Lentera Sastra Banyuwangi
12 April 2026

Samsudin
Subuh , Jakarta 21 juli 96

Keheningan tersambut ketenangan
Detikpun telah berlalu, menit terhitung di kesadaranku,
Dan setengah jam menjelang shubuh menemuiku,
Malam lambat meninggalkanku, melambai sekedar menandai perpisahan,
Walau besuk selalu bertemu di keningan, diketenangan, yang membuat kalbu ini tentram,
Karena kala kala itu Aku bisa bersenda gur

Senda gurau, berbisik dikeheningan,
Jelas tidak hanya telinga yang mendengar, namun menancap dilubuk yang paling dalam,
Kadang tersampai dgn lantunan bait,
Saat saat tertentu berubah menjadi dendang yg menyejukan, untukMU SANG PENGUASA !
Hanya kuberharap perhatianMU, keteduhan TatapanMU YA ROB !
Akhirnya panggilan itu datang, sayub sayub dari kejauhan, dan mendekat, jelas dan lantang
Ke AgungaMU Dise

Ke AgunganMU Terkumandang dimenara menara tinggi
Jakarta benar benar terbangun,walau sebenarnya tidak pernah tidur disepanjang malam
Keheningan telah berlalu,
Sepagi harus berjibaku, dgn sempitnya waktu,
Bus hanya satu untuk sll mengantarku, kukejar menemui kesibukanku, ditengah tengah hutan beton yg menjelang,
Tidak ada lambaian, apalagi senyuman, jangan harap sapaan, muàtahil kita dapatkan

Kau memandangi ku sepintas dengan sedikit senyum, adalah sejuta keindahan !
Apalagi dengan lambaian tanganmu, walau kau kadang menjauh hanya sedikit waktu kau menyapaku.
Bagiku senilai bukit bukit dan hamparan padang penuh beribu bunga nan indah,
Bagiku seharga berjuta permata mulia bersama setumpuk perhiasan terindah !
Tuanku Guru !….Tuanku telah dengan sabar mengajariku apa itu rasa , dan bagaimana menanam di hati ini

Bukankah mawar2 itu akan bangga dikala harus kering di sebuah PUSARA,
Dari pada harus mengering ditangkainya
Lebih bahagia sang mawar, apabila sang penabur adalah orang yg dikasihi si penempat pusara, atau orang2 yg zuhud, atau orang2 yg bersih dan sholeh, minimal orang2 yg berjasa kepada keluarga, lingkungan bahkan sebuah negara, ya katanya orang SANG PAHLAWAN !
Itulah cara cara kita mengucap syukur, kepadamu ya ROBI,

Kalau Aku ditanya, dimana kau banyak merasakan tentram ?

Ya… saat saat apabila aku bisa bencengkrama melalui Dzik dan tidak ada yg menyela ditengah2nya
Kedua saat saat kusenggangkan waktu di PUSARA, saat ku menengadah, bermunajad kepadaNYA, Saat saat orang terkasih, saat orang yg dekat, dan berjasa mengelilingiku
Dan mengamini setiap bait2ku

Sampai ďimana…… saya tidak tahu sampai anak2 tahu da

 

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *