Lentera Sastra Banyuwangi
20 Maret 2026

Masjid Jami’ Baiturrahman Kembiritan: Menjadi Pelabuhan Hening bagi Musafir Lebaran 1447 Hijriah

BANYUWANGI (Lensa Banyuwangi) Di antara riuhnya arus mudik yang berdenyut dari kota ke kampung halaman, Masjid Jami’ Baiturrahman Kembiritan menjelma sebagai oase spiritual—sebuah pelabuhan hening tempat lelah ditanggalkan dan doa dipanjatkan. Dalam rangka menyukseskan program Masjid Ramah Pemudik (MRP) 2026, masjid ini menyiapkan diri bukan sekadar sebagai tempat singgah, melainkan sebagai ruang pemulihan jiwa dan raga para musafir.

Dengan pintu yang terbuka selama 24 jam, Masjid Baiturrahman seolah mengamalkan firman Ilahi tentang rumah-rumah Allah yang dimuliakan, tempat nama-Nya senantiasa disebut siang dan malam. Di sini, waktu tidak lagi dibatasi oleh jam, melainkan oleh kebutuhan hati yang ingin bersandar.

Fasilitas yang disiapkan pun mencerminkan kesungguhan dalam melayani tamu-tamu Allah. Lahan parkir yang mampu menampung sekitar 10 mobil dan 50 sepeda motor memberi ruang bagi para pemudik untuk berhenti tanpa cemas. Di dalamnya, tersedia tempat istirahat yang nyaman dan aman—sebuah ruang jeda bagi tubuh yang letih setelah menempuh perjalanan panjang.

Sebanyak 12 kamar mandi dan WC disediakan dengan kebersihan yang terjaga, menjadi bentuk penghormatan terhadap pentingnya kesucian dalam ibadah. Tak hanya itu, jaringan WiFi turut dihadirkan sebagai jembatan komunikasi, menghubungkan para musafir dengan keluarga yang menanti di kampung halaman.

Keamanan pun menjadi prioritas, dengan pemasangan CCTV di berbagai sudut masjid. Sementara itu, kehangatan sederhana hadir melalui dispenser yang menyediakan kopi dan teh, seakan menghidangkan rasa rumah bagi setiap tamu yang singgah. Fasilitas P3K juga disiapkan sebagai bentuk ikhtiar menjaga kesehatan para pemudik.

Salah satu pengurus takmir masjid, Guntir Al Badri, menyampaikan bahwa kesiapan ini merupakan bagian dari pengabdian kepada umat. “Dalam rangka arus mudik dan arus balik Idulfitri 1447 Hijriah, kami ingin memastikan para pengunjung merasa aman dan nyaman. Kami berharap perjalanan mereka menjadi lebih tenang, dan ibadah mereka dapat dilakukan dengan khusyuk,” ujarnya.Kondisi Tempat Parkir (18/03/2026)

Apa yang dilakukan Masjid Baiturrahman bukan sekadar pelayanan fisik, tetapi juga peneguhan nilai-nilai ukhuwah Islamiyah. Di tengah perjalanan yang panjang dan melelahkan, masjid ini hadir sebagai pengingat bahwa setiap langkah pulang sejatinya adalah perjalanan menuju fitrah—menuju kesucian yang dirindukan.

Sebagaimana tergambar dalam dokumentasi yang beredar di media sosial, suasana masjid tampak hidup oleh denyut para pemudik yang singgah—ada yang terlelap sejenak, ada yang menegakkan shalat, dan ada pula yang sekadar menyeruput kopi dalam diam. Semua menyatu dalam satu tujuan: mencari keberkahan di jalan pulang.

Masjid Jami’ Baiturrahman Kembiritan pun membuktikan bahwa rumah ibadah tidak hanya menjadi tempat bersujud, tetapi juga menjadi ruang kemanusiaan—tempat di mana kelelahan dihargai, perjalanan dimuliakan, dan setiap musafir diperlakukan sebagai tamu Allah yang harus dilayani dengan sepenuh hati.

By redaksi

Lentera Sastra Banyuwangi merupakan wadah Literasi, Seni dan Budaya Banyuwangi dan Indonesia

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *