Lentera Sastra Banyuwangi
28 Maret 2026

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Imbau ASN Bersepeda atau Transportasi Umum/Online ke Kantor

BANYUWANGI (Lensa Banyuwangi) Di tengah desir angin zaman yang tak selalu pasti, Kabupaten Banyuwangi memilih menata langkah dengan lebih bijak. Hemat energi bukan sekadar kebijakan, melainkan ikhtiar sunyi untuk menjaga keseimbangan di tengah dunia yang kian bergejolak.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menapakkan arah itu dengan mengajak seluruh jajaran pemerintah daerah mereduksi ketergantungan pada bahan bakar minyak. Seiring dengan kebijakan Work From Home yang telah digulirkan pemerintah pusat, Pemkab Banyuwangi kini merangkai langkah-langkah kecil yang bermakna: dari membatasi penggunaan kendaraan dinas hingga mendorong Aparatur Sipil Negara kembali bersahabat dengan transportasi umum—bahkan dengan sepeda kayuh yang sederhana namun penuh makna.

Ajakan ini bukan sekadar wacana administratif. Ia lahir dari kesadaran akan riak besar yang sedang bergulung di belahan dunia lain. Arahan Presiden Prabowo Subianto menjadi penegas, bahwa setiap daerah perlu bersiap menghadapi kemungkinan terburuk dari dinamika geopolitik di Timur Tengah—sebuah wilayah yang denyutnya kerap memengaruhi pasokan energi global.

“Efisiensi energi ini bukan hanya langkah teknis, melainkan bagian dari kewaspadaan bersama,” ujar Ipuk, Kamis (26/3/2026), dengan nada yang mengajak, bukan mengkhawatirkan.

Seruan itu sebelumnya telah menggema di halaman Kantor Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, saat apel bersama ASN digelar. Di bawah langit pagi, pesan sederhana namun dalam disampaikan: bahwa perubahan bisa dimulai dari kebiasaan sehari-hari. Dari jarak dekat yang ditempuh dengan kayuhan sepeda, dari perjalanan kerja yang tak lagi selalu bergantung pada mesin.

Hari Jumat, yang selama ini telah menjadi ruang uji coba penggunaan transportasi umum dan daring, kini seolah menjadi simbol: bahwa efisiensi bukan pengorbanan, melainkan pilihan hidup yang lebih selaras.

Tak berhenti di sana, digitalisasi pun didorong sebagai jalan sunyi lain untuk mengurangi jejak konsumsi energi. Aktivitas yang berpindah ke ruang-ruang virtual bukan hanya mempercepat layanan, tetapi juga menahan laju penggunaan bahan bakar yang kian berharga.

Bagi Ipuk, semua ini bukan alarm kepanikan, melainkan ajakan untuk lebih arif membaca zaman. Harapan tetap terpatri—agar konflik di Timur Tengah segera mereda, agar pasokan energi dunia kembali stabil. Namun di sela harapan itu, Banyuwangi memilih untuk tidak tinggal diam.

Sebab di tengah ketidakpastian, kebijaksanaan sering kali lahir dari langkah-langkah kecil yang dilakukan bersama. Dan dari sana, sebuah daerah belajar berdiri lebih teguh—dengan energi yang tak hanya dihemat, tetapi juga dimaknai.

By redaksi

Lentera Sastra Banyuwangi merupakan wadah Literasi, Seni dan Budaya Banyuwangi dan Indonesia

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *