Ibarat Balapan, Ramadan adalah Pit Stop
Oleh : Syafaat
DALAM balapan mobil Formula 1, kita mengenal pit stop. Pit stop adalah tempat pemberhentian kendaraan yang melaju dalam pertandingan mobil F 1 setelah berputar dengan kecepatan tinggi. Dalam pit stop itu kendaraan akan dicek kelayakannya, diganti ban, oli, dan lain-lain. Formula 1 adalah balapan mobil tercepat di dunia. Siapa yang paling cepat dialah yang menang. Namun, dalam balapan tersebut juga butuh tempat pemberhentian sebelum dilanjutkan ke etape berikutnya.
Bisa kita bayangkan bagaimana jika tidak ada pit stop. Mobil tersebut akan melaju dengan kecepatan tinggi tanpa henti, dan mungkin akan semakin cepat mencapai garis finis. Namun, itu tidak akan terjadi. Sebab, dengan tidak berhentinya mobil di pit stop, tidak dapat dicek kelayakan mobil tersebut. Jika tidak berhenti di pit stop, mungkin mobil tidak akan sampai di garis finis dengan selamat. Sebab, dalam perjalanan yang begitu cepat, banyak komponen mobil yang perlu diganti dan perbaiki. Jika dipaksakan tidak mampir di pit stop, mungkin mobil tersebut akan meledak, atau selip karena ban gundul.
Begitulah mobil formula sebagai balapan tercepat pun butuh pit stop. Begitu juga dengan manusia. Tiap malam juga perlu pit stop dipembaringan, butuh pengisian bahan bakar, baik lahir maupun batin. Jika bahan bakar lahir tidak terisi sesuai kebutuhan, maka kondisi tidak akan fit. Begitu juga jika bahan bakar yang dimasukkan tidak sesuai kebutuhan tubuh, maka akan merusak jaringan tubuh. Bahan bakar batin juga dibutuhkan untuk keseimbangan. Jika salah atau kurang dalam memberikan bahan bakar batin, maka akan masuk bahan bakar lain yang salah. Tentu hal itu akan merusak jaringan batin, yang dampaknya akan lebih besar jika dibandingkan kesalahan mengisi bahan bakar lahir. Bahan bakar batin adalah kebutuhan batin seseorang yang tidak boleh kosong. Umat Islam diwajibkan melakukan salat lima waktu sebagai pit stop batin agar batin dan pikiran dapat terisi dengan benar. Sebab, batin dapat diibaratkan driver tubuh yang bergerak tanpa henti.
Ramadan adalah bulan sebagai tempat pemberhentian tahunan bagi umat Islam. Pada bulan ini, umat Islam diwajibkan melakukan puasa. Dengan puasa, maka tubuh kita akan beristirahat dan batin kita akan beristirahat juga. Di luar bulan Ramadan, semua yang dihalalkan dapat kita lakukan. Dalam bulan ini, ada yang dihalalkan bagi kita, tapi tidak boleh dilakukan pada siang hari.
Pada bulan ini, setan-setan telah dibelenggu. Nafsu kita terjaga dengan puasa. Amarah dan syahwat kita teredam dengan puasa. Kita juga termotivasi untuk tidak melakukan dosa. Sebab, perbuatan yang dilarang oleh tuntunan agama akan dilipatgandakan dosanya. Begitu juga dengan amal kebajikan. Kita juga akan termotivasi untuk melakukan ibadah. Sebab, pahala yang kita dapatkan juga dilipatgandakan. Begitulah Ramadan. Sesuatu yang dihalalkan pun harus kita tahan hingga diperbolehkan saat berbuka. Apalagi yang jelas diharamkan, sangat dilarang untuk dilakukan.
Begitulah hidup, selalu ada aturan. Jika kita mengikuti aturan yang sudah ditetapkan, kita akan selamat dunia akhirat. Aturan tersebut yang menetapkan adalah Yang Menciptakan Hidup.
Semoga Ramadan tahun ini dapat kita jadikan sebagai pit stop tahunan yang benar. Agar dalam perjalanan kehidupan selanjutnya kita dapat menjalaninya dengan ridlo-Nya. Kita dapat memanfaatkan pit stop mingguan (salat Jumat) dan pit stop harian (pengaturan waktu yang dianjurkan dalam agama) secara tepat. Oleh karena itu, diharapkan hidup kita semakin bernilai, dan kita dapat mencapai garis finis dengan selamat. (*)
