Banyuwangi (Lentera Sastra) Sabtu malam (7/2/2026) di Perkebunan Treblasala, Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, ratusan warga berkumpul bukan untuk pesta, melainkan untuk saling mendengar. Dalam balutan Cangkrukan Diskusi Kamtibmas bertajuk “Candi Mas”, malam menjelma ruang dialog—tempat pemerintah, aparat, dan warga duduk setara, menautkan suara dan harapan.
Hadir langsung Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani bersama Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Rofiq Ripto Himawan. Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono turut membersamai. Mereka berdialog dengan warga, tokoh agama, dan tokoh masyarakat setempat, membiarkan pertanyaan mengalir apa adanya, tanpa sekat protokoler.
Dalam suasana yang hangat, Bupati Ipuk mengajak warga untuk bersama-sama membangun Banyuwangi dengan kepedulian yang dimulai dari sekitar. Ia menekankan pentingnya kepekaan sosial: anak putus sekolah, warga sakit, atau persoalan mendesak lainnya agar segera dilaporkan kepada aparat desa supaya cepat ditindaklanjuti.
“Ini adalah bentuk kehadiran sekaligus pelayanan pemerintah kepada masyarakat,” ujar Ipuk, menegaskan bahwa negara seharusnya hadir bukan hanya lewat kebijakan, tetapi juga lewat telinga yang mau mendengar.
Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Rofiq Ripto Himawan menambahkan ajakan untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Ia menyoroti keselamatan berlalu lintas, terutama terkait anak-anak yang belum cukup umur agar tidak mengendarai sepeda motor—sebuah ikhtiar kecil demi keselamatan besar.
Pada forum itu pula, warga mengajukan pertanyaan seputar layanan pernikahan di Kantor Urusan Agama (KUA), termasuk isu adanya oknum yang dianggap mempersulit pernikahan gratis. Pertanyaan tersebut dijawab langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi yang diwakili Kasi Bimas Islam. Dijelaskan bahwa masyarakat berhak mendapatkan layanan pernikahan gratis di KUA. Adapun jika pernikahan dilaksanakan di luar balai nikah, dikenakan biaya PNBP sebesar Rp 600.000 (eam ratus ribu rupiah) sesuai ketentuan yang berlaku. 
Malam Candi Mas kian bermakna dengan pengajian yang meneduhkan, sekaligus beragam layanan publik yang dibuka oleh Pemkab dan Polresta Banyuwangi. Mulai dari pengurusan administrasi kependudukan, layanan pernikahan dari Kemenag, pengurusan SIM, hingga pemeriksaan kesehatan gratis—semuanya hadir di tengah warga, tanpa jarak.
Di Treblasala, negara tak datang sebagai menara tinggi, melainkan sebagai tetangga yang menyapa. Di bawah lampu malam dan doa yang dipanjatkan, Candi Mas menjadi pengingat: keamanan, pelayanan, dan kesejahteraan tumbuh dari dialog—dari keberanian untuk duduk bersama dan saling menjaga.
