
Oleh: H. Achmad Turmudzi
(Ketua PCNU Banyuwangi)
Pengukuhan kepengurusan Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) dan Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (LESBUMI) Kabupaten Banyuwangi memberikan warna tersendiri. Peristiwa tersebut menghadirkan ruang perenungan tentang arah gerak Nahdlatul Ulama (NU) ke depan dalam menghadapi tantangan agama, sosial, budaya, teknologi, hingga kebangsaan yang semakin kompleks. Di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat, NU tidak cukup hanya melangkah dengan pola lama, melainkan perlu mengimprovisasi geraknya tanpa kehilangan akar tradisi dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah.
Hadirnya pegiat literasi melalui LTNNU dan praktisi seni budaya melalui LESBUMI menjadi bagian penting dari ikhtiar besar tersebut. Keduanya bukan pelengkap organisasi, melainkan unsur strategis dalam menjaga keberlangsungan gagasan, identitas, sekaligus daya tahan peradaban Nahdliyin.
Di era digital seperti hari ini, perang pemikiran bergerak lebih cepat dibandingkan perang fisik. Narasi keagamaan berkembang tanpa batas, opini dibentuk dalam hitungan detik, bahkan disinformasi dan provokasi kerap lebih cepat diterima dibandingkan ilmu yang memiliki pijakan sanad dan argumentasi kuat. Dalam konteks inilah peran pegiat literasi NU menjadi sangat penting. LTNNU tidak cukup hanya dipahami sebagai lembaga dokumentasi atau penerbitan semata, tetapi harus menjadi dapur intelektual, pusat produksi gagasan, sekaligus benteng narasi keislaman moderat khas NU.
NU membutuhkan lebih banyak penulis, jurnalis, editor, pegiat media digital, dan intelektual organik yang mampu menerjemahkan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin ke dalam bahasa zaman. Dakwah hari ini tidak cukup hanya hadir dari mimbar ke mimbar, tetapi juga harus menjangkau layar ke layar. Ketika ruang digital dipenuhi ragam pemikiran transnasional, ekstremisme agama, hoaks, polarisasi politik, hingga budaya instan yang sering mengabaikan etika, maka NU harus hadir dengan argumentasi ilmiah, bahasa yang teduh, dan pendekatan kebudayaan yang mencerdaskan.
Tantangan besar lainnya adalah bagaimana NU mampu berdialog dengan generasi Z (Gen Z) yang lahir dan tumbuh dalam ekosistem digital. Generasi ini memiliki karakter kritis, cepat menerima informasi, kreatif, tetapi pada saat yang sama rentan terhadap banjir informasi tanpa filter. Di tengah derasnya arus media sosial, muncul fenomena yang patut menjadi perhatian serius: maraknya konten pornografi, perjudian daring (online gambling/judol), hingga berbagai konten yang mengarah pada gaya hidup permisif dan hedonistik. Tidak sedikit generasi muda yang terjebak karena awalnya hanya rasa penasaran, hiburan, atau pengaruh algoritma media sosial.
Pornografi tidak hanya merusak moral, tetapi juga berpotensi merusak cara pandang terhadap relasi manusia, keluarga, bahkan kehormatan diri. Begitu pula judi daring yang kian mengkhawatirkan karena dikemas dengan tampilan menarik, janji keuntungan instan, dan mudah diakses dari telepon genggam. Banyak anak muda akhirnya terjebak hutang, kehilangan masa depan, bahkan mengalami tekanan psikologis akibat kecanduan judi digital.
Dalam menghadapi situasi tersebut, pendekatan dakwah kepada generasi muda tidak cukup dengan larangan dan penghakiman semata. NU perlu menghadirkan pendekatan edukatif, kreatif, dan komunikatif. Pegiat literasi NU harus mampu memenuhi ruang digital dengan tulisan, video, podcast, dan narasi yang mencerahkan. Sementara LESBUMI perlu menghadirkan seni budaya yang dekat dengan selera generasi muda tanpa kehilangan nilai moral dan spiritualitas Islam. Seni, film pendek, musik religi, sastra digital, hingga konten kreatif dapat menjadi sarana dakwah yang lebih mudah diterima oleh Gen Z.
Islam sendiri telah memberikan tuntunan agar manusia menjaga diri dari berbagai hal yang dapat merusak moral dan kehormatan. Allah SWT berfirman:
> وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
> “Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.”
(QS. Al-Isra’: 32)
Ayat ini tidak hanya melarang zina dalam makna sempit, tetapi juga mengingatkan agar menjauhi segala pintu yang mengarah kepadanya, termasuk tontonan, perilaku, atau kebiasaan yang merusak kesucian moral. Dalam konteks hari ini, peringatan tersebut relevan dengan maraknya konten pornografi dan budaya digital yang menormalisasi perilaku menyimpang.
Namun, literasi tanpa kebudayaan juga dapat kehilangan daya sentuhnya. Di sinilah pentingnya peran LESBUMI. Seni dan budaya bukan sekadar hiburan atau pelengkap dakwah, melainkan media peradaban. Sejak awal, NU telah menunjukkan bahwa dakwah Islam di Nusantara tumbuh melalui pendekatan budaya: wayang, shalawat, hadrah, sastra, tradisi selametan, hingga berbagai ekspresi lokal yang tidak bertentangan dengan syariat. Islam hadir dengan merangkul, bukan memukul; membimbing, bukan menghakimi.
LESBUMI memiliki tugas besar menjaga warisan kebudayaan Islam Nusantara sekaligus mengembangkannya agar tetap relevan dengan generasi hari ini. Ketika generasi muda lebih mengenal budaya luar dibandingkan akar budayanya sendiri, seni budaya Nahdliyin harus tampil sebagai ruang kreatif yang membanggakan, bukan sekadar romantisme masa lalu.
Pengukuhan LTNNU dan LESBUMI Banyuwangi menjadi penanda bahwa NU membutuhkan kolaborasi antara pena dan panggung, antara narasi dan ekspresi budaya, antara pemikiran dan estetika. Seorang penulis dapat menggugah kesadaran melalui kata-kata, sementara seorang seniman mampu mengetuk hati melalui rasa. Keduanya memiliki kekuatan yang sama dalam menjaga agama dan bangsa.
Ke depan, NU tidak hanya menghadapi tantangan internal berupa penguatan kaderisasi, tata kelola organisasi, dan regenerasi kepemimpinan. Lebih dari itu, tantangan eksternal juga semakin nyata: fragmentasi sosial, ketimpangan ekonomi, penetrasi ideologi keagamaan yang keras, disrupsi teknologi kecerdasan buatan, ancaman pudarnya nasionalisme, hingga krisis moral digital di tengah generasi muda. Dalam situasi seperti ini, NU harus tetap menjadi jangkar moral bangsa sekaligus rumah besar kebudayaan.
Karena itu, para pegiat literasi di tubuh NU tidak hanya dituntut produktif menulis, tetapi juga aktif membangun tradisi berpikir kritis, budaya membaca, serta keberanian melawan arus konten negatif dengan karya yang mencerdaskan. Begitu pula para praktisi seni budaya di bawah LESBUMI harus mampu menghadirkan karya-karya kreatif yang menguatkan spiritualitas, kebangsaan, dan akhlak generasi muda tanpa tercerabut dari nilai-nilai Islam.
NU sejak awal lahir bukan hanya organisasi keagamaan, tetapi gerakan peradaban. Maka menjaga NU tidak cukup hanya dengan loyalitas emosional, melainkan juga dengan kreativitas intelektual dan keberanian berinovasi. Pengukuhan LTNNU dan LESBUMI Banyuwangi menjadi penegas bahwa NU harus terus hidup, bergerak, dan mengimprovisasi langkah menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
Sebab pada akhirnya, masa depan NU tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memimpin, tetapi juga oleh siapa yang menulis gagasan, menjaga kebudayaan, serta menyalakan kesadaran umat. Di tangan para pegiat literasi dan praktisi seni budaya itulah harapan besar hadir agar NU tetap kokoh menjadi penjaga agama, penguat bangsa, sekaligus perawat peradaban di tengah derasnya gelombang perubahan zaman.