Lentera Sastra Banyuwangi
2 April 2026

Naik Sepeda ke Kantor, Bupati Ipuk Fiestiandani Ajak ASN Banyuwangi Hemat BBM

Banyuwangi, (Lensa Banyuwangi) Langit Banyuwangi belum sepenuhnya terang ketika roda-roda harapan mulai berputar perlahan di atas aspal yang masih menyimpan sisa embun. Di antara hiruk pikuk kendaraan yang biasanya mendominasi jalan, tampak sosok Ipuk Fiestiandani mengayuh sepeda, menapaki jarak sekitar dua kilometer dari kediamannya menuju Kantor Pemerintah Kabupaten, Rabu (01/04/2026)

Ia tidak sekadar berangkat bekerja. Ia sedang menulis pesan—tanpa pengeras suara, tanpa podium—tentang kesadaran dan kesederhanaan.

“Ini langkah kecil untuk menghemat energi, utamanya BBM,” tuturnya, dengan napas yang berirama bersama kayuhan pedal. Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan ajakan yang lebih luas: merawat bumi dengan cara-cara yang mungkin sering terlupakan.

Sepanjang perjalanan, ia tidak melintas sebagai pejabat yang berjarak, melainkan sebagai manusia yang menyapa. Senyum yang dilemparkan kepada warga, sapaan hangat di tepi jalan, menjadi jembatan yang menghubungkan kebijakan dengan kehidupan nyata. Sepeda, dalam momen itu, menjelma bukan hanya alat transportasi, tetapi medium perjumpaan.

Bahkan, roda itu terus berputar hingga ke titik-titik pelayanan publik. Saat meninjau pembangunan gedung baru perpustakaan daerah, ia tetap setia pada kayuhan yang sama—seolah ingin menegaskan bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar, tetapi dari konsistensi yang sederhana.

Ajakan pun ia semaikan kepada para Aparatur Sipil Negara: bagi yang dekat, berjalanlah; bagi yang mampu, bersepedalah; dan bagi yang terbiasa duduk lama di balik meja, bangkitlah sejenak menyapa tubuh yang perlu bergerak. Dalam ajakan itu tersirat harapan agar kebiasaan kecil menjelma budaya yang menyehatkan, bukan hanya bagi raga, tetapi juga bagi cara pandang.

Gerakan ini bukanlah sesuatu yang lahir tiba-tiba. Sejak Februari 2026, sebuah kebijakan telah lebih dulu berdenyut: setiap Jumat, ASN diajak menggunakan transportasi umum maupun ojek daring. Sebuah langkah yang tak hanya mengurangi konsumsi bahan bakar, tetapi juga mengalirkan rezeki kepada para pengemudi yang menggantungkan hidup di jalanan.

Ketika wacana bekerja dari rumah setiap Jumat mulai digaungkan secara nasional, Banyuwangi memilih untuk merenung sejenak. Bagi Ipuk, efisiensi bukan sekadar soal mengurangi aktivitas, tetapi bagaimana tetap menjaga denyut pelayanan publik agar tidak kehilangan ritmenya.

“Kalau sudah banyak yang menggunakan angkutan umum, berjalan kaki, atau bersepeda, mungkin WFH menjadi pilihan terakhir,” ujarnya, lirih namun tegas.

Di kota yang terus bergerak ini, sepeda pagi itu menjadi simbol—bahwa perubahan bisa lahir dari kesadaran yang sederhana. Bahwa di tengah laju zaman dan kebutuhan energi yang kian besar, selalu ada ruang untuk kembali: pada langkah kecil, pada napas yang teratur, dan pada kepedulian yang tumbuh dari dalam diri.

By redaksi

Lentera Sastra Banyuwangi merupakan wadah Literasi, Seni dan Budaya Banyuwangi dan Indonesia

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *