Lentera Sastra Banyuwangi

Pentingnya Media Digital Dalam Dunia Pendidikan

Pentingnya Media Digital Dalam Dunia Pendidikan

Oleh : Syafaat

Ada ungkapan yang kini terdengar seperti mantra baru di era digital: no viral, no justice, seolah kebenaran baru diakui setelah disahkan oleh linimasa. Yang tidak ramai dianggap tidak penting, yang tidak dibagikan seolah tidak pernah terjadi. Dalam dunia semacam ini, keadilan membutuhkan saksi bernama netizen, dan kebenaran harus lebih dulu melewati algoritma sebelum sampai ke nurani.

Maka lahirlah manusia-manusia yang merasa sangat pandai, wawasannya seolah membentang luas, referensinya bertumpuk seperti kitab-kitab yang disusun tergesa di rak maya. Jari-jarinya lincah menggulir layar, berpindah dari satu kabar ke kabar lain, dari satu pendapat ke pendapat berikutnya, tanpa sempat memberi jeda bagi hati untuk bertanya. Ia tahu banyak hal, atau setidaknya merasa tahu. Ia mengutip sana-sini, mencomot kalimat orang lain, menempelkan potongan informasi seperti kolase doa yang tak pernah benar-benar dihayati. Kata-katanya terdengar meyakinkan, namun sering kali kosong dari perenungan.

Padahal pengetahuan bukan sekadar tumpukan data, melainkan cahaya yang turun perlahan ke dalam batin. Ia tidak lahir dari kecepatan membaca, tetapi dari kesabaran memahami; dari keberanian untuk diam, menimbang, lalu menguji. Dalam tradisi iman, ilmu adalah amanah, bukan hiasan. Ia menuntut kejujuran, kerendahan hati, dan kesediaan untuk mengakui keterbatasan diri. Sebab tidak semua yang terlihat itu terpercaya, dan tidak semua yang ramai itu benar. Ada kebenaran yang justru tumbuh dalam sunyi, seperti dzikir yang tak dipamerkan, namun menggetarkan langit. Maka menjadi keniscayaan untuk belajar menahan diri: tidak tergesa menyimpulkan, tidak mabuk oleh tepuk tangan algoritma. Media digital memang anugerah. Ia membuka pintu-pintu yang dulu terkunci. Buku-buku yang dulu mahal kini bisa diakses gratis. Ruang kelas meluas melampaui tembok sekolah. Guru dan murid dapat bertemu tanpa harus berada di tempat yang sama. Pembelajaran menjadi visual, interaktif, kadang menyenangkan. Dunia pendidikan memperoleh sayap baru untuk terbang lebih jauh.

Tetapi setiap sayap selalu membawa risiko jatuh, media digital juga dapat melahirkan ilusi kepandaian instan. Seseorang merasa telah sampai hanya karena ia sering berangkat. Ia merasa menguasai hanya karena ia sering mengakses. Di sinilah pendidikan diuji: bukan sekadar menyampaikan informasi, melainkan membimbing akal agar tidak tersesat di rimba data.Di titik inilah, peran guru menjadi sangat men entukan. Guru bukan sekadar operator teknologi, bukan pula sekadar pengirim materi melalui platform daring. Guru adalah penyaring. Ia menjadi pagar agar murid tidak terjerumus pada informasi yang kehilangan konteks, kehilangan nilai, dan kehilangan kebenaran. Guru adalah penunjuk arah di tengah banjir pengetahuan. Namun ada sesuatu yang tak boleh dilupakan: algoritma tidak mengenal akhlak. Ia bekerja berdasarkan klik, bukan hikmah. Ia mempromosikan yang sering diulang, bukan yang paling benar. Di sinilah ilmu perlu dihadirkan pengetahuan beadab mengajarkan sanad: bahwa kebenaran memiliki jalur, memiliki mata rantai, memiliki tanggung jawab. Sesuatu tidak cukup benar hanya karena banyak yang membagikan; ia harus dapat dipertanggungjawabkan dari mana datangnya dan ke mana arahnya.

Teknologi boleh membantu, tetapi ia tidak boleh menggantikan nurani. Ia diciptakan sebagai sarana, bukan sebagai penentu kebenaran. Layar boleh memantulkan ribuan informasi, tetapi ia tak pernah mampu menakar kejujuran hati. Media digital boleh menjadi alat untuk menyebarkan ilmu, namun ia tidak pantas duduk sebagai hakim tunggal yang memutuskan salah dan benar. Sebab kebenaran sejati tidak lahir dari viralitas, melainkan dari kejernihan batin yang disinari adab dan hikmah.

Seorang pendidik yang bijak memahami batas itu. Ia memeluk teknologi dengan satu tangan, menggunakannya untuk membuka cakrawala, mempercepat akses, dan memperluas jangkauan. Namun tangan yang lain tetap menggenggam nilai: akhlak, keikhlasan, dan tanggung jawab moral. Ia melangkah maju tanpa kehilangan pijakan, sebab ia tahu kemajuan tanpa nilai hanya akan melahirkan kekosongan yang bising. Baginya, ilmu bukan sekadar apa yang bisa dibagikan, tetapi apa yang sanggup dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan dan sesama.

Dunia pendidikan pun tidak semata berdinding kelas dan berpagar kurikulum. Ia hidup di sekolah, bernafas di pesantren, dan berdenyut dalam ruang-ruang sederhana: di serambi masjid, di sudut perpustakaan sunyi, bahkan di antara kepulan kopi angkringan. Di sanalah percakapan kecil tentang hidup, iman, dan kemanusiaan sering kali lebih jujur daripada seminar yang gemerlap. Sebab pendidikan sejati adalah perjumpaan, antara akal dan hati, antara pengetahuan dan kebijaksanaan, antara manusia dan Tuhannya.

Pentingnya media digital dalam dunia pendidikan adalah sebuah kenyataan yang datang tanpa permisi. Ia tidak mengetuk pintu, tidak menunggu kesiapan kurikulum, tidak pula bertanya apakah para pendidik sudah rampung menyiapkan diri. Perubahan itu pasti terjadi. Kita setuju atau tidak, ikut atau tidak, dunia tetap melaju seperti waktu yang tak bisa ditawar. Sejarah selalu bergerak ke depan, dan manusia yang terlalu lama ragu sering kali tertinggal hanya sebagai catatan kaki.

Perubahan ini pasti terjadi, kita setuju atau tidak, ikut atau tidak. Dunia tidak menunggu kesiapan kita. Yang bisa kita pilih hanyalah peran: menjadi penonton yang sibuk berkomentar, menjadi pelaku yang sadar arah, atau menjadi korban yang hanyut tanpa sadar. Dan mungkin, di tengah gemuruh linimasa, tugas pendidikan yang paling sunyi adalah mengajarkan manusia agar tetap rendah hati di hadapan pengetahuan, dan tetap takut, bukan pada viralitas, melainkan pada kebenaran itu sendiri. Dan ada yang paling menyedihkan adalah mereka yang menjadi korban, hanyut tanpa sadar, mengira sedang belajar padahal perlahan kehilangan kemampuan untuk membedakan pengetahuan dan kebisingan.

Di sinilah pendidikan diuji. Bukan sekadar soal kecakapan mengoperasikan gawai atau kecerdikan menaklukkan algoritma, melainkan keberanian untuk tetap memelihara adab. Sebab ilmu, dalam tradisi yang berakar pada iman, selalu dimulai dari rasa takut, bukan takut tertinggal, bukan takut tak populer, tetapi takut keliru di hadapan kebenaran. Di tengah gemuruh linimasa yang memuja kecepatan dan sensasi, tugas pendidikan yang paling sunyi justru mengajarkan kerendahan hati di hadapan pengetahuan. Mengingatkan bahwa semakin banyak yang kita ketahui, semakin besar pula tanggung jawab untuk berhati-hati, pendidik sejati bukanlah mereka yang paling cepat mengikuti tren, melainkan yang paling setia menjaga nurani. Ia tahu, viralitas adalah ujian yang berisik, sementara kebenaran sering hadir dengan suara lirih. Dan mungkin, di zaman ini, mendidik berarti mengajarkan manusia untuk kembali gemetar, bukan oleh jumlah tayangan, melainkan oleh kesadaran bahwa setiap ilmu kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Penulis adalah Ketua Lentera Sastra Banyuwangi

 

By redaksi

Lentera Sastra Banyuwangi merupakan wadah Literasi, Seni dan Budaya Banyuwangi dan Indonesia

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *