Lentera Sastra Banyuwangi
28 Maret 2026

Teduh di Tengah Arus: Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi, Para Pemudik Beristirahat dan Wisata Religi 

oplus_0
  1. BANYUWANGI (Lensa Banyuwangi) Di tengah derasnya arus mudik yang mengalir menuju Pulau Dewata, ada satu titik teduh yang tak pernah kehilangan denyutnya: Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi. Di sanalah para musafir berhenti sejenak, menanggalkan lelah, dan menambatkan jiwa dalam keheningan yang mengalir dari lantunan ayat-ayat suci.

Jumat, 27 Maret 2026, bertepatan dengan geliat arus mudik Idul Fitri 1447 Hijriyah, masjid yang berdiri anggun di jantung kota Banyuwangi itu kembali dipenuhi langkah-langkah para pengembara. Mereka datang dari berbagai penjuru, sebagian menuju Bali, sebagian lainnya sekadar mencari jeda di antara panjangnya perjalanan.

Namun, Masjid Baiturrahman bukan sekadar tempat singgah untuk menunaikan salat. Ia menjelma ruang spiritual sekaligus lanskap wisata religi yang menyatu dalam harmoni. Di lantai dua, terbentang Al-Qur’an berukuran raksasa—sebuah simbol kebesaran wahyu yang mengajak setiap mata untuk membaca, dan setiap hati untuk tunduk.

Tak jauh dari sana, jejak sejarah terpatri dalam sunyi: makam para bupati Banyuwangi terdahulu, yang menjadi saksi perjalanan panjang daerah ini. Para peziarah berjalan perlahan, seolah membaca kembali riwayat kepemimpinan yang telah mengukir wajah Banyuwangi hari ini.

Di luar pagar masjid, kehidupan berdenyut dalam warna yang berbeda. Taman Sri Tanjung menyambut dengan hijaunya yang menenangkan, menjadi ruang rehat bagi keluarga dan anak-anak yang ikut dalam perjalanan panjang. Sementara itu, Pendopo Sabha Swagata membuka pintunya bagi publik, menghadirkan nuansa budaya dan keramahan khas Banyuwangi yang tak lekang oleh waktu.

oplus_35

Pada bulan Ramadan hingga Idul Fitri, ratusan, bahkan ribuan pengunjung datang silih berganti. Mereka tidak hanya mengisi saf-saf salat, tetapi juga menghidupkan ruang-ruang masjid dengan doa, dzikir, dan langkah-langkah wisata religi yang sarat makna.

Masjid ini bukan bangunan baru yang lahir dari modernitas semata. Ia telah berdiri sejak 7 Desember 1773, diprakarsai oleh Bupati pertama Banyuwangi, Raden Tumenggung Wiraguna I, yang juga dikenal sebagai Mas Alit. Dari masa ke masa, ia tetap tegak, menjadi saksi perlintasan zaman sekaligus penjaga denyut spiritual masyarakat Banyuwangi. Mudik bukan hanya perjalanan pulang ke kampung halaman. Ia adalah perjalanan pulang ke dalam diri—di mana lelah beristirahat, dan hati menemukan kembali arah pulangnya.

By redaksi

Lentera Sastra Banyuwangi merupakan wadah Literasi, Seni dan Budaya Banyuwangi dan Indonesia

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *