Jangan Marah: Jalan Sunyi Menuju Kedewasaan Iman
Oleh : Syafaat
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Berilah aku nasihat.” Beliau menjawab: “Jangan marah.” Beliau mengulanginya beberapa kali, “Jangan marah.” (HR. Bukhari)
Di antara riuhnya kehidupan yang tak pernah benar-benar sunyi, di antara dada-dada yang mudah tersulut oleh salah paham, oleh kepentingan, oleh kalimat yang meluncur tanpa saringan, baik di dunia nyata maupun di dunia maya, ada satu kalimat pendek yang semestinya kita ingat. Kalimat itu meluncur dari lisan mulia Muhammad ﷺ: “Jangan marah.”
Hadis itu diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. kalimatnya tampak sederhana. Terlalu sederhana, disampaikan ketika seorang laki-laki datang meminta nasihat. Ia tidak meminta nasehat untuk kekayaan, tidak meminta doa panjang, tidak pula strategi hidup yang berlapis-lapis. Ia hanya berkata, “Berilah aku nasihat.” Dan Nabi menjawab, “Jangan marah.” Ia mengulang permintaannya. Barangkali ia berharap tambahan kalimat, penjelasan yang lebih panjang, atau petuah yang terdengar lebih “besar.” Namun jawaban itu tetap sama. “Jangan marah.” Seakan-akan seluruh agama ini diringkas dalam satu pintu: kendalikan amarahmu.
Kita bisa membayangkan suasana di Masjid Nabawi kala itu. Cahaya matahari Madinah menyelinap di sela-sela atap pelepah kurma. Seorang lelaki berdiri dengan dada yang mungkin menyimpan api. Mungkin ia dikenal sebagai orang yang mudah tersulut. Mungkin darahnya cepat mendidih ketika harga dirinya tersenggol. Rasulullah ﷺ tidak menambah kalimat. Tidak memperpanjang uraian. Tidak menyampaikan retorika yang memukau. Karena beliau tahu, penyakit orang ini bukan kurangnya teori. Penyakitnya adalah bara di dada. Dan bara tidak dipadamkan dengan ceramah panjang, melainkan dengan satu peringatan yang menancap. “Jangan marah.”
Betapa banyak persoalan hidup berawal dari satu detik ketika amarah mengambil alih akal. Rumah tangga yang retak bukan semata karena kemiskinan, tetapi bisa jadi karena suara yang meninggi. Silaturahmi yang putus bukan karena jarak, tetapi karena kata-kata yang lahir dari hati yang terbakar. Persahabatan yang hancur bukan karena perbedaan, tetapi karena ego yang tersulut. Amarah adalah api yang sering kita anggap kecil. Padahal ia bisa membakar ladang amal yang kita rawat bertahun-tahun ulasan buruk pada mesin pencarian bisa jadi karena ucapan yang kurang berkenan dalam melayani tamu.
Ada kisah agung tentang Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Dalam sebuah pertempuran, yang sering dikaitkan dengan duel pada masa awal Islam, Sayyidina Ali berhasil merobohkan musuhnya. Pedang telah berada di posisi menentukan. Kemenangan tinggal satu ayunan, namun tiba-tiba musuh yang tak berdaya itu meludahi wajahnya. Sejenak dada Ali bergolak. Emosi menyala. Wajahnya basah bukan hanya oleh ludah, tetapi oleh ujian. Lalu apa yang ia lakukan? Ia melepaskan musuh itu. Ia bangkit dan mundur.
Ketika ditanya mengapa, ia menjawab: “Tadi aku memerangimu karena Allah. Tetapi ketika engkau meludahiku, aku khawatir jika aku membunuhmu sekarang, itu karena amarah pribadiku, bukan semata-mata karena Allah.” Betapa halusnya jiwa itu. Betapa jernihnya niat yang ia jaga. Ia tidak ingin pedangnya digerakkan oleh hawa nafsu. Ia lebih memilih menahan kemenangan daripada merusak keikhlasan. Di situlah kita belajar: bukan semua amarah itu haram, tetapi amarah yang bercampur ego adalah racun yang mematikan amal.
Islam tidak sedang mendidik kita menjadi manusia tanpa rasa. Rasulullah ﷺ bukan pribadi yang beku tanpa emosi. Beliau bisa tersenyum, beliau bisa menangis, bahkan beliau juga bisa marah. Tetapi marah beliau bukan untuk diri sendiri. Bukan untuk harga diri yang tergores. Bukan untuk ego yang tersenggol. Beliau marah ketika batas-batas Allah dilanggar. Dalam riwayat-riwayat disebutkan, wajah beliau memerah ketika hukum Allah diremehkan. Namun kepada orang yang kasar, yang bahkan pernah menarik kerah bajunya dengan keras, beliau memilih sabar. Beliau memahami latar belakang. Memahami budaya. Memahami kebodohan yang belum tercerahkan. Marah yang lahir dari ego adalah api yang membakar diri sendiri. Marah yang lahir dari cinta kepada kebenaran adalah cahaya yang menjaga nilai, Perbedaannya tipis, tetapi dampaknya seluas langit dan bumi.
Sebagian orang mengira, “Jangan marah” berarti menjadi lemah. Tidaklah demikian. Islam tidak mengajarkan kelemahan. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa orang kuat bukanlah yang menang dalam gulat, tetapi yang mampu menahan dirinya ketika marah. Menahan marah bukan berarti menelan kehinaan tanpa sikap. Menahan marah berarti menunda ledakan agar keputusan tetap jernih. Karena ketika marah menguasai akal, yang keluar bukan keadilan, melainkan pelampiasan. Berapa banyak orang menyesal seumur hidup hanya karena satu kalimat yang diucapkan saat marah?
Satu pesan singkat. Satu status di media sosial. Satu tamparan. Satu keputusan cerai. Bisa jadi semua lahir dari satu detik ketika akal kalah oleh bara. Para ulama memberi nasihat: jika marah dalam keadaan berdiri, duduklah. Jika duduk, berbaringlah. Berwudhulah. Ucapkan ta’awudz. Karena marah adalah percikan dari api, dan airlah yang memadamkannya. Secara ilmiah pun, saat marah tekanan darah naik, hormon stres melonjak, jantung berdetak lebih cepat. Tubuh seperti diseret ke medan perang, padahal musuhnya hanya kata-kata. Maka ketika Nabi ﷺ berkata, “Jangan marah,” beliau bukan hanya menyelamatkan jiwa dari dosa, tetapi juga menyelamatkan tubuh dari kehancuran.
Ada sisi lain yang sering luput. Kadang kita tidak marah dengan teriakan, tetapi kita “marah” dengan cara merendahkan. Kita menasihati di depan banyak orang. Kita membuka aib dengan dalih kebenaran. Kita menyampaikan kritik di ruang publik tanpa empati. Padahal bisa jadi satu nasihat lembut di ruang sunyi lebih menyembuhkan daripada seribu kata di depan keramaian. Marah yang paling halus adalah marah yang dibungkus dalih kebenaran. Kita merasa sedang membela nilai, padahal sebenarnya sedang membela gengsi.
Lelaki dalam hadis itu mungkin adalah kita yang mudah tersinggung ketika tidak dihargai. Kita yang merasa benar sendiri ketika dipatahkan argumen. Kita yang sulit menerima kritik. Kita yang di rumah menjadi singa, tetapi di luar seperti kucing anggora. Dan Rasulullah ﷺ, dengan kasih yang tak bertepi, seperti sedang berbicara kepada kita hari ini.
Terlebih bagi seorang pemimpin. Bagi mereka yang memikul amanah sebagai team leader, sebagai kepala keluarga, sebagai kepala kantor, sebagai pelayan publik. Emosi yang tak terkelola bisa memecah kekompakan tim, meretakkan kepercayaan, menghambat pelayanan. Seorang aparatur sipil yang setiap hari berhadapan dengan masyarakat dari berbagai latar kehidupan, membutuhkan kesabaran yang bukan hanya administratif, tetapi spiritual. Karena pelayanan bukan sekadar prosedur. Ia adalah ibadah. Dan ibadah tidak tumbuh di tanah yang panas oleh amarah.
Ramadhan adalah madrasah pengendalian diri. Kita menahan lapar, menahan dahaga, dan seharusnya juga menahan bara. Apa gunanya menahan makan dari fajar hingga maghrib jika lisan tetap melukai? Apa artinya tarawih panjang jika hati masih mudah tersulut? Puasa bukan hanya menahan yang halal, tetapi juga mendidik kita menahan yang haram, termasuk amarah yang tak terkendali. Di bulan itulah kita belajar bahwa kekuatan sejati bukan pada suara yang keras, tetapi pada hati yang lapang.
Akhirnya, “jangan marah” bukan berarti tidak pernah marah. Ia berarti jangan biarkan marah menjadi tuan atas dirimu. Jadikan ia tamu yang kau kendalikan, bukan penguasa yang menyeretmu. Marahlah ketika agama diinjak, ketika kezaliman merajalela, namun tetap dalam bingkai hikmah. Diamlah ketika ego yang berbicara. Tundukkan diri ketika amarah datang mengetuk dada. Karena dunia ini sudah cukup panas oleh kebencian. Jangan tambah dengan bara dari dadamu sendiri. Dalam satu kalimat pendek itu tersimpan rahasia kedewasaan iman: Siapa yang mampu menahan marahnya, ia sedang membangun kedamaian di dalam dadanya sendiri.
