BANYUWANGI (Lensa Banyuwangi) Di antara gema takbir yang mulai menggulung langit malam, ketika kalimat Allahu Akbar berpendar dari masjid ke masjid, ada langkah-langkah sunyi yang tak ikut bersuara, tetapi menjaga agar gema itu tetap teduh. Langkah itu adalah pengabdian—yang berjalan tanpa riuh, tetapi penuh makna.
Di malam yang sakral menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah, Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, turun langsung menapaki jalan-jalan kota bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Bukan sekadar patroli, melainkan ikhtiar menjaga agar malam kemenangan tetap berada dalam pelukan kedamaian.
Bersama Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Rofiq Ripto Himawan, Dandim Letkol (Arm) Triyadi Indrawijaya, serta Danlanal Banyuwangi Letkol Laut (P) Muhammad Puji Santoso, mereka menyusuri titik-titik strategis—dari pelataran Taman Sritanjung hingga gerbang perlintasan di Pelabuhan Ketapang. Tempat-tempat itu bukan sekadar lokasi, melainkan simpul pertemuan manusia, arus pulang, dan harapan.
Sebelumnya, ratusan personel gabungan telah berdiri dalam satu saf pengabdian, mengikuti apel pengamanan di Mapolresta Banyuwangi. Mereka adalah wajah-wajah yang mungkin tak dikenal, tetapi kehadirannya menjadi penopang rasa aman bagi ribuan jiwa yang merayakan.
“Ini adalah ikhtiar bersama, agar masyarakat dapat merayakan malam takbiran dan Idul Fitri dengan aman dan nyaman,” ujar Ipuk, dengan nada yang tak hanya administratif, tetapi juga mengandung kesadaran akan amanah.
Dalam bahasa batin, pengamanan ini bukan semata menjaga ketertiban, tetapi menjaga makna. Sebab malam takbiran bukan sekadar tradisi, melainkan momen pulang—pulang dari perjalanan panjang menahan diri, kembali kepada fitrah yang bersih. Namun, fitrah tidak akan terjaga jika ruang-ruang kebersamaan dipenuhi oleh kecerobohan.
Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Rofiq Ripto Himawan menegaskan, ratusan personel telah disiagakan di berbagai titik strategis, mulai dari jalur lalu lintas hingga pusat keramaian. Sekitar 330 personel gabungan dikerahkan, diperkuat dengan ratusan personel di tingkat Polsek yang tersebar di seluruh kecamatan.
Langkah ini bukan sekadar angka, tetapi bentuk kesungguhan. Sebuah kesadaran bahwa keamanan bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya, melainkan hasil dari penjagaan yang terus-menerus.
Ia pun mengimbau masyarakat agar merayakan takbir dengan penuh hikmah—cukup di masjid dan musala, tanpa perlu arak-arakan yang berpotensi menimbulkan mudarat. Sebab takbir sejatinya bukan tentang seberapa jauh kaki melangkah, tetapi seberapa dalam hati mengagungkan Allah.
Begitu pula dengan larangan penggunaan petasan dan kembang api. Setiap letupan yang terdengar mungkin tampak meriah, tetapi sering kali menyisakan luka. Padahal malam kemenangan seharusnya bebas dari rasa cemas, bebas dari kemungkinan celaka.
“Mari kita rayakan dengan hal-hal yang lebih bermanfaat,” pesannya.
Di balik semua itu, petugas di lapangan telah diarahkan untuk melakukan pengamanan secara masif—mengatur lalu lintas, mencegah balap liar, dan memastikan setiap sudut kota tetap berada dalam kendali. Namun sejatinya, sebesar apa pun upaya aparat, keamanan tidak akan pernah sempurna tanpa kesadaran masyarakat.
Dan di sinilah makna kebersamaan menemukan bentuknya.
“Keamanan bukan hanya tugas aparat, tetapi tanggung jawab kita semua,” ungkap Ipuk, mengajak masyarakat untuk turut menjaga Banyuwangi tetap damai.
Ajakan itu sederhana, tetapi dalam. Ia mengingatkan bahwa kedamaian bukan hanya urusan kebijakan, tetapi laku bersama. Bahwa setiap individu memiliki peran, sekecil apa pun, dalam menjaga harmoni.
Malam takbiran adalah malam yang memanggil manusia untuk kembali kepada Allah. Maka menjaga ketenangan malam itu, pada hakikatnya, adalah bagian dari ibadah. Menahan diri dari hal-hal yang membahayakan, adalah bentuk kesabaran. Dan ikut menjaga ketertiban, adalah wujud cinta kepada sesama.
Di antara gema takbir yang terus mengalun, pengabdian itu tetap berjalan—tanpa sorotan, tanpa tepuk tangan. Namun justru di situlah letak keindahannya. Sebab tidak semua kebaikan harus terlihat. Tidak semua pengorbanan harus disebutkan.
Sebagian cukup dirasakan. Dan malam itu, Banyuwangi tidak hanya dipenuhi suara takbir, tetapi juga dijaga oleh tangan-tangan yang bekerja dalam diam—agar setiap jiwa dapat merayakan kemenangan dengan hati yang tenang, dalam suasana yang damai, dan dalam lindungan kasih sayang-Nya.
