BANYUWANGI, (Lensa Banyuwangi) Pada hari ketujuh bulan Syawal, Sabtu (28/03/2026) ketika gema takbir telah menjelma sunyi yang khusyuk, warga Kelurahan Boyolangu kembali menenun tradisi yang sarat makna: Lebaran Kopat. Sebuah perayaan yang tidak sekadar menghadirkan hidangan, tetapi juga merawat ingatan kolektif tentang syukur, kebersamaan, dan doa yang tak pernah putus.
Di bawah langit malam yang teduh, kampung-kampung di Boyolangu berpendar oleh cahaya lampu rumah dan wajah-wajah penuh sukacita. Ketupat-ketupat yang teranyam dari janur muda seolah menjadi simbol hati manusia—yang dahulu kusut, kini diluruskan oleh puasa Ramadan, lalu diikat dalam kesucian Idulfitri.
Sejak petang, warga telah sibuk menyiapkan hidangan. Ketupat disandingkan dengan sayur santan dan lauk pauk khas, disusun rapi di atas tampah dan meja-meja sederhana. Namun di balik itu semua, tersimpan niat yang sama: berbagi rezeki dan menghadirkan kehangatan bagi sesama.
Selepas azan Magrib berkumandang, langkah-langkah kaki mulai berkumpul. Keluarga, tetangga, dan sanak saudara duduk bersila dalam lingkar kebersamaan. Sebelum tangan menyentuh makanan, doa dipanjatkan—mengalir pelan dari bibir yang basah oleh harap. Dalam hening itu, seluruh jiwa menunduk, mengakui bahwa segala nikmat berasal dari Yang Maha Kuasa.
Ketika doa usai, ketupat pun disantap bersama. Suap demi suap bukan sekadar mengenyangkan perut, tetapi juga menguatkan tali silaturahmi. Di antara senda gurau dan senyum yang merekah, terasa bahwa kebersamaan adalah anugerah yang tak ternilai.
Anak-anak berlarian di lorong-lorong kampung dengan riang. Mereka mengenakan baju koko dan kopiah, dengan sarung yang dililit sederhana—membentuk potret masa kecil yang polos dan penuh keceriaan. Sementara itu, para orang tua larut dalam percakapan hangat, merajut kembali hubungan yang mungkin sempat renggang oleh waktu.
Selepas salat Isya, suasana semakin hidup. Panggung seni digelar, menghadirkan tarian khas Banyuwangi yang dibawakan oleh para pemuda setempat. Gerak tubuh mereka bukan sekadar hiburan, melainkan bahasa budaya yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.
Di sudut lain, deretan pelapak UMKM turut meramaikan malam. Aroma makanan, tawa pembeli, dan transaksi sederhana menjadi tanda bahwa tradisi ini juga menghidupkan denyut ekonomi warga.
Ketua panitia, Risyal Alfani, mengungkapkan rasa syukur atas terselenggaranya rangkaian “Boyolangu Traditional Culture” dengan lancar. Ia menilai bahwa kekuatan utama tradisi ini terletak pada semangat kolektif masyarakat yang terus menjaga warisan leluhur.
Sebelum perayaan ini, warga terlebih dahulu menggelar khatmil Qur’an dan ziarah ke petilasan Petilasan Ki Buyut Jaksa. Di tempat sunyi itu, doa-doa dipanjatkan untuk mengenang jasa leluhur yang diyakini telah memberi berkah bagi tanah Boyolangu.
Lebaran Kopat menjadi pembuka rangkaian tradisi yang lebih panjang: dari pentas seni budaya, pertunjukan barong, pawai kebo-keboan, hingga ritual Puter Kayun yang sarat nilai spiritual dan historis.
Di Boyolangu, ketupat bukan sekadar makanan. Ia adalah bahasa cinta, simbol maaf, dan tanda syukur. Dalam anyamannya, tersimpan pesan bahwa kehidupan, seperti janur yang dirajut, akan menemukan bentuk indah ketika dijalani dengan kesabaran, kebersamaan, dan iman.
