Oleh : Haikal Kafili
(wakil Sekretaris PCNU Banyuwangi)
Sabtu pagi ini saya kembali membuka kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Pengajian seperti ini sebenarnya sudah menjadi bagian dari kehidupan keluarga kami. Sejak zaman kakek, dari generasi ke generasi, kebiasaan ngaji kitab terus dijaga. Sampai akhirnya hari ini saya yang berada di posisi meneruskan tradisi itu.
Yang saya rasakan, semakin bertambah umur, mengaji itu bukan hanya soal mendapatkan pengetahuan baru. Kadang justru kita menemukan sesuatu yang membuat kita bercermin kepada diri sendiri.
Pagi ini kita masih berada pada pembahasan hadis:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkannya menempuh jalan menuju surga.”
Kalau kita dengarkan sekilas, hadis ini sederhana. Orang yang mencari ilmu akan dimudahkan jalan menuju surga.
Tetapi ketika Mbah Hasyim mengupas hadis ini, beliau mengutip penjelasan seorang ulama yang menarik, yaitu Syekh ath-Ṭībī, nama lengkapnya Syarafuddin al-Husain bin Muhammad ath-Ṭībī, seorang ulama ahli hadis, bahasa Arab dan balaghah yang wafat sekitar 743 Hijriyah.
Yang menarik dari penjelasan ath-Ṭībī adalah bagaimana beliau membaca kata طَرِيقًا — ṭarīqan, atau “jalan”.
Beliau mengatakan bahwa kata jalan dalam hadis itu dibuat umum. Artinya, jalan mencari ilmu tidak hanya satu macam.
Maka kalau orang zaman dahulu mencari ilmu dengan cara berjalan kaki, naik kendaraan, pergi dari satu kota ke kota lain, bahkan meninggalkan kampung halaman, semuanya termasuk dalam makna hadis ini.
Ath-Ṭībī menggunakan ungkapan:
مُفَارَقَةُ الْأَوْطَانِ
Meninggalkan tanah kelahiran.
Kemudian:
وَالضَّرْبِ فِي الْبُلْدَانِ
Bepergian ke berbagai negeri.
Ini yang menurut saya menarik untuk kita renungkan.
Sekarang kalau seseorang meninggalkan kampung halaman, biasanya karena mencari pekerjaan. Merantau ke kota, mencari rezeki, memperbaiki ekonomi keluarga. Itu sesuatu yang baik.
Tetapi para ulama terdahulu juga mengenal merantau untuk mencari ilmu.
Meninggalkan kampung bukan karena tidak mencintai kampungnya. Meninggalkan keluarga bukan karena tidak sayang keluarga. Tetapi karena ada sesuatu yang lebih besar yang harus dicari: ilmu.
Bayangkan seorang anak muda meninggalkan kampungnya. Tidak tahu nanti akan tidur di mana. Tidak tahu makan apa. Tidak tahu berapa lama akan berada di tempat orang.
Yang dia bawa mungkin hanya pakaian seadanya.
Tetapi ada satu keyakinan:
“Saya pergi untuk mencari ilmu.”
Maka dalam tradisi ulama dahulu, perjalanan mencari ilmu itu benar-benar perjalanan yang membutuhkan pengorbanan.
Sekarang kita bisa membandingkan dengan keadaan kita.
Bapak-bapak, ibu-ibu, kita kalau mau mengaji tidak perlu berjalan puluhan kilometer. Tidak perlu naik kapal. Tidak perlu pergi ke negeri lain.
Kitab sudah ada.
Guru sudah ada.
Masjid dan mushala sudah ada.
Majelis ilmu ada di sekitar kita.
Tetapi justru di sini persoalannya.
Apakah karena ilmu sudah dekat, kita kemudian semakin rajin mencarinya?
Atau justru karena terlalu mudah, kita menjadi kurang menghargainya?
Dahulu orang harus pergi jauh untuk mendapatkan satu hadis.
Sekarang hadis ada di buku, di kitab, bahkan di telepon kita.
Dahulu orang harus menunggu bertahun-tahun untuk bertemu seorang ulama.
Sekarang kita bisa menghadiri pengajian setiap minggu.
Tetapi kemudahan itu kadang tidak otomatis membuat kita lebih rajin.
Ini yang perlu kita renungkan.
Kemudian ada hal lain yang sangat menarik dari penjelasan ath-Ṭībī.
Beliau menjelaskan bahwa ilmu yang dimaksud juga bersifat umum, baik sedikit maupun banyak.
Jadi jangan berpikir:
“Ah, ilmu saya sedikit.”
Justru kita mulai dari sedikit.
Hari ini kita tahu satu hal, besok tahu satu hal lagi.
Hari ini kita belajar tentang sabar.
Besok belajar tentang ikhlas.
Minggu depan belajar tentang shalat.
Kemudian belajar tentang zakat.
Kemudian belajar tentang akhlak.
Sedikit demi sedikit.
Sebab yang penting bukan hanya berapa banyak ilmu yang masuk ke kepala, tetapi berapa banyak ilmu yang masuk ke kehidupan kita.
Kalau setelah mengaji kita menjadi sedikit lebih sabar, berarti ada ilmu yang masuk.
Kalau setelah mengaji kita menjadi lebih hati-hati berbicara, berarti ada ilmu yang masuk.
Kalau setelah mengaji kita lebih baik kepada pasangan, anak, tetangga, berarti ada ilmu yang masuk.
Kalau setelah belajar kita semakin tertib shalatnya, berarti ada ilmu yang masuk.
Jadi ukuran keberhasilan ngaji bukan hanya:
“Saya sudah khatam kitab berapa?”
Tetapi:
“Setelah saya mengaji, apakah saya menjadi lebih baik?”
Di sinilah saya melihat kedalaman hadis ini.
سَلَكَ طَرِيقًا
“Menempuh suatu jalan.”
Kita biasanya membayangkan jalan itu ada di luar diri kita.
Padahal sebenarnya jalan itu juga ada di dalam diri.
Kita sedang berjalan dari tidak tahu menjadi tahu.
Dari tidak mengerti menjadi mengerti.
Dari tidak bisa menjadi bisa.
Dari tidak baik menjadi lebih baik.
Dan akhirnya dari kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat.
Maka mencari ilmu sebenarnya adalah menata perjalanan hidup kita sendiri.
Orang yang tidak punya ilmu bisa saja berjalan, tetapi tidak tahu arahnya.
Seperti orang naik kendaraan tetapi tidak tahu tujuan.
Bisa cepat, tetapi salah arah.
Ilmu itulah yang menunjukkan arah.
Kita tahu mana halal, mana haram.
Mana wajib, mana sunnah.
Mana yang baik, mana yang buruk.
Mana yang harus dikerjakan, mana yang harus ditinggalkan.
Karena itu, kalau kita kembali kepada hadis tadi, ilmu bukan hanya sesuatu yang kita cari. Ilmu adalah sesuatu yang menunjukkan jalan yang harus kita tempuh.
Dan di sini ada renungan yang lebih dalam lagi.
Kita mencari ilmu bukan sebenarnya untuk berhenti di ilmu.
Kita mencari ilmu supaya tahu bagaimana berjalan menuju Allah.
Jadi urutannya bukan hanya:
mencari ilmu → menjadi pintar.
Tetapi:
mencari ilmu → tahu jalan → mengamalkan → menjadi baik → mendapatkan taufik Allah.
Itulah sebabnya hadis mengatakan:
سَلَكَ اللهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Allah memudahkannya menuju jalan surga.
Artinya, ilmu yang kita cari harus menjadi sebab Allah memudahkan kita melakukan kebaikan.
Kalau kita belajar sabar tetapi semakin mudah marah, berarti ada yang perlu kita evaluasi.
Kalau kita belajar tawadhu tetapi semakin suka merendahkan orang lain, berarti ada yang perlu kita perbaiki.
Kalau kita belajar agama tetapi semakin mudah menyalahkan orang lain, berarti mungkin ilmu itu belum benar-benar masuk ke hati.
Karena ilmu yang benar seharusnya membuat seseorang semakin dekat kepada Allah dan semakin baik kepada manusia.
Maka saya merasa, pengajian Sabtu pagi seperti ini sebenarnya bukan sekadar meneruskan kebiasaan kakek dan orang-orang tua kita.
Kita sedang meneruskan sebuah jalan.
Kakek kita dulu mengaji.
Orang tua kita mengaji.
Sekarang kita mengaji.
Mudah-mudahan anak-anak kita nanti juga mengenal kitab, mengenal guru, mengenal majelis ilmu.
Sebab harta bisa habis.
Rumah bisa rusak.
Sawah bisa berpindah tangan.
Tetapi kalau ilmu sudah masuk kepada anak cucu, ia bisa terus hidup meskipun orang yang mengajarkannya sudah tidak ada.
Dan mungkin inilah salah satu makna paling sederhana dari سَلَكَ طَرِيقًا.
Kita tidak sedang sekadar datang ke pengajian.
Kita sedang menempuh jalan.
Jalan dari ketidaktahuan menuju pengetahuan.
Jalan dari pengetahuan menuju amal.
Jalan dari amal menuju kebaikan.
Dan mudah-mudahan jalan kecil yang kita tempuh setiap Sabtu pagi ini menjadi bagian dari jalan besar yang mengantarkan kita kepada ridha Allah.
