Lentera Sastra Banyuwangi

Resensi Buku Selasar Jejarak: Ketika Jarak Terlalu Sering Pulang

*Resensi Buku Selasar Jejarak: Ketika Jarak Terlalu Sering Pulang*

Ketika Jarak Terlalu Sering Pulang: Membaca Kekurangan Selasar Jejarak
Judul: Selasar Jejarak
Penulis: Muttafaqur Rohmah, Echa Puri Albatiruna, Nurul Ludfia Rochmah
Penerbit: Untag Banyuwangi Press bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi
Cetakan: Pertama, Agustus 2026
Tebal: XXXVIII + 196 halaman
Ukuran: 14 × 19 cm
Selasar Jejarak adalah buku kumpulan puisi yang mempertemukan tiga penyair dengan latar pengalaman dan karakter kepenyairan yang berbeda. Muttafaqur Rohmah bergerak melalui pengalaman personal dan keseharian, Echa Puri Albatiruna membawa pengalaman jarak, perantauan, dan pergulatan batin dari Istanbul, sementara Nurul Ludfia Rochmah lebih banyak menghadirkan perenungan, kehidupan urban, pendidikan, dan pengalaman intelektual. Buku ini secara sadar menjadikan “jarak” sebagai salah satu simpul utama yang mempertemukan ketiganya.
Namun, justru pada titik itulah kekurangan pertama buku ini mulai terlihat.
Jarak terkadang terasa terlalu dominan.
Sebagai konsep utama, jarak memang memiliki daya jelajah yang luas. Ia dapat berarti jarak geografis, emosional, waktu, pekerjaan, pendidikan, bahkan jarak antara keinginan dan kenyataan. Akan tetapi, ketika sebuah metafora menjadi terlalu sering dipanggil, pembaca berpotensi mengalami kejenuhan. Sejumlah puisi bergerak di sekitar wilayah yang relatif berdekatan: rindu, kehilangan, penantian, perpisahan, ingatan, waktu, dan usaha menerima keadaan.
Akibatnya, meskipun ketiga penyair memiliki karakter berbeda, pada beberapa bagian suara mereka berpotensi terdengar seperti berada dalam satu lorong emosional yang sama. Padahal, salah satu kekuatan buku antologi justru terletak pada kemampuan menghadirkan perbedaan yang tajam antara satu penyair dengan penyair lainnya.
Kekurangan berikutnya adalah kecenderungan sebagian puisi untuk menjelaskan perasaan terlalu jauh.
Puisi akan memperoleh daya pukau ketika ia memberikan ruang kepada pembaca untuk menemukan makna sendiri. Dalam Selasar Jejarak, beberapa puisi memang berhasil melakukan hal tersebut melalui simbol dan metafora. Puisi Echa, misalnya, menggunakan benda-benda sederhana seperti pakaian basah, saku berlubang, kitab, pintu langit, dan burung patah sayap sebagai perangkat simbolik untuk membangun pengalaman cinta dan kehilangan.
Namun, pada beberapa karya lain, perasaan dan gagasan terkadang hadir terlalu terbuka. Ketika emosi sudah diberi nama, dijelaskan, sekaligus diarahkan menuju kesimpulan tertentu, ruang tafsir pembaca menjadi lebih sempit. Puisi yang terlalu ingin menjelaskan dirinya sendiri berisiko kehilangan sebagian misteri yang justru menjadi kekuatan utama sastra.
Panjang beberapa puisi juga dapat menjadi persoalan tersendiri.
Dalam pembacaan terhadap puisi Echa Puri Albatiruna, misalnya, disebutkan bahwa panjang puisi memberikan kesempatan untuk mengeksplorasi tema secara mendalam dan bahwa repetisi digunakan untuk membangun intensitas emosional secara bertahap. Tetapi strategi semacam ini memiliki risiko: intensitas dapat berubah menjadi repetisi apabila tidak selalu disertai perkembangan imaji, konflik, atau perspektif.
Dalam puisi yang panjang, setiap bait idealnya membawa pembaca ke ruang yang baru. Jika metafora dan emosi terus bergerak pada orbit yang sama, pembaca mungkin merasa bahwa perjalanan sudah sampai di tujuan sebelum puisi benar-benar berakhir.
Kritik lain dapat diarahkan pada ketimpangan tingkat eksperimentasi bahasa.
Tiga penyair memang mempunyai karakter berbeda. Muttafaqur cenderung menggunakan bahasa yang dekat dengan pengalaman sehari-hari; Echa lebih simbolik dan reflektif; sementara Nurul memperlihatkan perhatian pada bunyi, rima, objek keseharian, serta pengalaman urban. Perbedaan ini merupakan kekuatan buku.
Namun, perbedaan tersebut juga membuat kualitas eksperimentasi antarbagian terasa tidak selalu sama. Ada puisi yang berhasil menemukan metafora segar, tetapi ada pula yang masih mengandalkan kosakata puitik yang relatif akrab: hujan, senja, rindu, malam, waktu, jalan, luka, doa, dan kehilangan. Kata-kata tersebut tentu sah digunakan dalam puisi, tetapi tantangan penyair kontemporer adalah bagaimana membuat kata-kata yang sudah sering dipakai kembali memiliki kejutan baru.
Pada bagian Nurul Ludfia Rochmah, misalnya, penggunaan benda-benda urban seperti tas, kursi, kertas, spidol, penghapus, mesin fotokopi, dan jam dinding memberikan kesegaran karena menjauh dari romantisisme alam yang lazim. Corak semacam ini justru menunjukkan kemungkinan yang lebih luas bagi buku ini: bahwa “jarak” tidak harus selalu berbicara melalui hujan, senja, rindu, dan kehilangan, tetapi juga dapat ditemukan dalam birokrasi, ruang kelas, kemacetan, teknologi, pekerjaan, bahkan benda-benda yang setiap hari berada di depan mata.
Dari sisi penyuntingan dan teknis penerbitan, buku ini juga masih menyisakan ruang untuk pembenahan. Daftar isi, misalnya, memperlihatkan beberapa tanda yang tampak belum sepenuhnya bersih dari persoalan teknis, seperti kemunculan tanda bintang pada judul “Bajing**” dan “Bukan Akhir Tiga Semesta*”, serta beberapa penempatan nomor halaman yang tampak menempel pada teks judul. Hal-hal semacam ini mungkin terlihat kecil, tetapi dalam sebuah buku sastra, kerapian tipografi dan penyuntingan ikut menentukan kenyamanan membaca sekaligus wibawa penerbitan.
Ada pula persoalan yang lebih substantif: buku ini sebenarnya memiliki bahan yang sangat kaya, tetapi belum sepenuhnya mengolah perbedaan ketiga penyair menjadi sebuah arsitektur antologi yang lebih kuat.
Ketiga penyair memiliki dunia masing-masing. Muttafaqur membawa kehidupan personal; Echa membawa pengalaman Istanbul dan keterasingan; Nurul membawa dunia urban, pendidikan, intelektualitas, dan perenungan. Bahkan analisis dalam buku sendiri menyebut tiga gerak yang berbeda: Muttafaqur bergerak dari kehidupan pribadi menuju ungkapan, Echa dari pengalaman ruang dan jarak menuju batin, sedangkan Nurul dari pengalaman dan pengamatan menuju perenungan.
Sayangnya, kekayaan itu terkadang justru tertutup oleh payung besar “jarak”. Pembaca bisa berharap lebih: bukan hanya melihat tiga penyair berbicara tentang jarak, tetapi melihat bagaimana tiga penyair membongkar arti jarak dari dunia yang sama sekali berbeda.
Dengan demikian, kelemahan Selasar Jejarak bukan karena buku ini miskin gagasan. Justru sebaliknya, gagasannya cukup banyak. Persoalannya adalah bagaimana gagasan-gagasan tersebut dipadatkan, dipertajam, dan diberi jarak dari ungkapan-ungkapan yang sudah terlalu akrab dalam tradisi puisi liris.
Meski demikian, kritik tersebut tidak menghapus kekuatan buku. Selasar Jejarak tetap menarik karena berhasil mempertemukan pengalaman lokal Banyuwangi dengan ruang yang lebih luas. Buku ini bergerak dari Banyuwangi menuju Surabaya dan Istanbul, sehingga perjalanan geografis tersebut sekaligus menjadi perjalanan batin.
Pada akhirnya, buku ini seperti sebuah stasiun: ada penyair yang datang membawa cinta, ada yang membawa kehilangan, ada yang membawa pekerjaan, pendidikan, keluarga, dan kegelisahan. Semua berhenti sebentar di sana sebelum melanjutkan perjalanan.
Hanya saja, sebuah stasiun yang baik bukan sekadar tempat orang menunggu. Ia juga harus menyediakan cukup banyak jalur keberangkatan.
Dan barangkali itulah pekerjaan rumah terbesar Selasar Jejarak: setelah menemukan “jarak”, para penyairnya masih perlu terus mencari jalan-jalan baru untuk melampauinya.
Sebab puisi yang kuat bukan hanya membuat pembaca mengenali luka yang pernah ia miliki, tetapi juga memperlihatkan kepadanya sebuah luka yang sebelumnya tidak pernah ia tahu ada.
Di balik sejumlah kekurangan tersebut, Selasar Jejarak memiliki kelebihan yang justru membuatnya layak dibaca. Kekuatan paling menonjol terletak pada keberagaman perspektif tiga penyair. Ketiganya tidak hadir dengan suara yang seragam. Muttafaqur Rohmah menghadirkan kedekatan pengalaman personal, Echa Puri Albatiruna membawa pembaca pada pengalaman jarak, perantauan, cinta, dan pergulatan spiritual, sedangkan Nurul Ludfia Rochmah menawarkan perenungan tentang kehidupan urban, pendidikan, pekerjaan, waktu, dan identitas. Perbedaan tersebut menjadikan buku ini tidak berjalan dalam satu warna estetika saja.
Kelebihan lainnya adalah kemampuan para penyair mengubah pengalaman sehari-hari menjadi pengalaman puitik. Jarak tidak hanya dipahami sebagai ruang geografis, tetapi berkembang menjadi jarak emosional, waktu, keadaan, pilihan, pekerjaan, pendidikan, hingga jarak antara harapan dan kenyataan. Dengan cara itu, pengalaman yang tampak sederhana memperoleh kemungkinan makna yang lebih luas.
Buku ini juga memiliki kekuatan pada penggunaan simbol dan metafora. Pada puisi-puisi Echa, misalnya, benda dan pengalaman seperti pakaian basah, saku berlubang, kitab, pintu langit, hujan, dan burung patah sayap tidak berhenti sebagai benda, tetapi berkembang menjadi simbol ingatan, kehilangan, cinta, dan pergulatan spiritual. Sementara pada puisi-puisi Nurul, benda-benda urban seperti tas, kursi, kertas, mesin fotokopi, dan jam dinding berhasil membawa persoalan kehidupan modern ke dalam ruang puisi.
Yang juga patut diapresiasi adalah keberanian buku ini memperluas tema puisi melampaui persoalan asmara. Di dalamnya terdapat suara tentang keluarga, pendidikan, pekerjaan, perantauan, kehidupan buruh, identitas, serta hubungan manusia dengan Tuhan. Bahkan puisi “Dari Barak ke Barak” menghadirkan pengalaman buruh, perpindahan, kelelahan, keterasingan, dan kerinduan terhadap kampung halaman.
Dengan demikian, Selasar Jejarak bukan buku yang sempurna, tetapi justru menarik karena memperlihatkan proses pencarian tiga penyair dalam menemukan bentuk terbaik bagi pengalaman mereka. Kekurangannya dapat menjadi catatan untuk karya-karya berikutnya, sementara kelebihannya menunjukkan bahwa ketiganya memiliki keberanian untuk menjadikan pengalaman personal sebagai bahan perenungan yang lebih universal.
Syafaat Ketua Lentera Sastra Banyuwangi

By redaksi

Lentera Sastra Banyuwangi merupakan wadah Literasi, Seni dan Budaya Banyuwangi dan Indonesia

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *