Banyuwangi, (Lentera Sastra) Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, menegaskan bahwa pernikahan bukan sekadar peristiwa seremonial yang menyatukan dua insan, melainkan momentum penting dalam menentukan arah dan masa depan kehidupan bersama.
Hal tersebut disampaikan Chaironi saat memberikan sambutan dalam kegiatan The Most KUA (Move for Sakinah) yang digelar serentak se-Jawa Timur, Rabu (04/03/2026), di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Di Banyuwangi, kegiatan berlangsung di 31 lokasi dengan total 2.912 peserta, yang terdiri atas 27 kegiatan bimbingan remaja usia sekolah, 1 bimbingan remaja usia nikah, serta 3 kegiatan Pusaka Sakinah. Salah satu kegiatan Pusaka Sakinah dilaksanakan di aula bawah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi.
Dalam sambutannya, Chaironi Hidayat menyampaikan bahwa pernikahan pada hakikatnya adalah hubungan yang dilandasi rasa saling membutuhkan. Suami dan istri merupakan dua insan yang diciptakan untuk saling melengkapi, menguatkan, dan berjalan beriringan dalam membangun kehidupan rumah tangga.
“Menikah bukan hanya menyatukan dua individu, tetapi juga menentukan arah perjalanan hidup yang akan dijalani bersama. Di dalamnya ada tujuan spiritual, sosial, dan tanggung jawab terhadap keluarga yang harus dirancang dengan kesadaran penuh,” ungkapnya.
Ia juga menyinggung kisah Nabi Adam yang pada dasarnya tidak berkeinginan memakan buah huldi, namun kemudian tergoda oleh bujukan Hawa. Menurutnya, kisah tersebut dapat dimaknai sebagai simbol bahwa laki-laki dan perempuan memiliki pengaruh satu sama lain. Dari sanalah terlihat bahwa hubungan suami dan istri adalah kebutuhan yang saling melengkapi.
“Oleh karena itu, pernikahan harus menjadi sarana untuk saling menjaga, saling mengingatkan, dan membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah,” tegasnya.
Lebih lanjut, Chaironi menjelaskan prinsip al-‘adah muhakkamah, yakni adat atau kebiasaan dapat menjadi pertimbangan dalam kehidupan selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai syariat. Artinya, kehidupan rumah tangga tidak dapat dilepaskan dari budaya dan tradisi masyarakat, selama tetap berada dalam koridor ajaran agama.
Di akhir sambutannya, ia menyampaikan bahwa secara umum laki-laki cenderung mengedepankan logika dalam berpikir, sementara perempuan lebih mengutamakan perasaan. Perbedaan tersebut, menurutnya, bukanlah sumber perpecahan, melainkan kekuatan untuk saling menyeimbangkan dalam membangun rumah tangga yang harmonis.
Serentak se-Jawa Timur, KUA Bergerak untuk Keluarga Maslahat
Kegiatan The Most KUA merupakan program Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI yang bertujuan menguatkan peran KUA sebagai pusat layanan keluarga dan pemberdayaan masyarakat. Di Banyuwangi, selain dilaksanakan serentak pada hari ini, rangkaian kegiatan juga akan berlangsung sepanjang bulan Ramadan.
Secara umum, materi untuk kelompok keluarga muslim diarahkan pada penguatan nilai keluarga sakinah–maslahat, meliputi komunikasi sehat, kehadiran emosional antaranggota keluarga, pembagian peran dalam keluarga, serta penguatan fungsi keluarga dalam kehidupan sosial masyarakat. Materi disampaikan secara reflektif dan dialogis, mendorong keluarga mengevaluasi praktik relasi sehari-hari dan memperkuat keteladanan di lingkungan sekitar.
Sementara itu, kegiatan tingkat Jawa Timur dibuka secara daring oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Dr. Akhmad Sruji Bakhtiar, dari aula MAN 1 Kota Surabaya.
Dalam sambutannya, Bakhtiar menyampaikan bahwa melalui program ini diharapkan pelayanan dan peran KUA semakin meningkat.
“KUA bergerak artinya KUA bukan hanya tempat pencatatan nikah, tetapi juga pusat pemberdayaan. Mulai dari memotivasi siswa agar berprestasi tidak hanya untuk Indonesia tetapi juga dunia, hingga pembinaan remaja usia nikah dan penguatan keluarga maslahat untuk mencegah perceraian,” ujarnya.
Program ini sejalan dengan tema nasional “Joyful Ramadan Mubarak 1447 H/2026 M” yang diusung Kementerian Agama Republik Indonesia, yakni menghadirkan suasana Ramadan yang menggembirakan, inklusif, serta penuh aksi sosial.
Dengan semangat KUA Bergerak, kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan keluarga dan menjadikan KUA sebagai pusat pembinaan umat yang adaptif, solutif, dan maslahat bagi masyarakat luas.
#TheMostKUA
#KUABergerak
#JoyfulRamadanMubarak1447H
#KeluargaSakinahMaslahat