Lentera Sastra Banyuwangi
27 Maret 2026

Hari Pertama Selepas Lebaran, Bupati Ipuk Fiestiandani Merajut Harmoni dari Jalanan: Halal Bihalal Bersama Para Pengemudi Rakyat

BANYUWANGI (Lensa Banyuwangi) Pagi itu, langit seakan menurunkan berkah yang belum sepenuhnya usai dari gema takbir. Di halaman Kantor Bupati Banyuwangi, Rabu (25/3/2026), denyut kehidupan terasa lebih hangat dari biasanya. Hari pertama kerja selepas Idulfitri tidak dibuka dengan sekadar rutinitas birokrasi, melainkan dengan pelukan kemanusiaan yang membumi—sebuah halal bihalal yang merangkul mereka yang saban hari mengayuh roda kehidupan di jalanan.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, hadir tanpa sekat. Ia duduk lesehan, sejajar dengan puluhan pengemudi becak, ojek online, hingga angkutan kota—mereka yang kerap menjadi denyut nadi mobilitas rakyat kecil. Bersama Sekretaris Daerah Guntur Priambodo, para asisten, dan kepala OPD, suasana yang terbangun bukanlah formalitas kekuasaan, melainkan keakraban yang mengalir seperti sungai silaturahim.

Nasi bungkus yang tersaji sederhana seolah menjelma menjadi jamuan penuh makna. Di antara suapan yang hangat, terjalin percakapan yang lebih hangat lagi—tentang harapan, tentang kehidupan, tentang Banyuwangi yang terus dirawat bersama. Di momen itu, hirarki seakan luluh; yang tersisa hanyalah manusia yang saling menyapa dalam kesederhanaan.

“Silaturahim ini adalah simpul yang mengikat kita sebagai satu keluarga besar,” tutur Ipuk, suaranya mengandung keteduhan yang menembus keramaian. “Di tengah keberagaman etnis dan latar belakang, kebersamaan adalah fondasi. Dari sinilah kita bisa melangkah bersama, membangun Banyuwangi yang lebih kuat, lebih hebat.”

Namun pagi itu bukan hanya tentang kata-kata. Ia juga menjadi ruang mendengar—sebuah forum sunyi di balik riuh, tempat suara-suara kecil mendapatkan tempatnya. Ipuk berdialog, menyerap aspirasi, menampung keluh kesah yang sering kali tercecer di jalanan.

Sebagai simbol kepedulian yang nyata, bantuan helm dibagikan. Benda sederhana itu menjelma menjadi metafora perlindungan—bahwa keselamatan adalah hak yang tak boleh ditawar. “Gunakan helm ini saat bekerja. Keselamatan harus menjadi yang utama,” pesan Ipuk, dengan nada yang bukan sekadar instruksi, tetapi juga doa.

Di sudut kerumunan, Selamet—seorang tukang ojek dari kawasan Pengkolan Gedung Wanita—tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya. Helm baru yang ia terima bukan hanya pengganti yang lama, tetapi juga penanda bahwa dirinya dilihat, dihargai.

“Alhamdulillah, ini bisa mengganti yang di rumah,” ujarnya lirih, namun sarat makna.

Hal senada diungkapkan Dwi Nurmaya, pengemudi ojek online. Baginya, perhatian sekecil apa pun memiliki gema kebahagiaan yang besar. “Meski sederhana, ini membuat kami merasa diperhatikan. Kami sangat senang,” katanya, matanya memantulkan rasa haru.

Sebelumnya, di tempat yang sama, Ipuk Fiestiandani juga merajut kebersamaan dengan ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN). Diawali apel pagi, kemudian berjabat tangan satu per satu—sebuah ritual yang tak sekadar formalitas, tetapi peneguhan nilai kebersamaan dalam bingkai pengabdian.

Di hari pertama kerja itu, Banyuwangi tidak hanya kembali bergerak—ia berdenyut. Dari halaman kantor bupati, sebuah pesan diam-diam terucap: bahwa pembangunan tidak hanya tentang angka dan program, tetapi tentang hati yang saling terhubung.

Dan di antara roda becak, deru mesin angkot, serta notifikasi aplikasi ojol yang terus berbunyi, ada harapan yang ikut melaju—bahwa kebersamaan adalah jalan panjang menuju kemajuan yang berkeadilan.

By redaksi

Lentera Sastra Banyuwangi merupakan wadah Literasi, Seni dan Budaya Banyuwangi dan Indonesia

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *