BANYUWANGI, (Lensa Banyuwangi) Pagi yang masih menyisakan harum ketupat dan gema takbir, Minggu (29/03/2026) perlahan menjelma menjadi riuh yang lain: riuh perdagangan, riuh perjumpaan, riuh harapan. Di pelataran Taman Blambangan, denyut ekonomi kreatif kembali bersemi, seolah tak ingin kehilangan waktu setelah jeda panjang Hari Raya.
Banyuwangi Creative Market (BCM) kembali membuka tirainya. Lapak-lapak yang beberapa hari lalu terpejam kini satu per satu terjaga, menyambut langkah-langkah pengunjung yang datang membawa rasa rindu akan suasana yang akrab: aroma jajanan tradisional, warna-warni kerajinan, dan sapaan hangat para pelaku usaha kecil yang setia menjaga nyala kreativitas.
Memang, belum seluruh pelapak kembali hadir. Sebagian masih tenggelam dalam hangatnya silaturahmi Lebaran. Namun, separuh yang telah membuka lapak justru disambut oleh gelombang manusia yang tak kalah setia. Ratusan pengunjung memadati kawasan itu sejak pagi, menciptakan lanskap sosial yang hidup, sebuah simfoni antara ekonomi dan kebersamaan.
Koordinator Banyuwangi Creative Market, Rahmat, menuturkan bahwa geliat hari pertama ini masih berada pada fase kebangkitan awal. Sekitar separuh pelapak telah kembali berjualan, sementara sisanya masih dalam suasana libur. Namun demikian, jumlah pengunjung pun telah menyentuh angka yang sepadan, menghadirkan keseimbangan yang menjanjikan.
Di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih, justru terselip kejutan manis. Para pedagang merasakan peningkatan omzet yang cukup signifikan. Seolah masyarakat tak ingin menunda kebahagiaan, mereka berbondong-bondong datang, menjadikan ruang ini bukan sekadar pasar, tetapi ruang rekreasi rasa, tempat di mana kenangan dan cita rasa bertemu.
Kehadiran pengunjung dari luar daerah turut memperkaya warna suasana. Kendaraan berpelat luar kota memenuhi area parkir, terutama dari Bali, menandakan bahwa Banyuwangi tetap menjadi simpul persinggahan yang menggoda. Para pelancong itu tampak larut dalam suasana: menyeruput kopi pagi, mencicipi kuliner lokal, dan menelusuri setiap sudut lapak dengan rasa ingin tahu yang hangat.
Rahmat juga mengungkapkan, belum meratanya kehadiran pelapak dipengaruhi oleh informasi pembukaan yang belum sepenuhnya tersampaikan. Namun optimisme tetap menjadi nada dasar. Ia percaya, dalam hitungan hari, seluruh lapak akan kembali hidup, dan Banyuwangi Creative Market akan menjelma menjadi panggung yang lebih semarak.
“Ini baru permulaan,” ujarnya lirih namun penuh keyakinan. “Ke depan, kita akan melihat lebih banyak senyum, lebih banyak transaksi, dan lebih banyak cerita yang lahir dari sini.”
Di antara langkah-langkah yang bersilangan dan tawa yang mengalun, Banyuwangi Creative Market kembali menemukan jiwanya. Ia bukan sekadar ruang jual beli, melainkan ruang temu—tempat warga dan pendatang saling menyapa dalam bahasa yang paling sederhana: kehangatan.
Dan di sanalah, di bawah langit Banyuwangi yang perlahan beranjak siang, ekonomi rakyat kembali berdetak pelan namun pasti, seperti doa yang diam-diam dikabulkan.
