Lentera Sastra Banyuwangi
29 Mei 2026

Pancasila dan Remaja Masjid: Menjaga Ukhuwah di Tengah Era Digital

Peringatan Hari Lahir Pancasila setiap tanggal 1 Juni menjadi momentum penting untuk kembali mengingat nilai persatuan dan kebersamaan dalam kehidupan berbangsa. Di tengah perkembangan teknologi dan media sosial yang semakin cepat, semangat tersebut perlu terus dijaga, terutama oleh generasi muda, termasuk para remaja masjid.

Saat ini, remaja hidup di era digital yang penuh kemudahan informasi. Melalui media sosial, seseorang dapat dengan mudah menerima berbagai berita, pendapat, maupun konten keagamaan. Namun di sisi lain, ruang digital juga sering dipenuhi ujaran kebencian, saling menyalahkan, hingga perdebatan yang memecah persaudaraan. Tidak sedikit anak muda yang akhirnya mudah terpengaruh oleh sikap intoleran dan fanatisme berlebihan.

Di sinilah peran penting remaja masjid diperlukan. Remaja masjid bukan hanya sekadar kelompok kegiatan keagamaan, tetapi juga bagian dari generasi penerus bangsa yang memiliki tanggung jawab menjaga ukhuwah dan persatuan masyarakat. Semangat ini sejalan dengan nilai-nilai Pancasila yang mengajarkan toleransi, kemanusiaan, dan persatuan Indonesia.

Islam sendiri mengajarkan pentingnya menjaga persaudaraan dan menghormati sesama. Dakwah tidak dilakukan dengan kebencian atau permusuhan, melainkan melalui akhlak yang baik dan sikap penuh hikmah. Karena itu, remaja masjid perlu hadir sebagai contoh generasi muda yang santun dalam berbicara, bijak menggunakan media sosial, dan mampu menjaga suasana damai di lingkungan masyarakat.

Hari ini, tantangan terbesar bukan hanya soal kurangnya pengetahuan agama, tetapi juga lemahnya etika dalam bermedia sosial. Banyak orang mudah menyebarkan informasi tanpa memastikan kebenarannya. Bahkan, perbedaan pendapat sering berubah menjadi pertengkaran yang merusak persaudaraan. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka semangat persatuan bangsa dapat semakin melemah.

Remaja masjid memiliki peluang besar untuk menjadi penggerak kebaikan di tengah masyarakat. Kegiatan keagamaan tidak hanya fokus pada ibadah semata, tetapi juga dapat diarahkan pada kegiatan sosial, edukasi digital, kepedulian lingkungan, dan penguatan nilai kebangsaan. Dengan cara itu, masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pembinaan generasi muda yang berakhlak dan cinta tanah air.

Nilai-nilai Pancasila sebenarnya sangat dekat dengan ajaran Islam. Sikap saling menghormati, membantu sesama, musyawarah, dan menjaga persatuan merupakan bagian dari akhlak yang diajarkan agama. Karena itu, menjadi religius dan mencintai bangsa bukanlah dua hal yang bertentangan.

Momentum Hari Lahir Pancasila seharusnya menjadi pengingat bahwa menjaga Indonesia tidak hanya tugas pemerintah atau tokoh masyarakat, tetapi juga tanggung jawab generasi muda. Dan remaja masjid dapat menjadi contoh bahwa dakwah dan semangat kebangsaan bisa berjalan bersama. Jika remaja masjid mampu menghadirkan dakwah yang sejuk, santun, dan penuh kepedulian sosial, maka ukhuwah di tengah masyarakat akan tetap terjaga. Dari masjid, semangat persatuan dan nilai Pancasila dapat terus hidup untuk masa depan Indonesia yang lebih damai dan harmonis.

Oleh :
Imam Muslih, A.Md.,S.E.,M.E
Bendahara Daerah Lembaga Dakwah dan Studi Islam (LDSI) DPD BKPRMI Banyuwangi dan Ketua DPK BKPRMI Kec. Giri

By Mujiono ,S.H.

Ketua Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Banyuwangi

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *