Lentera Sastra Banyuwangi
14 Maret 2026

*Pemuda Penjaga Harmoni*

Mohamad Soleh Kurniawan / Pengurus LPPEKIN DPD BKPRMI Kabupaten Banyuwangi

 

Masjid sejak dahulu bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat peradaban umat. Dalam sejarah Islam, masjid menjadi ruang pendidikan, dialog sosial, hingga pengambilan keputusan masyarakat. Namun di era modern, isu tentang masjid kerap berkembang menjadi sensitif di tengah masyarakat. Dalam konteks ini, peran pemuda menjadi sangat penting untuk menjaga masjid tetap menjadi ruang yang menenangkan, inklusif, dan mempersatukan.

 

Salah satu tantangan yang muncul saat ini adalah perubahan pola kehidupan generasi muda. Banyak penelitian menunjukkan bahwa masjid sering kali hanya dipandang sebagai tempat ibadah ritual, sementara fungsi sosial, pendidikan, dan pengembangan pemuda belum dimaksimalkan. Padahal, masjid dapat menjadi ruang yang nyaman untuk diskusi, pembinaan karakter, dan pengembangan kompetensi generasi muda jika dikelola secara lebih adaptif dengan perkembangan zaman.

 

Di sisi lain, perkembangan media sosial membuat berbagai isu terkait masjid mudah menjadi viral dan memicu perdebatan. Mulai dari persoalan pengelolaan kegiatan keagamaan, penggunaan pengeras suara, hingga tudingan politisasi atau radikalisme di ruang ibadah. Namun berbagai survei menunjukkan bahwa kekhawatiran tersebut sering kali berlebihan, karena sebagian besar generasi muda justru tidak tertarik pada ajakan yang bersifat ekstrem atau memecah belah.

Dalam situasi seperti ini, pemuda memiliki peran strategis sebagai penyeimbang. Pemuda masjid dapat menjadi jembatan antara nilai-nilai keagamaan dengan realitas sosial yang terus berubah. Mereka dapat menghadirkan program kegiatan yang lebih kreatif dan relevan, seperti diskusi keislaman, kegiatan sosial, pendidikan digital, hingga kegiatan seni dan budaya yang bernuansa religius.

Selain itu, keterlibatan pemuda dalam pengelolaan masjid juga terbukti mampu meningkatkan partisipasi masyarakat. Organisasi kepemudaan masjid di berbagai daerah sering menginisiasi kegiatan pengajian, bakti sosial, pembinaan generasi muda, hingga kegiatan seni islami yang mampu menghidupkan masjid sebagai pusat aktivitas masyarakat.

 

Pemuda juga berperan penting dalam menjaga moderasi dan toleransi di ruang keagamaan. Dengan literasi digital yang baik, generasi muda dapat membantu menyaring informasi, melawan hoaks, serta mendorong narasi keagamaan yang damai dan inklusif. Hal ini sangat penting di era media sosial, ketika informasi yang tidak akurat dapat dengan cepat memicu konflik atau kesalahpahaman.

Lebih jauh lagi, masjid sebenarnya memiliki potensi besar sebagai pusat pemberdayaan sosial. Berbagai program sosial seperti layanan kesehatan, bantuan kemanusiaan, hingga kegiatan pendidikan dapat diselenggarakan melalui masjid dan memberi dampak nyata bagi masyarakat sekitar.

Oleh karena itu, pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton dalam dinamika yang terjadi di sekitar masjid. Mereka perlu hadir sebagai penggerak perubahan. Masjid harus kembali dimakmurkan oleh generasi muda dengan semangat keterbukaan, kreativitas, dan kepedulian sosial.

Jika pemuda mampu mengambil peran tersebut, masjid tidak hanya akan menjadi tempat ibadah semata, tetapi juga menjadi pusat peradaban yang menebarkan kedamaian, persatuan, dan kemajuan bagi masyarakat. Di tengah berbagai isu sensitif yang berkembang, kehadiran pemuda yang bijak dan visioner adalah kunci agar masjid tetap menjadi rumah bersama bagi umat.

 

*[Mohamad Soleh Kurniawan / Pengurus LPPEKIN DPD BKPRMI Kabupaten Banyuwangi]*

By redaksi

Lentera Sastra Banyuwangi merupakan wadah Literasi, Seni dan Budaya Banyuwangi dan Indonesia

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *