Lentera Sastra Banyuwangi

Banyuwangi 254 Tahun: Sajadah Panjang Sejarah dan Doa yang Belum Selesai

Banyuwangi 254 Tahun: Sajadah Panjang Sejarah dan Doa yang Belum Selesai

Oleh : Syafaat

Angka 254 bukanlah deret angka yang mati di atas batu nisan, atau sekadar rumbai umbul-umbul yang lelah dihajar angin Selat Bali. Di tanah ini, angka adalah zikir yang panjang. Ia lahir dari sujud-sujud sunyi para lelaki yang tangannya menggenggam iman sekaligus menahan perih luka pedang. Banyuwangi, pada mulanya, adalah sebuah kitab besar yang ditulis dengan tinta yang barangkali terlalu kental: darah, air mata, dan doa-doa yang lebih sering dibisikkan di pematang sawah ketimbang diteriakkan di atas mimbar.

Ketika kita mengeja angka 254, kita sebenarnya sedang membuka kembali syahadat perlawanan dari belantara Bayu. Sebuah kesaksian bahwa tanah ini hanya punya satu Tuan: Yang Maha Merdeka. Dari Minak Jinggo hingga petani-petani tanpa nama, dari ibu-ibu penjaga lumbung hingga santri di surau bambu, mereka adalah barisan orang yang menolak menjual martabat demi sesuap kenyamanan. Mereka tahu benar bahwa kota ini tidak dibesarkan oleh kemewahan istana, melainkan oleh kesabaran yang disuling dari air sendang keramat.

Bagi saya, hari jadi bukanlah pesta cahaya, bukan hiruk-pikuk sorot lampu yang berlomba menaklukkan malam. Ia adalah miqat, sebuah saat sunyi ketika waktu menanggalkan kesibukan dan nurani dipanggil pulang. Di titik inilah kita berhenti melangkah, menunduk, dan bercermin pada jejak para pendahulu yang menanam amanah dengan doa dan peluh.

Hari jadi seharusnya menjadi waktu muhasabah: apakah kita masih setia menjaga titipan itu, atau justru larut menghitung kilau batu trotoar, bangga pada kemajuan yang tampak, seraya menutup mata pada luka-luka yang belum sembuh di pinggiran. Di sana, ada suara lirih yang tak terdengar oleh gemerlap panggung—suara kaum kecil, tanah yang kehilangan ingatan, dan tradisi yang perlahan disenyapkan.

Pada hari jadi, kota dan manusia diuji bukan oleh gemerlapnya, melainkan oleh kejujurannya. Apakah ia masih ingat asal-usulnya, masih mau menunduk pada nilai, dan masih sanggup memeluk yang tertinggal. Sebab kemajuan sejati bukanlah berlari meninggalkan akar, melainkan melangkah jauh dengan hati yang tetap bersujud pada sejarah dan masa depan yang diridhai. Perang Puputan Bayu 1771 itu bukan soal kalah-menang di atas kertas sejarah. Itu adalah fajar sejati yang mengingatkan kita bahwa kehormatan jauh lebih mahal daripada umur panjang yang hampa harga diri. Di Bayu, membela tanah air bukan sekadar urusan administrasi negara, melainkan sebuah ibadah. Menjaga bumi adalah amanah Ilahi, bukan komoditas untuk dieksploitasi dengan rakus.

Kita melihat hari ini tetangga-tetangga kita di Tapal Kuda mulai bersolek. Bandara-bandara baru ingin ikut membelah langit, aspal-aspal runway direntangkan seperti urat nadi baru. Banyak yang membacanya sebagai perlombaan: siapa yang paling cepat, siapa yang paling gemerlap. Namun, Banyuwangi tidak punya watak rakus untuk menelan sekelilingnya. Sejarah Blambangan adalah sejarah tentang ruang yang luas, ruang persaudaraan. Kita tidak sedang sikut-sikutan di lintasan lari; kita adalah kafilah besar yang sedang tandang bareng. Banyuwangi memilih menjadi lilin yang menyulut lilin-lilin lain. Sebab, cahaya tidak akan pernah berkurang hanya karena ia dibagi.

Namun, marilah kita berlaku jujur pada nurani, sebab di sanalah Tuhan sering menitipkan pertanyaan-pertanyaan paling sunyi. Apakah semua yang kita bangun telah menjelma jembatan doa bagi rakyat kecil, atau justru menjadi monumen bisu, tegak dan megah, bagi segelintir yang mampu membeli tiket terbang dan memandang tanah ini dari ketinggian tanpa pernah menyentuh debunya?

Pembangunan yang tercerabut dari dimensi ketuhanan dan kemanusiaan hanyalah raga tanpa ruh: berdiri, tetapi hampa; bergerak, tetapi tak bernyawa. Ia mungkin mencatatkan angka-angka pertumbuhan di atas kertas, namun gagal membaca ayat-ayat penderitaan yang tertulis di wajah-wajah petani di kaki Gunung Raung dan nelayan di Muncar. Mereka tidak membutuhkan grafik yang menanjak jika dapur tetap sunyi, jika periuk hanya memantulkan bunyi kosong, dan asap syukur tak pernah mengepul ke langit.

Di sanalah seharusnya pembangunan diuji, bukan pada seberapa tinggi ia menjulang, melainkan seberapa dalam ia menunduk. Apakah ia sanggup bersujud bersama cangkul yang letih dan jala yang basah, mendengarkan doa-doa sederhana yang lahir dari tangan kasar dan laut yang tak selalu ramah. Sebab hanya pembangunan yang lahir dari empati dan disucikan oleh keadilanlah yang mampu menjadi amal jariyah: mengalirkan manfaat, menghangatkan dapur, dan mengantarkan syukur dari bumi ke langit.

Di sini, seni seperti Gandrung tidak pernah lahir sebagai tontonan kosong. Setiap lenggoknya adalah sajadah panjang tempat syukur diletakkan. Ketika kendang bertalu, ada getaran kalbu yang mengingatkan bahwa alam pun sedang bertasbih dengan caranya sendiri. Tantangan kita hari ini bukan lagi meriam penjajah, melainkan sesuatu yang lebih berbahaya: amnesia sejarah dan kekeringan spiritual. Jangan sampai gedung-gedung tinggi membuat kita lupa menunduk ke akar. Jangan sampai jalan-jalan lebar justru menjauhkan langkah kita dari jejak para leluhur. Kota yang besar bukan yang kuat betonnya, melainkan yang utuh jiwanya.

Di usia 254 ini, Banyuwangi harus kembali berwudu pada sejarahnya. Menyiram ingatan yang mulai kering dengan mata air spiritualitas. Kita menginginkan kemajuan yang memiliki aroma tanah petani dan modernitas yang masih menyimpan gema selawat syahdu dari surau-surau. Kota ini harus tetap menjadi lentera—yang memberi hangat tanpa harus membakar, dan memberi arah bagi mereka yang hampir kehilangan makna tentang jalan pulang.

Penulis adalah :  Ketua Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi.

 

By redaksi

Lentera Sastra Banyuwangi merupakan wadah Literasi, Seni dan Budaya Banyuwangi dan Indonesia

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *