Peresmian program dilakukan oleh Ipuk Fiestiandani beberapa hari menjelang Idulfitri, menandai hadirnya ruang-ruang teduh bagi para pemudik untuk beristirahat, menunaikan salat, serta menguatkan kembali ruh ibadah setelah menempuh perjalanan panjang.
Ketua Baznas Banyuwangi, Dwiyanto, menuturkan bahwa setiap rupiah dari para muzakki sejatinya adalah titipan yang harus dikelola dengan penuh amanah. Dukungan terhadap program ini, menurutnya, menjadi jalan agar harta yang disalurkan tidak hanya bernilai sosial, tetapi juga menghadirkan keberkahan yang meluas, baik dalam memakmurkan masjid maupun melayani para musafir yang singgah untuk beristirahat dan beribadah. Ia juga menyampaikan bahwa kepedulian Baznas terus mengalir melalui santunan kepada anak yatim, janda lansia, serta dhuafa yang sedang menjalani perawatan.
Di Masjid Al Huda Bulusan, yang terletak di jalur strategis penyeberangan Ketapang–Gilimanuk, suasana pelayanan terasa hidup oleh sentuhan kepedulian. Masjid ini bukan sekadar tempat singgah, melainkan menjadi rumah sementara bagi para musafir yang membutuhkan ketenangan. Di sana, layanan pijat gratis dihadirkan melalui kolaborasi dengan Yayasan Lentera Insan (YALI), menghadirkan para terapis tunanetra yang dengan keikhlasan melayani sesama.
Ketua YALI, Nurhadi Windoyo, menjelaskan bahwa layanan terapi dibagi dalam dua waktu, siang hingga sore, dan sore hingga malam. Para terapis, baik laki-laki maupun perempuan, hadir secara bergantian, menunaikan peran mereka bukan hanya sebagai pekerja, tetapi sebagai pelayan kemanusiaan. Ia juga mengingatkan bahwa keterbatasan penglihatan tidak pernah membatasi cahaya kemampuan seseorang, karena banyak sahabat tunanetra yang mampu berkarya di berbagai bidang kehidupan.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Chaironi Hidayat, menegaskan bahwa kolaborasi lintas lembaga dalam program ini adalah wujud nyata dari ukhuwah dan kepedulian sosial. Menurutnya, masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pelayanan umat yang menghadirkan rasa aman, nyaman, dan penuh kasih bagi setiap insan yang singgah.
Dari kesaksian para pemudik, layanan yang tersedia di masjid ini membawa manfaat nyata. Rasa lelah perjalanan seakan luruh melalui sentuhan kepedulian, sementara suasana masjid menghadirkan ketenangan batin. Bahkan, interaksi sederhana antara relawan, terapis, dan musafir menjadi jembatan silaturahmi yang menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan.
Program ini menjadi pengingat bahwa di setiap perjalanan, selalu ada ruang untuk berbagi dan menebar kebaikan. Masjid, dalam perannya yang hakiki, kembali menjadi tempat berlabuhnya jiwa-jiwa yang lelah, sekaligus ladang amal bagi mereka yang ingin mendekatkan diri kepada Allah. Di sanalah, keberkahan Ramadan menemukan jalannya—melalui tangan-tangan yang melayani dengan ikhlas, dan hati-hati yang saling menguatkan dalam perjalanan menuju-Nya.