Syafaat
Benteng yang Tak Terlihat
Di tengah riuh cahaya layar yang tak pernah lelap,
anak-anak berjalan di lorong tanpa batas,
dunia membentang seperti samudra tanpa tepi,
engkau adalah pelabuhan pertama yang menenangkan gelombang.
Hukum-hukum ditulis dengan tinta tegas,
pasal-pasal berdiri seperti pagar yang tinggi,
tetapi jiwa anak tidak tumbuh dari larangan semata,
ia mekar dari kasih yang diam-diam menuntunnya pulang.
Engkau adalah madrasah sebelum segala kata diajarkan,
tempat nilai disemai tanpa suara, tanpa paksaan,
di mana keteladanan lebih lantang dari seribu nasihat,
dan cinta menjadi kompas yang tak pernah kehilangan arah.
Maka ketika dunia digital memanggil dengan segala gemerlapnya,
anakmu tak sekadar melihat, tetapi memahami;
sebab dalam dadanya telah kau tanamkan cahaya,
yang menjadikannya teguh, meski berjalan di zaman yang rapuh.
