Lentera Sastra Banyuwangi
1 Maret 2026
oplus_32

The Most KUA, Core of the Core

Oleh : Syafaat

Program The Most KUA (Move for Sakinah Maslahat) lahir bukan dari gemuruh tepuk tangan, melainkan dari perenungan yang hening. Ia tumbuh dari kesadaran yang dalam: bahwa keluarga adalah inti dari segala inti — core of the core. Di sanalah denyut bangsa berawal. Di sanalah masa depan disemai, bukan dengan sorak-sorai, tetapi dengan cinta yang dirawat dan doa yang tidak pernah putus.

Jika bangsa ini ingin sungguh-sungguh melangkah menuju Indonesia Emas, maka emas itu tidak hanya ditempa di gedung-gedung tinggi yang menjulang ke langit, tidak pula hanya di ruang-ruang kebijakan yang dipenuhi naskah dan angka. Emas itu justru ditempa di ruang makan yang sederhana, di meja kayu tempat tangan-tangan saling menyuap dengan kasih. Ia ditempa dalam percakapan suami-istri menjelang tidur, ketika lelah berubah menjadi saling menguatkan. Ia ditempa dalam nasihat seorang ibu yang lirih namun menggetarkan jiwa anaknya. Ia ditempa dalam doa seorang ayah selepas salat, yang diam-diam menyebut nama anak-anaknya satu per satu di hadapan Allah.

Di dalam keluargalah karakter dibentuk. Di dalam keluargalah iman diuji dan dikuatkan. Di dalam keluargalah manusia belajar arti sabar, syukur, dan tanggung jawab. Dan Ramadan adalah musim terbaik bagi keluarga untuk kembali ke pusat itu, rumah-rumah menjadi lebih hidup. Ada kebersamaan dalam sahur yang kadang tak ditemukan di bulan-bulan lain. Ada tawa kecil di sela-sela menunggu azan magrib. Ada tangan-tangan yang saling menyodorkan air dan kurma saat berbuka. Kebersamaan yang sederhana, namun sarat makna. Kadang di luar Ramadan, meja makan sepi oleh kesibukan masing-masing. Ayah pulang larut, ibu lelah, anak tenggelam dalam gawai. Tetapi Ramadan memanggil mereka untuk duduk bersama, menahan lapar bersama, dan berdoa bersama. Ramadan menyatukan yang tercerai oleh rutinitas.

Di sinilah kita menemukan maknanya, pembinaan keluarga bukan sekadar program kerja, melainkan gerakan ruhani. Bahwa sakinah bukan hanya kata dalam undangan pernikahan, tetapi ketenangan yang diupayakan setiap hari. Bahwa maslahat bukan hanya konsep, tetapi kebaikan yang terasa dampaknya hingga ke lingkungan sekitar. Indonesia Emas tidak lahir dari generasi yang cerdas semata, tetapi dari generasi yang tumbuh dalam keluarga yang hangat dan beriman. Dari rumah-rumah yang menjadikan Tuhan sebagai pusatnya. Dari ayah-ibu yang saling menjaga amanah. Dari anak-anak yang dibesarkan dengan doa dan keteladanan.

Top of Form

Bottom of Form

Sumber daya manusia yang unggul tidak lahir tiba-tiba. Ia tumbuh dari keluarga yang sehat. Dan keluarga yang sehat hanya mungkin lahir dari individu yang matang. Maka peningkatan SDM bangsa harus diawali dengan peningkatan SDM keluarga. Dan peningkatan SDM keluarga harus diawali dengan pembinaan individu. Inilah lingkar sunyi yang sering terlupakan.

Ramadan tahun ini datang dengan tema Joyful Ramadan Mubarak. Sebuah tema yang bukan sekadar slogan, melainkan suasana batin. Pada bulan ini, manusia lebih mudah menangis dalam doa. Lebih ringan melangkah ke masjid. Lebih peka terhadap kesalahan diri. Aktivitas keagamaan meningkat, interaksi sosial menghangat, dan nilai-nilai kehidupan terasa lebih nyata. Secara sosiologis dan kultural, Ramadan adalah ruang yang paling reseptif bagi pembinaan keluarga. Hati yang lapar oleh puasa justru menjadi kenyang oleh hikmah. Jiwa yang menahan diri dari makan dan minum menjadi lebih siap menerima nasihat.

Dalam ruang inilah The Most KUA bergerak. Ia bukan hanya program administratif. Ia adalah gerakan moral. KUA bertransformasi menjadi simpul penguatan nilai keagamaan dan pusat literasi keluarga di tingkat kecamatan. Dari sekadar kantor pelayanan menjadi pusat pembinaan. Dari sekadar pencatat peristiwa menjadi pengarah masa depan. Memang tidak dapat dinafikan: inti tugas KUA adalah seputar pernikahan dan pernik- dari pernikahan itulah seluruh bangunan sosial dimulai. Pernikahan bukan sekadar penyatuan dua nama, tetapi penyatuan dua visi hidup. Dari situ lahir generasi. Dari generasi lahir masyarakat. Dari masyarakat lahir bangsa. Karena itu pembinaan perkawinan dan keluarga adalah bagian dari pelayanan negara dalam memperkuat ketahanan keluarga dan meningkatkan kualitas kehidupan sosial masyarakat.

 

The Most KUA membagi gerakannya pada tiga kelompok, tiga lapis kehidupan yang menentukan arah peradaban.

Pertama: Kelompok Remaja Usia Sekolah.

Di tangan mereka, masa depan bangsa sedang belajar berdiri. Mereka berada di usia yang labil namun penuh energi. Dunia digital membentang tanpa batas. Informasi mengalir tanpa saringan. Di sinilah pembentukan karakter menjadi krusial. Materi pembinaan diarahkan pada penguatan nilai diri, kesadaran akan martabat, dan pencegahan perkawinan anak dalam perspektif Islam. Remaja diajak memahami bahwa menjaga diri adalah kemuliaan. Bahwa cinta bukan sekadar rasa yang meledak-ledak, tetapi tanggung jawab yang harus dipikul dengan kesiapan. Bimbingan pranikah bagi remaja bukan untuk menyuruh mereka segera menikah, melainkan untuk membekali mereka dengan kesadaran: bahwa pernikahan adalah ibadah panjang. Ia membutuhkan ilmu, kesabaran, dan kematangan.

Di sinilah KUA sering hadir melalui program KUA Goes to School, bersamaan dengan kegiatan Ramadan di sekolah. Ia menyapa siswa dengan bahasa yang membumi. Ia berbicara tentang masa depan tanpa menghakimi masa kini. Ia menanamkan harapan, bukan ketakutan. Karena mencegah perkawinan anak bukan hanya soal aturan, tetapi soal menyelamatkan masa depan generasi.

Kedua: Kelompok Usia Siap Nikah.

Mereka berada di ambang gerbang kehidupan baru. Hati mereka dipenuhi rencana. Impian tentang rumah, tentang anak, tentang kebahagiaan yang tampak indah dalam bayangan. Namun pernikahan bukan hanya tentang pesta dan foto bahagia. Ia adalah kontrak moral, komitmen spiritual, dan tanggung jawab sosial. Materi pembinaan pada kelompok ini diarahkan pada kesiapan mental, pemahaman tanggung jawab berkeluarga, penguatan relasi dan komunikasi pasangan, serta pembentukan harapan yang realistis terhadap kehidupan perkawinan dalam perspektif Islam.

Mereka diajak memahami bahwa cinta harus dirawat dengan komunikasi. Bahwa konflik bukan tanda kegagalan, tetapi bagian dari proses pendewasaan. Bahwa suami-istri adalah dua hamba Allah yang saling menolong menuju surga. Di sini, KUA bukan sekadar memberikan materi. Ia menghadirkan kesadaran: bahwa pernikahan adalah ibadah kolektif. Dua orang berjalan bersama menuju ridha Allah.

Ketiga: Kelompok Keluarga Muslim.

Di fase ini, pernikahan telah berjalan. Ada anak-anak yang tumbuh. Ada rutinitas yang kadang melelahkan. Ada ujian ekonomi, perbedaan pendapat, dan dinamika kehidupan sosial. Materi diarahkan pada penguatan nilai keluarga sakinah–maslahat. Sakinah bukan sekadar tenang, tetapi tenang yang produktif. Maslahat bukan sekadar baik, tetapi baik yang berdampak. Keluarga dibimbing untuk membangun komunikasi sehat, menghadirkan kehadiran emosional antaranggota keluarga, membagi peran secara adil, dan menguatkan fungsi keluarga dalam kehidupan sosial masyarakat.

Karena keluarga bukan hanya tempat pulang. Ia adalah madrasah pertama. Di sanalah anak belajar jujur atau berdusta. Di sanalah anak belajar menghormati atau meremehkan. Di sanalah anak mengenal Allah atau justru jauh dari-Nya. Jika keluarga sakinah–maslahat tumbuh di banyak rumah, maka masyarakat akan menjadi lebih tangguh. Ketahanan keluarga akan menjelma menjadi ketahanan bangsa.

The Most KUA bukan gerakan yang riuh. Ia tidak selalu viral. Ia tidak selalu menjadi headline. Tetapi ia bekerja di ruang yang paling menentukan: ruang keluarga.

Ia menyentuh remaja sebelum mereka salah arah.
Ia membimbing calon pengantin sebelum mereka salah harap.
Ia menguatkan keluarga sebelum mereka patah.

Di tengah arus individualisme dan disrupsi zaman, ketika relasi mudah retak dan komitmen sering dianggap beban, KUA hadir sebagai penjaga nilai. Ia mengingatkan bahwa pernikahan adalah amanah. Bahwa keluarga adalah fondasi. Bahwa bangsa tidak dibangun dari pidato, tetapi dari rumah-rumah yang kokoh.Indonesia Emas bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi atau teknologi canggih. Ia adalah tentang generasi yang berakhlak, keluarga yang kuat, dan masyarakat yang berdaya. Dan semua itu bermula dari satu titik kecil yang sering diremehkan: keluarga.

By redaksi

Lentera Sastra Banyuwangi merupakan wadah Literasi, Seni dan Budaya Banyuwangi dan Indonesia

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *