Ngerandu Buka: Tarian Cangkir Kosong di Tepi Pantai Boom
Oleh: Syafaat
Ramadan adalah musim di mana Sang Kekasih memanggil jiwa untuk pulang ke dalam keheningan, meski tubuh masih berpijak di atas keriuhan kota. Di Banyuwangi, senja tidak sekadar tanda berakhirnya siang, melainkan sebuah simpul di mana selaksa manusia bertemu: di hamparan Pantai Boom dan sudut-sudut jalan yang telah menghafal langkah kaki kita selama bertahun-tahun. Di sana, para pedagang berdiri seperti darwis dalam tarian pelayanan, uap gorengan mereka mengepul laksana kemenyan doa yang membubung ke langit, dan gelas-gelas plastik berderet seperti barisan pencari Tuhan yang bersiap tegak saat seruling azan ditiupkan.
Orang-orang menyebutnya ngerandu buko. Namun, ketahuilah, wahai jiwa, yang kita tunggu bukanlah sekadar tenggelamnya matahari. Kita sedang menunggu “Reda”—sebuah jeda dari lapar yang membakar, dahaga yang meranggas, dan kegaduhan dunia yang tak pernah berhenti menuntut. Di tepian pantai itu, manusia tumpah tanpa sekat. Ada wajah-wajah letih yang cahayanya bersumber dari dalam, ada mereka yang tidak berpuasa namun tetap menebar senyum, dan ada pula yang mengenakan kalung salib atau rambut yang terurai ditiup angin—semuanya berdiri di bawah kubah langit yang sama. Ramadan tidak datang dengan pedang untuk memisahkan, melainkan dengan tangan terbuka untuk membangun ruang bagi setiap pengelana.
Puasa adalah titah rahasia bagi mereka yang rindu. Ia bukan beban yang diletakkan di pundak, melainkan sayap yang tumbuh di relung hati. “Wahai orang-orang yang beriman,” panggil-Nya, bukan sebagai perintah majikan kepada pelayan, melainkan sebagai undangan Sang Kekasih untuk bertumbuh. Di madrasah sunyi ini, kita belajar bahwa menahan makan hanyalah kulit, sementara isinya adalah menundukkan angkuh, menata niat, dan menyucikan mata dari debu prasangka. Setiap jiwa sedang menari dalam ujiannya sendiri: ada yang diuji dengan menahan, ada yang diuji dengan memahami, dan ada yang diuji dengan menghargai. Hanya mereka yang mampu menari dengan sabar dan empati akan dinaikkan derajatnya, terbang selangkah lebih dekat menuju Cahaya Abadi.
Dalam riuh rendah pasar senja, yang berpuasa belajar menjadi karang yang sabar, sementara yang tidak berpuasa belajar menjadi air yang menghormati. Lapar adalah guru yang kejam namun jujur; ia mengajarkan betapa rapuhnya bejana manusia. Di saat seorang pedagang menuangkan kolak ke dalam plastik, ia mungkin tak sedang bicara tentang teologi, namun tiap tuangannya adalah sebentuk harapan—ibadah dalam bentuk kerja. Di balik tiap keping uang yang berpindah, ada dapur yang tetap menyala dan anak-anak yang esok pagi bisa menyantap sahur dengan tawa. Inilah madrasah sosial: di mana lapar yang ditahan bersama menjelma jembatan yang menghubungkan hati ke hati. Tak ada papan larangan, tak ada garis batas antara Muslim dan non-Muslim. Semua menjadi satu dalam “intensitas menanti”.
Ketahuilah, puasa adalah urusan vertikal—rahasia sunyi antara hamba dan Pencipta yang tersembunyi di kedalaman niat. Namun, berbuka adalah peristiwa horizontal yang menyentuh bumi dan sesama. Saat air pertama menyentuh kerongkongan, bukan hanya tubuh yang segar, melainkan kemanusiaan kita yang diperhalus oleh jeda sakral bernama Magrib. Di meja-meja bundar, iman tidak runtuh oleh kebersamaan; ia justru hanya bisa runtuh oleh kesombongan. Ramadan mengajarkan bahwa ketaatan sejati adalah kelembutan, bukan kekerasan. Hati dilatih untuk menjadi samudera yang merengkuh segalanya, menjadi rahmat bagi semesta alam.
Lihatlah ke Pantai Boom, di mana senja turun seperti doa yang dibisikkan dengan lirih. Laut memantulkan jingga yang gemetar, seolah langit sedang menciumi kening bumi sebelum malam tiba. Di sana, seorang perempuan berjilbab dan yang tidak, berdiri bersisian menatap cakrawala yang sama. Keyakinan mereka mungkin menempuh jalan yang berbeda, namun rasa lapar dan rindu untuk pulang adalah bahasa yang tak memerlukan terjemahan. Kita semua adalah anak-anak yang sedang belajar makna sabar di bawah asuhan sang bulan suci.
Jika kau bertanya, apakah riuh pasar ini mengurangi khusyukmu? Jawabnya ada pada hatimu. Jika hatimu hanya sibuk menghitung lapar, maka Ramadanmu berhenti di perut. Jika hatimu sibuk menghakimi sesama, maka Ramadanmu berhenti di lidah. Namun jika hatimu sibuk memetik syukur dari setiap wajah yang kau temui, maka Ramadanmu akan mekar menjadi cahaya. Ngerandu buko adalah latihan kecil untuk melepas keakuan; luruh dari merasa paling benar, luruh dari merasa paling suci. Ramadan bukanlah panggung eksklusif, melainkan undangan untuk menunduk, bukan menunjuk.
Ketika bulan ini pergi dan lapak-lapak itu dibongkar, semoga senja di Pantai Boom tak kembali sunyi dari makna. Biarlah aroma kolak hilang, namun biarlah jiwa kita tetap lembut. Sebab sejatinya, menunggu berbuka bukan hanya tentang menunggu azan berkumandang. Ia adalah perjalanan panjang dari lapar menuju sadar, dari riuh menuju rindu, dan dari perut yang kosong menuju hati yang penuh dengan cinta.
Penulis adalah Ketua Lentera Sastra Banyuwangi
