Aroma Rahasia Kopi
Oleh : Zahira Aqila Ahmad
MTsN 10 Banyuwangi
Pagi di kafe itu selalu dimulai dengan aroma kopi yang pekat dan hangat, seperti selimut tebal di udara yang dingin. Aku sering memperhatikan barista tua bernama Pak Harjo yang selalu menyeduh dengan gerakan yang sama menggiling biji perlahan, menimbang air dengan mata terpejam, dan menuang air panas dengan ritme yang nyaris seperti meditasi. Setiap pelanggan memuji keunikan rasa kopi buatannya, yang katanya tidak bisa ditemukan di kafe modern mana pun. Namun, tak ada yang tahu bahwa Pak Harjo menyimpan satu biji kopi rahasia, yang ia simpan di dalam kaleng berukir tua.
Suatu hari, seorang pemilik jaringan kedai kopi besar datang dan menawarkan harga tinggi untuk resep rahasia Pak Harjo, terutama untuk biji kopi yang selalu ia tambahkan satu butir di setiap seduhan pertamanya. Pak Harjo hanya tersenyum tipis dan menolak. Ia menjelaskan, biji rahasia itu bukanlah varietas langka dari pegunungan terpencil, melainkan biji kopi pertama yang ia panen dan sangrai sendiri bersama almarhum istrinya, lima puluh tahun yang lalu, di sebuah kebun kecil di belakang rumah.
Biji kopi tunggal itu sudah tidak bisa diseduh, ia sudah keras dan kehilangan seluruh minyaknya. Namun, Pak Harjo percaya bahwa setiap kali ia memegang dan mencampurkannya sesaat sebelum menggiling biji kopi yang baru, ia seperti membawa serta kenangan dan semangat berbagi cinta yang dulu ia tanam bersama istrinya. Itulah aroma rahasia yang sesungguhnya bukan rasa, melainkan perasaan. Dan itulah mengapa kopi Pak Harjo selalu terasa lebih dari sekadar minuman, tetapi seperti pelukan hangat yang tak ternilai harganya.
