Lentera Sastra Banyuwangi

Hari Kedua Pelatihan Branding Digital Madrasah: Menulis di Antara Algoritma dan Nurani

Oplus_16908288

Gambiran (Lentera Sastra) Minggu, 8 Februari 2026, ruang pertemuan MI Muhammadiyah Gambiran kembali menjadi ruang belajar yang hangat. Pada hari kedua Pelatihan Strategi Membranding Madrasah melalui Media Digital yang digelar Kelompok Kerja Madrasah Ibtidaiyah (KKMI) Kecamatan Gambiran, para peserta tidak sekadar diajak memahami teknologi, tetapi juga diajak berdamai dengan perubahan zaman.

Seluruh perwakilan Madrasah Ibtidaiyah, baik negeri maupun swasta, hadir sebagai penziarah ilmu. Di hadapan layar gawai dan laptop, mereka belajar mempraktikkan penulisan artikel dan berita dengan memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Sebuah teknologi yang sering disalahpahami sebagai ancaman, namun hari itu dihadirkan sebagai sahabat kerja.

Syafaat dari Lentera Sejahtera Banyuwangi, selaku narasumber, menegaskan bahwa AI bukanlah pengganti manusia. “AI ini bukan untuk mengambil alih peran guru atau penulis,” tuturnya, “melainkan asisten yang mempercepat kerja kita. Ia hanya bisa bekerja baik jika data yang kita berikan jelas dan lengkap. Setelah itu, manusia tetap wajib membaca ulang, mengedit, dan memberi sentuhan nurani.”

Pesan itu menggema di ruang pelatihan: bahwa kecerdasan buatan tetap membutuhkan kecerdasan manusia.

Selain praktik menulis berbasis AI, peserta juga dibekali keterampilan mendesain dan mengelola laman digital madrasah. Sebagian peserta memilih Blogger, sebagian lain menggunakan WordPress. Pada garis besarnya, kedua platform tersebut dinilai serupa, hanya berbeda pada beberapa menu dan pengaturan teknis.

Dalam diskusi terungkap, dua madrasah telah melangkah lebih jauh dengan menggunakan domain sendiri, sementara madrasah lainnya masih memanfaatkan domain bawaan. Namun fokus utama bukan pada nama domain, melainkan pada komitmen untuk mengelola website sebagai ruang informasi yang valid, hidup, dan berkelanjutan tentang madrasah.

Pelatihan hari kedua itu juga diwarnai pembahasan berbagai trik pemanfaatan media digital secara bijak. Ditekankan bahwa teknologi tidak boleh menggantikan peran guru, melainkan memperkuatnya. Bahkan, ke depan direncanakan kerja sama pengembangan pustaka digital dengan Perpustakaan Daerah Kabupaten Banyuwangi dan Perpustakaan Nasional.

Di akhir hari, para pe

Oplus_16908288

serta pulang membawa lebih dari sekadar keterampilan teknis. Mereka membawa kesadaran baru: bahwa di tengah derasnya algoritma, madrasah tetap harus berdiri dengan nilai, dan teknologi hanyalah alat untuk menyuarakan cahaya pendidikan ke ruang yang lebih luas.

By redaksi

Lentera Sastra Banyuwangi merupakan wadah Literasi, Seni dan Budaya Banyuwangi dan Indonesia

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *