BANYUWANGI (Lensa Banyuwangi) Di sebuah malam tenang berselimut mendung di halaman Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, langkah sunyi literasi menjelma menjadi peristiwa perjalanan religi. Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Akhmad Sruji Bahtiar, mempersembahkan sebuah karya yang tidak sekadar buku, melainkan perjalanan jiwa mengenal dirinya sendiri bertajuk Suluk Pelita Hati.
Karya yang ditulis sejak 2025 hingga rampung pada 2026 itu diserahkan kepada Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, sebagai simbol bahwa ilmu dan kepemimpinan dapat bersua dalam satu ruang pengabdian. Banyuwangi dipilih bukan semata tempat, melainkan tanah yang telah lama merawat tradisi kata, di mana pena menjadi saksi tumbuhnya kesadaran, dari ruang kelas madrasah hingga meja kerja para abdi negara.
Suluk Pelita Hati bukan hanya himpunan tulisan, melainkan cermin perenungan. Di dalamnya, tersimpan serpih-serpih nasihat, gema pidato, dan bisikan nilai yang mengajak pembacanya kembali menengok ke dalam diri, bahwa jabatan hanyalah titipan, dan kuasa hanyalah jalan menuju pertanggungjawaban yang lebih tinggi.
Karya ini mula-mula hadir dalam bentuk digital melalui Lentera Sastra Banyuwangi, sebuah komunitas senyap yang dihuni para pencinta kata, tempat huruf-huruf dirangkai menjadi doa yang tak terucap, dalam lembar-lembar digial mauoun terssun rapi berjajar di lembaran kertas.
Dalam sambutannya, Ipuk Fiestiandani menegaskan bahwa pendidikan adalah jalan bersama, tanpa sekat antara sekolah dan madrasah. Ia melihat generasi Banyuwangi sebagai benih-benih harapan yang harus dirawat dengan kasih dan kebijaksanaan, agar tumbuh tidak hanya cerdas, tetapi juga berjiwa utuh.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Chaironi Hidayat, menyampaikan rasa syukur atas sinergi yang terjalin. Dukungan pemerintah daerah, dari hibah lahan hingga bantuan pendidikan, menjadi bukti bahwa pengabdian dapat bertemu dalam satu niat: membangun generasi yang berakar pada nilai.
Dalam refleksi yang lirih namun dalam, Akhmad Sruji Bahtiar mengingatkan bahwa jabatan adalah ujian yang kerap membungkus diri dalam kemegahan. Padahal, di baliknya tersimpan amanah yang kelak akan dimintai jawab, tidak hanya oleh manusia, tetapi oleh Yang Maha Mengetahui.
“Jabatan itu fana, amanah itu abadi,” ungkapnya, seolah menegaskan bahwa setiap langkah pengabdian adalah suluk atau perjalanan menuju kedewasaan ruhani.
Ketua Lentera Sastra Banyuwangi, Syafaat, menyebut peluncuran ini sebagai pengingat bahwa menulis bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi juga laku spiritual, mengikat makna, merawat kesadaran, dan menyalakan pelita di tengah gelapnya zaman.
Peluncuran Suluk Pelita Hati akhirnya menjadi lebih dari sekadar seremoni. Ia adalah peristiwa batin, di mana kata, amanah, dan pengabdian bersatu dalam satu tarikan napas, mengajak setiap insan untuk kembali berjalan, menapaki jalan sunyi menuju kejujuran diri.
