Fatah Yasin Nor
Salju
Aku petik puluhan buah puisi dari Eropa. Tentang salju putih yang turun di bulan Februari. Dari musim ke musim, dan cerobong asap di rumah-rumah berbata merah. Aku petik kehangatan jas tebal berbulu domba. Perapian di ruang tamu yang terus menyala. Meja makan dari kayu oak. Remah roti tersisa di piring keramik. Botol-botol kaca aneka rupa. Aku sesap minuman anggur, perlahan menghangatkan tubuh. Musim dingin yang kualami setiap tahun. Butiran putih beterbangan di udara. Memandang ke luar dari jendela kaca yang berembun. Sunyi yang syahdu. Sepi yang anggun. Salju putih dari serbuk putih melayang di udara. Keindahan yang pelan-pelan masuk dalam bahasa. Dinginnya seperti ingin mengusir kenangan daerah tropis. Dingin yang nikmat. Diam bersidekap dekat perapian. Pemanas ruangan di kamar tidur. Pikiran berjalan bersama salju. Waktu membebaskan bahasa memilih kata. Siapa tahu kelak masih ada rindu. Cintaku hanya untukmu. Takdir yang menuntun mataku mengabu. Kalau aku mati, salju tak bisa kusentuh akan mencair di musim semi.
(2026)
