Lentera Sastra Banyuwangi
31 Maret 2026

Ketika Perbedaan Menjadi Jalan Cinta

Syafaat
Ketika Perbedaan Menjadi Jalan Cinta

Di tengah riuh perbedaan, aku melihat jiwa-jiwa berdiri seperti pepohonan di padang yang sama,
akarnya menembus tanah yang satu, meski rantingnya menjulur ke arah yang berbeda.
Ramadhan datang seperti angin sunyi yang mengajarkan daun untuk tidak saling bertabrakan,
melainkan berdesir dalam harmoni,
dan Idul Fitri bukanlah tentang siapa yang lebih dahulu menyambut fajar,
tetapi tentang hati yang tetap utuh meski langkah tak selalu seirama,
sebab cinta tidak pernah meminta keseragaman,
ia hanya meminta keluasan untuk menerima.

Dan aku bertanya pada diriku sendiri:
mengapa lidah lebih cepat dari kelembutan,
mengapa jari-jari lebih ringan menulis luka daripada menanam doa?
Bukankah Tuhan telah mengajarkan kelembutan bahkan kepada yang paling keras hatinya,
agar manusia belajar bahwa kebenaran tanpa kasih adalah pedang tanpa sarung?
Maka biarlah kata-kata kita menjadi air,
yang mengalir pelan namun menembus batu,
bukan menjadi api yang menyala sesaat lalu meninggalkan abu di dada saudara kita.

Kita bukanlah cahaya yang berdiri sendiri,
melainkan percikan dari satu matahari yang sama.
Perbedaan adalah bayang-bayang yang lahir dari arah sinar yang beragam,
dan ukhuwah adalah langit yang menaungi semuanya tanpa memilih.
Maka jangan engkau ukur kemenangan dari gema takbir yang kau dahulukan,
tetapi dari seberapa dalam engkau menjaga hati yang lain dari retak.
Karena pada akhirnya,
Tuhan tidak menanyakan seberapa keras engkau benar,
melainkan seberapa lembut engkau mencintai.

Maret 2026, Banyuwangi

By redaksi

Lentera Sastra Banyuwangi merupakan wadah Literasi, Seni dan Budaya Banyuwangi dan Indonesia

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *