siluet kabut tipis. Suara air gemericik ritmis. Rasa yang melambung ini bukan hanya milikku. Dari langit mendung sedikit gerimis. Tak sekadar secuil klemben dan gula aren. Tapi bayang-bayang samar pun seperti mengipasi sunyi. Aku tahu: sebentar lagi kita beranjak pergi, tak hanya dari sini.
(2026)
