Lentera Sastra Banyuwangi
25 Maret 2026

Ketapang di Ambang Gelombang Pulang, Banyuwangi Gelar Rakor Bersama Kapolri

Banyuwangi (Lensa Banyuwangi) Pelabuhan Ketapang perlahan berubah wajah. Senin, 23 Maret 2026, pagi belum sepenuhnya terjaga, namun deru mesin dan langkah kaki para pemudik telah lebih dulu memenuhi udara. Roda dua berbaris seperti arus sungai yang mencari muara, membawa rindu yang hendak dituntaskan.

Arus balik Lebaran mulai menampakkan denyutnya. Tidak lagi sekadar riak, tetapi gelombang yang diperkirakan mencapai puncaknya pada 26 hingga 29 Maret—hari-hari ketika waktu seakan dipercepat oleh keinginan untuk kembali.

Di tengah geliat itu, para pemangku kebijakan berkumpul, merajut siasat agar perjalanan tetap mengalir tanpa tersendat. Nanang Avianto, Mujiono, Rofiq Ripto Himawan, bersama jajaran Forkopimda, duduk dalam satu meja koordinasi di Posko ASDP Ketapang, Selasa (24/3/2026). Dari kejauhan, suara Listyo Sigit Prabowo turut menyatu secara daring, seakan menegaskan bahwa arus manusia ini adalah denyut bersama yang harus dijaga.

Mujiono mengimbau dengan nada yang tenang namun penuh makna: perjalanan bukan sekadar berpindah tempat, tetapi juga soal memilih waktu yang bijak. Di tengah kebijakan Work From Anywhere, ia mengajak para pemudik untuk merenggangkan waktu, menghindari puncak yang rawan sesak.

Sementara itu, strategi pun disiapkan seperti jaring pengaman tak kasatmata. Enam belas titik buffer zone disebar di sekitar pelabuhan—ruang-ruang jeda bagi kendaraan yang mungkin terhenti sejenak sebelum menyeberang. Nama-nama tempat seperti RTK Tanjungwangi, Terminal Sri Tanjung, SPBU Sri Tanjung, hingga Grand Watu Dodol menjadi simpul-simpul penyangga, menjaga agar arus tetap bernapas.

Petugas gabungan—TNI, Polri, BPBD, SAR, hingga relawan—berdiri sebagai penjaga ritme, memastikan perjalanan ribuan orang tidak berubah menjadi kegelisahan massal. Mereka adalah tangan-tangan yang bekerja di balik layar, merapikan kekacauan sebelum ia sempat terjadi.

Di sisi lain, modernitas turut mengambil peran. Tiket tak lagi diperjualbelikan di pelabuhan. Melalui platform digital Ferizy, para pemudik telah diingatkan bahwa perjalanan kini dimulai dari genggaman—bahwa kesiapan adalah bagian dari keselamatan.

Ketapang hari itu bukan sekadar pelabuhan. Ia adalah pertemuan antara rindu, strategi, dan harapan. Di antara klakson yang bersahutan dan langkah yang tergesa, tersimpan satu tujuan yang sama: pulang dengan selamat, kembali dengan utuh.

By redaksi

Lentera Sastra Banyuwangi merupakan wadah Literasi, Seni dan Budaya Banyuwangi dan Indonesia

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *