KALIBARU, Banyuwangi (Lensa Banyuwangi) Di antara desir angin pegunungan dan riuh lirih kendaraan para perantau, berdiri Masjid Nurul Huda Kalibaru Manis sebagai oase ruhani yang memanggil jiwa untuk sejenak bersujud dan beristirahat. Di musim mudik yang sarat rindu, masjid ini menjelma bukan sekadar rumah ibadah, melainkan pelabuhan sunyi bagi para musafir yang lelah oleh perjalanan panjang.
Di pelatarannya yang lapang, kendaraan berhenti bukan hanya untuk menepi, tetapi untuk menata kembali niat dan napas. Roda-roda yang berdebu seolah menemukan jeda, sementara hati yang penat menemukan cahaya. Masjid ini hadir sebagai bagian dari ikhtiar menghadirkan “Masjid Ramah Pemudik”—sebuah konsep pelayanan yang menyatukan kebutuhan jasmani dan ketenangan rohani.
Fasilitas yang disediakan bukan sekadar pelengkap, melainkan bentuk kasih sayang yang nyata. Area parkir yang luas menyambut kendaraan dari berbagai penjuru. Di sudutnya, Rest Area “Bu Asih” menawarkan oleh-oleh khas, seakan mengingatkan bahwa perjalanan tak hanya tentang tujuan, tetapi juga kenangan yang dibawa pulang.
Di dalam kawasan masjid, denyut zaman terasa berpadu dengan keteduhan iman. Layanan Wi-Fi gratis dan titik pengisian daya menjadi jembatan komunikasi di tengah perjalanan, sementara kursi-kursi santai dan kedai kopi menghadirkan ruang jeda yang hangat. Kamera pengawas yang berjaga siang dan malam menegaskan bahwa keamanan adalah bagian dari ibadah pelayanan.
Namun lebih dari itu, Masjid Nurul Huda Kalibaru tetap teguh sebagai pusat pendidikan dan cahaya ilmu. Di sekitarnya tumbuh generasi Qur’ani melalui RA, TPQ, dan Madrasah Diniyah yang terakreditasi. Di sinilah ayat-ayat suci tidak hanya dibaca, tetapi ditanamkan, tumbuh bersama waktu.
Pada selasar yang bersih dan teduh, para pemudik merebahkan lelahnya. Ada yang memejamkan mata, ada pula yang mengangkat tangan dalam doa, memohon keselamatan hingga tujuan. Di antara itu semua, terpampang sebuah pesan sederhana namun menggugah: “Istirahatlah ketika Anda lelah, perjalananmu ibadahmu.” Sebuah pengingat bahwa dalam setiap kilometer, ada nilai pengabdian yang tak kasatmata.
Maka bagi siapa pun yang melintasi jalur selatan Banyuwangi, singgahlah sejenak di masjid ini. Di sana, tubuhmu mungkin beristirahat, tetapi jiwamu akan pulang lebih dulu—kepada ketenangan, kepada Tuhan, kepada makna perjalanan yang sesungguhnya.
