Lentera Sastra Banyuwangi
13 Maret 2026

Di Persimpangan Rel dan Doa Para Pemudik Ada Petugas Jaga Menunggu Pelintas

BANYUWANGI  (Lentera Sastra) Menjelang datangnya Hari Raya Idulfitri, ketika jalan-jalan mulai dipenuhi kendaraan yang pulang membawa rindu ke kampung halaman, kewaspadaan juga ditingkatkan di sejumlah perlintasan sebidang kereta api di Kabupaten Banyuwangi. Puluhan petugas tambahan disiagakan di titik-titik perlintasan tanpa palang pintu, tempat di mana rel baja dan jalan raya bertemu dalam sebuah persimpangan yang menuntut kehati-hatian.

Para petugas yang dikenal sebagai Petugas Jaga Lintasan Ekstra (PJL Ekstra) itu ditempatkan untuk memastikan perjalanan para pemudik berlangsung aman dan nyaman. Kehadiran mereka menjadi pengingat sekaligus penjaga bagi para pengguna jalan yang melintas di jalur kereta, terutama ketika arus kendaraan meningkat tajam pada musim mudik Lebaran.

Manager Hukum dan Humas KAI Daop 9 Jember, Cahyo Widiantoro, menjelaskan bahwa di wilayah Banyuwangi terdapat 12 titik perlintasan sebidang tanpa palang pintu yang mendapat pengawasan tambahan.

“Di Banyuwangi ada 12 titik dengan 22 petugas tambahan yang kami siagakan untuk memastikan keselamatan dan kelancaran perjalanan selama masa Angkutan Lebaran 2026,” ujar Cahyo di Banyuwangi, Rabu (11/3/2026).

Secara keseluruhan, KAI Daop 9 Jember menurunkan 107 PJL Ekstra yang ditempatkan di 55 titik perlintasan sebidang, mulai dari wilayah Pasuruan hingga Ketapang. Penempatan personel tersebut disesuaikan dengan tingkat kepadatan jalur serta jumlah perlintasan di masing-masing daerah.

“Penempatan ini kami sesuaikan dengan tingkat kepadatan jalur dan jumlah perlintasan di masing-masing wilayah,” tambah Cahyo.

Para petugas itu akan mulai bertugas pada 18 hingga 31 Maret 2026, bertepatan dengan masa Angkutan Lebaran. Di titik-titik yang belum memiliki penjagaan permanen, mereka akan membantu mengatur arus kendaraan sekaligus mengingatkan pengguna jalan agar berhenti sejenak ketika kereta melintas—sebuah jeda kecil yang bisa menyelamatkan banyak perjalanan.

Tidak hanya di perlintasan jalan, pengawasan juga diperkuat di sepanjang jalur rel. Sebanyak 19 petugas penilik jalur ekstra diterjunkan untuk memantau kondisi prasarana di 19 petak jalur kereta dari Pasuruan hingga Ketapang.

“Dengan tambahan ini, jika ada potensi gangguan prasarana bisa segera terdeteksi dan ditangani lebih cepat,” jelasnya.

Selain itu, empat daerah pengawasan khusus (Dapsus) juga mendapat perhatian ekstra karena dinilai memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi. Titik-titik tersebut berada di satu lokasi di Pasuruan, dua di Jember, dan satu di Banyuwangi.

Beberapa di antaranya berada di kawasan jembatan dan terowongan Merawan–Garahan, jalur yang dikenal memiliki potensi longsor cukup tinggi, terutama saat cuaca ekstrem.

“Total ada delapan petugas tambahan yang kami siagakan di titik rawan selama periode Lebaran,” pungkas Cahyo.

Di balik deru lokomotif dan ramainya arus mudik, para petugas itu berdiri di tepi rel—mengangkat bendera, memberi isyarat, dan menjaga keselamatan perjalanan. Sebab di setiap kereta yang melintas dan setiap kendaraan yang pulang ke kampung halaman, ada harapan yang ingin sampai dengan selamat di rumah.

By redaksi

Lentera Sastra Banyuwangi merupakan wadah Literasi, Seni dan Budaya Banyuwangi dan Indonesia

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *