Pulang Kampung; Sebuah Tradisi
oleh : Syafaat
Sebuah tradisi yang dilakukan berulang-ulang dan turun-temurun setiap Ramadan dan Idul Fitri adalah tradisi mudik atau pulang kampung. Orang atau keluarga yang merantau serasa belum sempurna Ramadan dan Idul Fitri-nya jika belum pulang kampung.
Walaupun mungkin di bulan Ramadan, mereka tidak melaksanakan ibadah (secara lengkap); tidak puasa atau mungkin tidak mendirikan salat lima waktu dan salat tarawih. Namun, saat Idul Fitri, mereka berupaya semaksimal mungkin bisa pulang kampung dan melaksanakan Salat Id di kampung halaman dengan baju baru dan penampilan baru. Atau barang kali juga memperkenalkan istri atau suami atau menantu baru, termasuk bertemu keluarga dan handai-taulan.
Segala cara ditempuh agar bisa pulang kampung. Tidak peduli harus melanggar lalu lintas, karena menggunakan kendaraan yang kurang layak dengan barang bawaan berjibun. Tidak peduli juga kendaraan butut itu melalui jalan-jalan yang rusak akibat kurang perawatan.
Jika menggunakan jasa kendaraan umum, mereka tidak peduli berdesak-desakan. Bahkan, mereka rela jika harus naik ke kendaraan melalui lubang jendela. Tidak peduli pula jika harus naik di atas gerbong kereta api atau duduk di depan WC.
Bagi yang menggunakan motor, mereka rela memodifikasi motor sedemikian rupa agar dapat mengangkut seluruh anggota keluarga dan barang bawaan menuju kampung halaman. Tidak jarang pula mereka pulang kampung membawa kendaraan dinas milik negara atau menyewa kendaraan. Sehingga, di mata para tetangga, mereka terkesan sukses di perantauan. Alamak.
Diketahui bersama, satu bulan sebelum Lebaran atau bahkan beberapa bulan sebelum Ramadan, banyak sudah punya planning pulang kampung. Bahkan, tiket kereta api kelas bisnis dan eksekutif sudah habis diborong para pemudik dua puluh hari sebelum Idul Fitri.
Budaya mudik yang setiap tahun dilakukan masyarakat Indonesia ini ternyata belum diimbangi dengan mulusnya jalan. Padahal, ruas jalan yang kurang layak bisa menyebabkan kecelakaan. Apalagi, jumlah kendaraan yang melintas dalam satu waktu tidak sedikit.
Jika kita melihat di Facebook dan Twiter, maka akan banyak kita temui status di akun-akun yang menggambarkan mudik dengan satu kendaraan yang sangat overload. Hal itu menggambarkan betapa menariknya sebuah tradisi mudik. Ternyata, mudik bukan hanya menjadi tradisi Indonesia. Sebab, hampir di seluruh daerah di dunia mengenal budaya mudik pada saat-saat tertentu. Tetapi, perlu diketahui bahwa mudik saat Lebaran hanya ada di Indonesia. Tentu itu menjadi keunikan tersendiri.
Ibu-ibu adalah orang yang paling sibuk dalam pulang kampung. Sebab, kesuksesan tradisi pulang kampung juga dinilai dari oleh-oleh yang dibawa. Meskipun yang paling penting adalah silaturahmi, tapi buah tangan tetap diharapkan dan ditunggu-tunggu. Meskipun hal itu merupakan pemborosan, tapi kita tidak bisa lepas dari tradisi tersebut. Sebab, ada kepuasan tersendiri dalam diri saat memberikan oleh-oleh kepada para saudara dan tetangga di kampung.
Ramadan banyak memberi berkah. Bukan hanya fakir miskin dan mustahiq yang mendapatkan berkah dari orang-orang yang mengeluarkan zakat, infak, dan sedekah, di bulan Ramadan. Orang-orang yang tidak termasuk tiga golongan tersebut juga merasa mendapat berkah. Sebab, amalan yang dilakukan di bulan Ramadan akan dilipatgandakan pahalanya. Itu senantiasa dianggap berkah yang tidak bisa ditakar.
Sayang, pembagian zakat, infak, dan sedekah, oleh muzakki banyak yang tidak terkoordinasi. Banyak yang dilakukan sendiri oleh para muzakki, baik muzakki perorangan maupun muzakki perusahaan. Padahal, jika zakat, infak, dan sedekah, dikelola secara profesional, maka akan menjadi modal yang tak ternilai dalam pemberdayaan umat.
Pulang kampung di samping untuk melepas rasa kangen di kampung halaman, dengan sanak saudara, mempererat tali silaturahmi, juga dijadikan ajang pamer kesuksesan selama di perantauan. Sehingga, bagi yang tidak benar-benar sukses, kadang mereka berupaya sekuat tenaga agar di mata orang-orang kampung terlihat sukses. Walau tidak terlihat sukses, paling tidak mereka terlihat lebih baik daripada masih berada di kampung. Tidak heran jika banyak orang yang pulang kampung dengan penampilan sangat glamour.
Bagi yang bermodal pas-pasan, yaitu yang mudik hanya dengan kendaraan roda dua, tidak jarang kendaraan tersebut akan sarat muatan. Sepeda motor itu akan diberi beberapa peranti agar bisa memuat banyak barang, baik barang bawaan dari rantau maupun bekal dari kampung halaman saat balik ke perantauan lagi.
Sementara itu, setiap kembali ke kota, biasanya sanak keluarga di desa ada yang ikut merantau. Alasannya, ingin sukses di kota. Meski tanpa skill yang mumpuni, hanya dengan tekad yang kuat, tidak sedikit yang nekat merantau ke kota. Terbukti, mudik Lebaran selalu melahirkan perantau-perantau baru.
Memang banyak orang yang sukses karena merantau. Sehingga, wajar kalau banyak yang tergiur. Di perantauan, tekad menjadi manusia sukses semakin kuat. Semangat kerja akan semakin tinggi. Sudah kadung jauh dari anak-istri, maka akan muncul perasaan malu jika tidak sukses. Nah, semangat yang tinggi itu menjadi modal yang sangat luar biasa dalam membangun nasib.
Seharusnya, semangat kerja yang tinggi di perantauan itu bisa digunakan sebagai modal membangun kampung halaman saat pulang nanti. Sebab, ternyata kampung halaman kita kaya sumber daya alam. Potensi itu sebenarnya dapat dijadikan modal dasar untuk membangun daerah.
Dengan pesatnya pembangunan di daerah, maka akan mengurangi arus urbanisasi. Sebab, desa sangat membutuhkan banyak tenaga dengan nyali besar. Sehingga, untuk menjadi orang sukses, tidak perlu lagi ke kota.
Sementara itu, mumpung saat-sat mudik masih jauh, alangkah baiknya saya mengingatkan. Pertama, sebelum mudik, pastikan rumah terkunci dengan baik. Kedua, pastikan segala barang elektronik dan kompor gas terlepas dari sumber arus dan tabung gas. Itu untuk menghindari bahaya yang tidak disangka-sangka dan tidak diinginkan. Ketiga, cek kondisi kendaraan yang akan digunakan mudik.
