Lentera Sastra Banyuwangi

SNNU Dorong Wongsorejo Jadi Kawasan Pesisir Berdaya

BANYUWANGI – Kawasan pesisir Wongsorejo menyimpan potensi ekonomi yang besar. Aktivitas nelayan, budidaya perikanan, usaha hasil laut, hingga UMKM menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat di wilayah paling utara Kabupaten Banyuwangi tersebut.

Potensi itu menjadi perhatian Pimpinan Cabang Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama (PC SNNU) Kabupaten Banyuwangi. Organisasi yang bergerak di bidang kemaritiman dan pemberdayaan nelayan tersebut mulai membuka ruang kolaborasi dengan warga Nahdliyin di Kecamatan Wongsorejo.

Gagasan tersebut mengemuka dalam kegiatan Ngerandu NU di Kantor MWC NU Kecamatan Wongsorejo, Ahad (9/8/2026). Sekretaris PC SNNU Banyuwangi, Mohamad Soleh Kurniawan, SE, hadir bersama sejumlah pengurus mewakili Ketua PC SNNU Banyuwangi.

Ngerandu NU menjadi forum silaturahmi sekaligus konsolidasi PCNU Banyuwangi bersama struktur NU di tingkat kecamatan. Pertemuan di Wongsorejo tersebut dihadiri jajaran Rais Syuriah dan Tanfidziyah PCNU Banyuwangi serta ratusan warga Nahdliyin.

Di hadapan peserta, Soleh memperkenalkan sejumlah agenda SNNU, khususnya yang berkaitan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir. Ia menegaskan bahwa kehadiran SNNU dalam Ngerandu NU bukan sekadar menjalankan agenda kelembagaan.

“Ini menjadi momentum untuk membuka komunikasi dan membangun kolaborasi dengan keluarga besar NU di Wongsorejo. Kami ingin melihat potensi yang ada sekaligus mendengar kebutuhan masyarakat,” ujar Soleh.

Menurutnya, Wongsorejo mempunyai posisi strategis dalam pengembangan sektor kelautan Banyuwangi. Kehidupan masyarakat di sejumlah kawasan tidak dapat dilepaskan dari laut, baik sebagai sumber mata pencaharian maupun sebagai ruang tumbuhnya berbagai aktivitas ekonomi.

Di kawasan tersebut terdapat nelayan, pembudidaya ikan, pelaku usaha hasil laut, UMKM, serta berbagai aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan sumber daya pesisir.

“Potensinya besar. Tinggal bagaimana potensi tersebut diperkuat dengan sumber daya manusia, jaringan usaha, pendampingan, dan akses yang memadai,” katanya.

Atas dasar itu, SNNU ingin mendorong model pemberdayaan yang tidak berhenti pada bantuan sesaat. Pemberdayaan diarahkan pada peningkatan kapasitas masyarakat sehingga nelayan dan pelaku ekonomi pesisir mampu mengembangkan usaha secara mandiri dan berkelanjutan.

Bidang Pemberdayaan Ekonomi Pesisir menjadi salah satu bagian yang akan didorong untuk membangun komunikasi dengan masyarakat. SNNU juga melihat pentingnya mempertemukan pelaku usaha pesisir dengan lembaga pendidikan, jejaring ekonomi, pemerintah, serta berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap pengembangan masyarakat pesisir.

Soleh menyadari bahwa agenda tersebut tidak mungkin dibebankan kepada satu organisasi. Justru kolaborasi menjadi kunci agar program pemberdayaan tidak berhenti sebagai gagasan.

“SNNU tidak bisa bekerja sendiri. Potensi masyarakat akan menjadi kekuatan apabila dikerjakan bersama-sama,” ujarnya.

Selain pemberdayaan ekonomi, SNNU Banyuwangi juga mulai menaruh perhatian pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Salah satu gagasan yang sedang dikembangkan adalah membuka akses pendidikan melalui program beasiswa bagi masyarakat dari keluarga kurang mampu.

Program tersebut diarahkan melalui kerja sama dengan lembaga pendidikan dan perguruan tinggi. Harapannya, anak-anak dari keluarga nelayan dan masyarakat pesisir mempunyai kesempatan lebih luas untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi.

Bagi SNNU, pendidikan merupakan investasi jangka panjang. Pesisir yang berdaya tidak hanya membutuhkan nelayan yang kuat secara ekonomi, tetapi juga generasi muda yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan membaca peluang.

Gagasan tersebut mendapat respons positif dari peserta Ngerandu NU. Salah seorang peserta, Hadi Istijab, menilai kehadiran SNNU di Wongsorejo dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk menyampaikan berbagai persoalan sekaligus menawarkan potensi yang dimiliki.

Menurut Hadi, keberadaan SNNU akan lebih bermakna apabila diterjemahkan dalam bentuk pendampingan dan kerja nyata di tengah masyarakat.

“SNNU jangan hanya dikenal sebagai struktur organisasi. Yang lebih penting adalah bagaimana kehadirannya bisa mendengar kebutuhan masyarakat dan kemudian membangun langkah bersama,” katanya.

Ia melihat antusiasme warga dalam kegiatan tersebut sebagai modal awal untuk membangun program pemberdayaan masyarakat pesisir.

Menurutnya, nelayan dan masyarakat pesisir tidak semata membutuhkan bantuan, tetapi juga membutuhkan akses, pengetahuan, jejaring, pendampingan, serta ruang untuk mengembangkan potensi yang sudah mereka miliki.

“Pemberdayaan nelayan akan semakin kuat jika berangkat dari potensi lokal, melibatkan masyarakat, dan dilakukan secara konsisten. Dari sinilah semangat pesisir berdaya bisa tumbuh,” ujar Hadi.

Bagi Wongsorejo, laut bukan sekadar batas geografis. Laut adalah ruang kehidupan, sumber penghidupan, sekaligus peluang ekonomi. Karena itu, penguatan masyarakat pesisir membutuhkan cara pandang yang lebih luas: bukan hanya bagaimana mengambil hasil laut, tetapi bagaimana membangun ekosistem ekonomi yang membuat masyarakat pesisir semakin mandiri.

Melalui kolaborasi dengan keluarga besar NU, SNNU Banyuwangi berharap potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi baru. Pesisir Wongsorejo tidak hanya kaya sumber daya, tetapi juga mampu melahirkan masyarakat yang berdaya, mandiri, dan memiliki masa depan.

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *