Arsitek Moral di Era Mesin yang Tak Mengenal Iba
Oleh : Imtiyaza Syifa Ramadhani Risdayanti
Gelombang besar itu pada mulanya tampak seperti mitos yang dibaca terburu-buru. Namun ketika ia datang, derasnya tidak memberi waktu untuk menoleh ke belakang. Gelombang itu memaksa manusia Indonesia berdiri di persimpangan yang paling sunyi: bertahan pada karang lama yang rapuh, atau berenang menuju masa depan yang belum dipetakan siapa pun.
Artikulasi Inteligensia—AI yang bernalar dan memutuskan—tidak lagi hadir sebagai alat. Ia menjelma pelaku: sosok senyap yang membaca dokumen dengan ketelitian yang belum pernah dimiliki mata manusia. Arsip-arsip yang selama ini hanya disentuh sepintas oleh birokrat letih, kini diperiksa hingga sudut-sudutnya yang paling kusam. Pola-pola tersembunyi muncul, seakan selama ini dunia hanya menunggu mesin untuk mengungkapkannya.
Di dalam tubuh negara, AI bekerja tanpa pamrih. Tidak membutuhkan kopi untuk bertahan. Tidak bisa diajak makan siang. Tidak mengenal basabasi. Tidak menerima amplop yang diselipkan dengan bahasa malu-malu. Dari sanalah lahir harapan: bahwa sistem yang tercemar subjektivitas manusia dapat dipulihkan oleh sesuatu yang tidak memiliki keinginan.
Contoh paling mencolok terjadi di sebuah negara kecil Eropa. Mereka menempatkan sebuah AI bernama Diella sebagai pengambil keputusan tender negara. Nama yang lembut, tetapi logikanya keras seperti batu. Dengan itu, hutan belantara praktik gelap—yang selama puluhan tahun dikeluhkan masyarakat—dibakar habis oleh ketegasan algoritma.
Diella tidak mengenal kerabat. Tidak mengenal tekanan politik. Tidak mengenal rasa iba kepada para pemain lama yang mencoba masuk dari pintu samping.
Namun ada satu kebenaran yang tak bisa dinafikan: AI hanya sebersih data yang diberikan kepadanya. Jika data warisan masa lalu sudah bengkok, keputusan AI hanya akan menjadi bayangan dari kebengkokan itu dalam bentuk yang lebih halus, lebih rapi, dan lebih sulit dibantah. Bias manusia dapat mengendap di dalam algoritma. Keburukan dapat hidup dalam celah logika, tumbuh menjadi lubang hitam korupsi jenis baru—lebih sunyi, lebih cerdas, dan nyaris mustahil dilacak.
Musuh itu bukan lagi pejabat di balik meja, melainkan logika terselubung yang menyamar sebagai kebenaran matematika.
Era baru ini juga menghadirkan meja-meja kosong. Banyak fungsi administrasi yang selama ini diisi manusia akan digantikan AI. Negara yang cerdas akan merampingkan birokrasi, memangkas pos yang memboroskan anggaran, dan menutup kebocoran tanpa banyak drama. Negara yang ragu akan tetap menjadi tubuh besar yang lamban menua.
Dengan perubahan itu, lahir kelas baru: mereka yang memahami arsitektur algoritma. Code Elites. Kelas yang memegang kunci logika negara. Kekuasaan berpindah dari pemilik jabatan struktural ke pemilik pengetahuan digital. Jurang sosial baru terbentuk: antara yang mampu membaca bahasa mesin dan yang tidak sempat belajar sebelum dunia berubah.
Efisiensi bisa menjadi tirani baru jika tidak dibangun di atas kebijakan yang penuh welas asih. Mesin bekerja dengan logika, bukan iba. Dengan presisi, bukan pengertian.
AI tidak mengerti tangis seorang ibu yang menahan lapar demi anaknya. AI tidak memahami rasa malu seorang pegawai jujur yang difitnah. AI tidak mengerti mengapa manusia kadang memilih memperlambat langkah demi memberi ruang pada yang gugup. Mesin hanya mengenal input dan output.
Efisiensi yang sempurna tanpa empati dapat mengubah negara menjadi mesin raksasa: bekerja bersih dan cepat, tetapi dingin seperti ruang operasi yang tak pernah mengizinkan suara.
Dalam negeri yang dibangun di atas gotong royong, kehilangan empati adalah kehilangan akar.
Karena itu, tugas manusia bukan menyerahkan kendali, melainkan mengarahkan. AI boleh mengambil alih pekerjaan sulit, tetapi moral tidak boleh dilepas dari tangan manusia. Setiap batas keputusan harus bersumber dari hati yang memahami penderitaan, bukan sekadar kalkulasi.
Jika nilai moral tertanam kuat, AI akan menjadi sekutu yang memperluas keadilan. Jika tidak, AI akan menjadi entitas dingin yang menata ulang nasib manusia tanpa peduli luka siapa yang mesti ditinggalkan.
Pertanyaannya kini menggantung di udara:
Apakah manusia akan duduk sebagai arsitek moral yang membimbing arah AI,
atau membiarkan algoritma tanpa empati menulis ulang masa depan umat manusia?
Jawaban yang benar akan membawa AI menjadi cermin dari cita-cita kemanusiaan—adil, beradab, dan penuh martabat. Jawaban yang salah akan membuka pintu menuju kediktatoran algoritmik: era sunyi di mana keputusan-keputusan besar diambil tanpa memahami harapan siapa pun.
Di tengah gelombang yang tak mengenal belas kasihan itu, manusia hanya memiliki satu benteng: hati. Selama hati tetap memegang kemudi, masa depan masih mungkin dipilih.
