Lentera Sastra Banyuwangi

Penarikan Mahasiswa PPL UNIIB Antara Teori dan Kenyataan

Banyuwangi (Lentera Sastra)  Suasana khidmat menyelimuti Aula bawah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Rabu (11/02/2026). Di ruang yang biasanya menjadi tempat berjalinnya urusan-urusan administratif itu, pagi terasa berbeda: lebih hening, lebih teduh, seolah waktu ikut menundukkan kepala menyaksikan sebuah penanda perjalanan.

Hari itu digelar prosesi penarikan mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Fakultas Syariah Universitas Islam Ibrahimy (UNIIB) Genteng. Sebuah seremoni yang bukan sekadar agenda formal, melainkan simpul dari perjumpaan ilmu dan realitas, antara ruang kuliah dan denyut pelayanan keagamaan di Kantor Urusan Agama (KUA) se-Kabupaten Banyuwangi.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi melalui Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam menyampaikan bahwa PPL adalah bagian penting dari perjalanan akademik mahasiswa. Di sanalah teori diuji oleh kenyataan, dan idealisme bertemu dengan kompleksitas kehidupan umat.

“Pelayanan keagamaan tidak selalu berjalan di jalan yang rata,” tuturnya. “Namun justru dari dinamika itulah mahasiswa belajar memahami realitas, mengasah kepekaan, serta membangun kedewasaan dalam bersikap.”

Ia menegaskan, setiap proses memiliki warna dan pelajaran. Pengalaman yang ditempa di ruang-ruang KUA—dari pencatatan nikah, konsultasi keluarga, hingga layanan administrasi keagamaan—menjadi laboratorium sosial yang tak tergantikan. Hal-hal baik, lanjutnya, patut dikembangkan; sementara kekurangan adalah ruang terbuka untuk perbaikan bersama.

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga pelayanan publik. Kolaborasi tersebut bukan sekadar kerja sama administratif, melainkan ikhtiar strategis untuk meningkatkan mutu pelayanan keagamaan sekaligus menyiapkan generasi sarjana yang tidak hanya cakap dalam teori, tetapi juga tangguh di medan pengabdian.

Sementara itu, Rektor UNIIB yang diwakili Dekan Fakultas Dakwah, Akhmad Rudi Maswanto, menyampaikan apresiasi atas dukungan dan pendampingan yang diberikan jajaran Kemenag Banyuwangi, khususnya para Kepala KUA yang telah menjadi mitra pembelajaran mahasiswa.

“Kami mengucapkan terima kasih atas kesempatan dan bimbingan yang telah diberikan. Mahasiswa kami memperoleh pengalaman yang sangat berharga, bukan hanya secara akademis, tetapi juga dalam pembentukan karakter dan pemahaman praktik pelayanan keagamaan secara nyata,” ujarnya.

Ia berharap jalinan kerja sama antara UNIIB dan Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi terus berlanjut sebagai wujud nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, terutama dalam bidang pengabdian kepada masyarakat. Sebab di titik itulah ilmu menemukan maknanya: ketika ia menyentuh kehidupan, menyapa umat, dan menjelma menjadi pelayanan.

Acara tersebut turut dihadiri para Kepala KUA lokasi PPL, yang selama masa praktik mendampingi mahasiswa menjalankan tugas-tugas pelayanan. Kebersamaan itu menjadi simbol komitmen kolektif dalam membina calon-calon sarjana syariah agar tidak hanya unggul dalam argumentasi, tetapi juga arif dalam praktik.

Kini, masa PPL telah usai. Namun yang berakhir hanyalah penempatan administratifnya. Pengalaman empiris yang telah dirajut—dalam dialog dengan masyarakat, dalam dinamika pelayanan, dalam kesabaran menghadapi persoalan—akan pulang bersama mereka. Menjadi bekal pengabdian di hari depan.

Dari aula yang khidmat itu, para mahasiswa kembali ke kampus dengan sesuatu yang tak tercatat di transkrip nilai: kedewasaan yang tumbuh perlahan, serta kesadaran bahwa pelayanan keagamaan bukan sekadar tugas, melainkan amanah yang menuntut ilmu, integritas, dan ketulusan.

By redaksi

Lentera Sastra Banyuwangi merupakan wadah Literasi, Seni dan Budaya Banyuwangi dan Indonesia

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *