Banyuwangi (Lentera sastra) Di tengah arus perjalanan panjang para pemudik yang melintasi ujung timur Pulau Jawa, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bersama Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menyiapkan 48 masjid sebagai posko Masjid Ramah Pemudik 2026. Ikhtiar ini diharapkan menjadi ruang teduh bagi para musafir yang menempuh perjalanan pulang menuju kampung halaman.
Program tersebut dikoordinasikan melalui rapat yang digelar pada Kamis (12/03/2026) di Ruang Rapat Asisten Pemerintahan Pemkab Banyuwangi. Pertemuan itu mempertemukan berbagai unsur, di antaranya Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi Chaironi Hidayat, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemkab Banyuwangi Mumahan Yanuar Bramudya, serta perwakilan dari Baznas, Polresta Banyuwangi, dan PMI.
Dalam pertemuan tersebut, Bramudya menyampaikan bahwa program Masjid Ramah Pemudik bukan sekadar agenda pelayanan, melainkan bentuk kepedulian kemanusiaan kepada para pelintas jalan yang membawa rindu pulang. Selama ini masyarakat lebih mengenal posko keamanan di jalur mudik, namun kini masjid diharapkan turut hadir sebagai tempat singgah yang menghadirkan ketenangan sekaligus perlindungan.
“Program ini bertujuan memberikan layanan kepada sesama manusia. Banyuwangi harus menjadi daerah yang ramah bagi pemudik. Selain membantu meminimalisir kecelakaan dan meningkatkan keamanan, keberadaan posko ini juga menyediakan layanan kesehatan serta pos ramah pemudik,” ujarnya.
Ia menambahkan, diperlukan upaya edukasi kepada masyarakat agar keberadaan masjid sebagai posko ramah pemudik dapat diketahui secara luas, sehingga para pelintas jalan dapat memanfaatkannya sebagai tempat beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi Chaironi Hidayat menyampaikan salam dari Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur sekaligus menyampaikan apresiasi atas sinergi yang terjalin antara pemerintah daerah dan Kementerian Agama.
“Kami mengucapkan terima kasih atas respons dan kerja sama lintas sektoral yang sangat antusias dalam mendukung program ini. Sinergi ini diharapkan mampu memberikan rasa aman dan nyaman bagi para pemudik yang melintas di Banyuwangi,” ungkapnya.
Chaironi berharap kolaborasi antara Kemenag, Pemkab Banyuwangi, Polresta, Dinas Perhubungan, PMI, Baznas, serta para takmir masjid dapat terus diperkuat agar berbagai kebutuhan pemudik dapat terpenuhi, mulai dari tempat beristirahat, layanan kesehatan seperti kotak P3K, hingga layanan darurat lainnya.
Dalam program Masjid Ramah Pemudik 2026, sebanyak 48 masjid disiapkan sebagai posko ramah pemudik yang tersebar di berbagai wilayah Banyuwangi. Dari jumlah tersebut, 13 masjid menjadi titik utama yang dijadikan branding posko, terutama yang berada di jalur-jalur utama yang kerap dilalui para pemudik.
Melalui program ini, masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pelabuhan teduh bagi para musafir—tempat sejenak menenangkan langkah, memulihkan tenaga, dan menata kembali perjalanan menuju rumah yang telah lama dirindukan. (hin)
