BANYUWANGI Lensa Banyuwangi) Menjelang musim mudik Lebaran, ketika jalan-jalan dipenuhi oleh langkah pulang dan rindu yang mengalir tanpa jeda, Masjid Sabilul Muttaqin di Desa Tulungrejo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, bersiap menjadi lebih dari sekadar tempat ibadah. Ia hadir sebagai ruang teduh, sebagai pelabuhan jiwa bagi para musafir yang menempuh perjalanan panjang.
Dengan mengusung konsep Masjid Ramah Pemudik, masjid ini memantapkan diri menjadi tempat di mana lelah menemukan istirahatnya, dan doa menemukan arah pulangnya. Dari kejauhan, kubah emasnya berkilau diterpa cahaya, sementara menara yang menjulang seakan menjadi penunjuk jalan—bahwa di sini, setiap langkah dapat berhenti sejenak untuk bersujud.
Kasi Bimas Islam Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menegaskan bahwa kesiapan masjid ini telah mencapai tahap optimal. “Alhamdulillah, persiapan di sini mulai dari penataan kamar mandi hingga tempat istirahat bagi para pemudik, semuanya sudah siap mantap,” ujarnya, seolah memastikan bahwa setiap tamu Allah akan disambut dengan sebaik-baiknya pelayanan.
Di pelatarannya, area parkir yang luas terbentang, memberi ruang bagi kendaraan-kendaraan yang datang membawa cerita perjalanan. Tidak ada kegelisahan akan sempitnya tempat, sebab setiap yang singgah diberi ruang untuk merasa aman.
Di dalamnya, kamar mandi yang bersih dan terawat menjadi bagian dari penghormatan terhadap kesucian—bahwa perjalanan panjang tidak boleh menghalangi seseorang untuk tetap menjaga kebersihan diri sebelum menghadap Ilahi. Sementara itu, tempat istirahat disediakan bagi para pemudik yang ingin merebahkan tubuh, memejamkan mata sejenak, dan mengumpulkan kembali tenaga yang tersisa.
Keamanan pun dijaga melalui kehadiran pos satpam, menghadirkan rasa tenteram bagi setiap pengunjung. Di sudut lain, tersedia ruang untuk sekadar bersantai, melepas penat tanpa tergesa-gesa.
Namun yang paling menghangatkan adalah kehadiran pojok kuliner di sekitar masjid. Semangkuk bakso yang mengepul, secangkir kopi atau teh yang disediakan dengan cuma-cuma—semua itu bukan sekadar hidangan, melainkan bentuk kasih sayang yang sederhana. Di sanalah, para musafir menemukan kembali rasa rumah, meski masih berada di tengah perjalanan.
Masjid Sabilul Muttaqin tidak hanya menjadi tempat berhenti, tetapi juga tempat mengingat. Mengingat bahwa perjalanan pulang bukan hanya tentang jarak yang ditempuh, tetapi tentang hati yang kembali kepada ketenangan. Bahwa di sela-sela perjalanan yang panjang, selalu ada ruang untuk bersujud, memohon keselamatan, dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya.
Bagi para pemudik yang melintasi jalur Glenmore, masjid ini adalah pilihan yang tepat—bukan hanya untuk beristirahat, tetapi juga untuk menyegarkan jiwa. Sebab di Masjid Sabilul Muttaqin, setiap singgah bukan sekadar jeda, melainkan perjalanan kecil menuju kedamaian yang lebih dalam.
Dan di sanalah, di antara lelah dan doa, perjalanan menjadi lebih bermakna—karena setiap langkah selalu ditemani oleh harapan dan keberkahan.
