Idul Adha selalu datang dengan suara takbir, aroma rumput kandang, dan lalu lintas manusia yang sibuk membagikan daging kurban. Namun di balik ritual tahunan itu, ada pertanyaan yang jarang benar-benar dijawab secara serius: mengapa umat yang setiap tahun merayakan pengorbanan masih begitu akrab dengan kemalasan, ketergantungan, dan mental menunggu?
Padahal Idul Adha sejatinya bukan hanya perayaan ibadah. Ia adalah sekolah mental tentang keberanian, kerja keras, disiplin, dan keikhlasan melepaskan kenyamanan. Nilai-nilai yang justru menjadi fondasi utama lahirnya generasi produktif.
Masalahnya, sebagian masyarakat hari ini terlalu lama memahami kurban sebatas seremoni spiritual. Yang dirayakan hanya penyembelihan hewan, tetapi semangat pengorbanannya tidak benar-benar hidup dalam cara berpikir. Akibatnya, Idul Adha sering selesai di meja makan tanpa pernah benar-benar masuk ke dalam kesadaran sosial.
Padahal bangsa ini sedang menghadapi persoalan serius: krisis produktivitas generasi muda.
Banyak anak muda tumbuh dalam budaya instan. Mereka ingin hasil cepat tanpa proses panjang. Media sosial memperparah keadaan. Orang lebih tertarik terlihat sukses dibanding benar-benar membangun kemampuan. Yang dipoles adalah citra, bukan kualitas diri. Anak muda berlomba menjadi viral, tetapi malas menjadi kompeten.
Ekonom dan pakar manajemen modern Peter Drucker pernah mengatakan, “The best way to predict the future is to create it.” Cara terbaik memprediksi masa depan adalah dengan menciptakannya. Kalimat ini relevan dengan kondisi generasi muda hari ini yang sering terlalu sibuk menunggu kesempatan dibanding menciptakan peluang.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan tingkat pengangguran terbuka usia muda di Indonesia masih menjadi yang tertinggi dibanding kelompok usia lainnya. Di tengah terbukanya peluang ekonomi digital dan industri kreatif, sebagian generasi muda justru terjebak menjadi konsumen pasif di era teknologi.
Sebagian sibuk menggulir layar berjam-jam setiap hari, tetapi tidak pernah benar-benar meningkatkan kapasitas dirinya. Sebagian lain terlalu takut gagal sehingga memilih tidak mencoba apa pun. Ada pula yang tumbuh dengan mental serba nyaman: ingin berhasil, tetapi alergi terhadap pengorbanan.
Di titik inilah Idul Adha menemukan relevansinya.
Kisah Nabi Ibrahim bukan cerita tentang penyembelihan semata. Ia adalah pelajaran tentang keberanian mengorbankan sesuatu yang paling dicintai demi tujuan yang lebih besar. Dalam kehidupan modern, semangat itu bisa diterjemahkan menjadi keberanian mengorbankan ego, rasa malas, gengsi, dan kebiasaan buruk yang menghambat pertumbuhan diri.
Psikolog terkenal Angela Duckworth, penulis buku Grit, menyebut bahwa kesuksesan bukan hanya soal bakat, tetapi kombinasi antara ketekunan dan daya tahan menghadapi proses panjang. Menurutnya, “Enthusiasm is common. Endurance is rare.” Semangat mudah ditemukan, tetapi daya tahan adalah sesuatu yang langka.
Kalimat itu terasa seperti tamparan bagi budaya instan yang berkembang hari ini.
Sebab generasi produktif tidak lahir dari kenyamanan.
Ia lahir dari disiplin yang melelahkan. Dari kegagalan yang berulang. Dari proses panjang yang sering tidak mendapat tepuk tangan siapa pun. Produktivitas bukan soal sibuk terlihat bekerja, tetapi tentang kesediaan membangun nilai secara konsisten.
Sayangnya, budaya populer justru menjauhkan anak muda dari proses itu. Dunia digital menciptakan ilusi bahwa hidup harus selalu cepat. Orang melihat kesuksesan dalam bentuk hasil akhir, tetapi tidak pernah benar-benar memahami luka dan perjuangan di belakangnya.
Akibatnya, banyak anak muda kehilangan daya tahan mental.
Mereka mudah menyerah hanya karena gagal sekali. Mudah minder melihat pencapaian orang lain. Mudah putus asa ketika hidup tidak berjalan sesuai ekspektasi. Padahal kehidupan nyata tidak pernah tumbuh dari algoritma media sosial. Ia tumbuh dari ketekunan yang sepi.
Tokoh pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, jauh hari sebenarnya telah mengingatkan pentingnya membangun manusia yang mandiri dan kuat secara karakter. Baginya, pendidikan bukan hanya membuat seseorang pintar, tetapi juga mampu berdiri di atas kekuatan dirinya sendiri.
Idul Adha seharusnya mengajarkan bahwa sesuatu yang besar selalu membutuhkan pengorbanan besar.
Tidak ada usaha yang berkembang tanpa kerja keras. Tidak ada kapasitas diri yang meningkat tanpa belajar serius. Tidak ada kemandirian ekonomi tanpa keberanian mengambil risiko. Bahkan seekor hewan kurban pun tidak lahir dari proses instan. Ia dipelihara, dirawat, dibesarkan, lalu dipersiapkan dengan penuh kesungguhan.
Anehnya, manusia modern justru ingin semuanya serba cepat.
Kita hidup di zaman ketika motivasi dijual lebih banyak daripada kerja nyata. Seminar tentang sukses penuh sesak, tetapi ruang belajar keterampilan sering sepi. Orang ingin menjadi pengusaha, tetapi tidak tahan memulai dari kecil. Ingin kaya, tetapi malas membangun disiplin.
Lebih ironis lagi, sebagian anak muda kini tumbuh dalam budaya konsumtif yang agresif. Penghasilan kecil dipaksa terlihat besar demi gaya hidup. Ukuran keberhasilan berubah menjadi barang yang dipakai, bukan kemampuan yang dimiliki.
Padahal generasi produktif lahir bukan dari kemewahan, melainkan dari kemampuan mengelola diri.
Filsuf sekaligus ulama Muslim Buya Hamka pernah menulis, “Kemajuan hidup terletak dalam gerak.” Pesan sederhana itu mengandung makna mendalam: hidup tidak berubah hanya karena keinginan, tetapi karena tindakan nyata.
Spirit kurban sebenarnya sangat dekat dengan konsep pembangunan kapasitas anak muda. Ada keberanian menunda kesenangan demi masa depan. Ada kemauan berbagi dan membangun solidaritas sosial. Ada pelajaran tentang tanggung jawab dan kepedulian terhadap sesama.
Nilai-nilai itu sangat penting di tengah ancaman bonus demografi Indonesia.
Bonus demografi hanya akan menjadi berkah apabila diisi oleh generasi yang produktif, inovatif, dan memiliki daya saing. Tetapi jika anak mudanya tumbuh malas, rapuh mental, dan kehilangan etos kerja, bonus itu justru berubah menjadi beban sosial yang besar.
Karena itu, Idul Adha tidak cukup dirayakan dengan takbir dan pembagian daging semata. Momentum ini harus menjadi refleksi sosial tentang bagaimana bangsa ini mempersiapkan generasi mudanya.
Anak muda perlu didorong menjadi pencipta peluang, bukan sekadar pencari pekerjaan. Mereka harus dibiasakan membangun keterampilan, keberanian, dan daya tahan menghadapi kegagalan. Sebab masa depan tidak dimenangkan oleh mereka yang paling banyak mengeluh, tetapi oleh mereka yang paling siap bekerja keras.
Dan mungkin, itulah makna Idul Adha yang paling sering terlupakan. Bahwa pengorbanan bukan sekadar ritual tahunan. Melainkan fondasi lahirnya manusia-manusia tangguh. Manusia yang tidak sibuk mencari jalan pintas. Tetapi berani bertumbuh melalui proses panjang.
Sebab pada akhirnya, bangsa besar tidak dibangun oleh generasi yang hanya pandai berbicara. Melainkan oleh generasi yang rela bekerja, belajar, dan berkorban untuk masa depan yang lebih baik.
(Mohamad Soleh Kurniawan, SE / Staf pada Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Perdagangan Kabupaten Banyuwangi)