Lentera Sastra Banyuwangi

Memahami Qadha dan Qadar dengan Hati yang Tunduk

Memahami Qadha dan Qadar dengan Hati yang Tunduk

oleh : Akhmad Sruji Bahtiar

Keyakinan terhadap qadha dan qadar bukanlah sekadar pengetahuan yang singgah di akal, lalu berlalu tanpa bekas. Ia adalah nur (cahaya) yang turun perlahan ke dalam relung hati, menyusup ke dalam kesadaran terdalam, hingga dapat mengubah seluruh cara seorang hamba memandang dirinya, dunia, dan Tuhannya. Ketika keyakinan ini telah bersemayam, ia tidak lagi menjadi konsep yang dihafal atau dalil yang diucapkan, melainkan menjadi rasa yang hidup, rasa yang hadir dalam setiap detik, setiap helaan napas, dan setiap getar kehidupan.

Seorang hamba yang telah disentuh oleh cahaya iman terhadap takdir tidak lagi memandang kehidupan sebagai rangkaian peristiwa acak yang berjalan tanpa arah. Ia melihat segalanya sebagai tenunan Ilahi yang halus, tersusun dengan hikmah yang dalam, meskipun mata lahir sering kali tidak mampu menangkap keindahannya secara utuh. Apa yang tampak baginya sebagai keterlambatan, kegagalan, bahkan kehilangan, sesungguhnya adalah bagian dari skenario agung yang sedang menuntunnya menuju kedewasaan ruhani. Dalam kesadaran ini, firman Allah bukan sekadar bacaan, tetapi menjadi denyut batin yang menghidupkan jiwa bahwa tidak ada satu pun yang menimpa dirinya kecuali telah ditetapkan dengan kasih dan ilmu-Nya.

Maka, ketika ujian datang dalam bentuk penderitaan, pengkhianatan, atau ketidakadilan, cara pandangnya pun berubah secara mendasar. Ia tidak lagi melihat manusia sebagai sumber utama dari rasa sakitnya. Ia menyadari bahwa manusia hanyalah perantara, sementara hakikat yang menggerakkan segala sesuatu adalah kehendak Allah yang Maha Bijaksana. Dalam pandangan ini, luka tidak lagi sekadar luka, tetapi menjadi risalah rahasia, sebuah pesan yang mengandung pelajaran, pemurnian, dan pengangkatan derajat.

Ia tidak tergesa-gesa membalas, karena ia memahami bahwa setiap peristiwa membawa maksud Ilahi yang lebih luas daripada sekadar sebab-akibat lahiriah. Bahkan kezaliman yang menimpanya ia baca sebagai alat pendidikan ruhani, seperti palu yang menempa logam, menjadikannya lebih kuat, lebih jernih, dan lebih layak untuk memantulkan cahaya. Hatinya tidak dipenuhi oleh dendam yang mengeruhkan, tetapi oleh kesadaran yang menenangkan: bahwa di balik setiap kejadian, ada sentuhan kasih Tuhan yang sedang membentuk dirinya menjadi lebih dekat kepada-Nya.

Dari sinilah lahir sebuah ketenangan yang tidak bergantung pada keadaan. Ketenangan yang tidak mudah retak oleh perubahan dunia. Ia menjadi seperti samudra yang dalam, di permukaan mungkin ombak berdebur, namun di kedalaman, ia tetap sunyi dan damai. Hamba yang telah mencapai kesadaran ini tidak lagi terombang-ambing oleh kehilangan, karena ia tahu bahwa apa yang hilang darinya tidak pernah benar-benar menjadi miliknya. Semua hanyalah titipan yang datang dan pergi sesuai kehendak Pemiliknya.

Begitu pula ketika kenikmatan datang, ia tidak terperangkap dalam kesombongan. Ia tidak melihat dirinya sebagai pemilik keberhasilan, tetapi sebagai wadah yang diisi oleh karunia. Ia sadar bahwa segala yang ia miliki hanyalah amanah yang suatu saat akan kembali. Maka, ia bersyukur tanpa henti, bukan hanya dengan lisan, tetapi dengan hati yang tunduk dan jiwa yang merendah, ia mulai memasuki maqam ridha, sebuah tingkatan ruhani yang tinggi dan halus.

Ridha bukanlah ketiadaan rasa sakit, melainkan kemampuan untuk menembus rasa itu dan menemukan makna Ilahi di baliknya. Ridha bukan berarti tidak menangis, tetapi menangis dalam kesadaran bahwa air mata pun adalah bagian dari kasih sayang-Nya. Di sinilah, seorang hamba tidak lagi sibuk mempertanyakan takdir dengan keluhan, melainkan menanggapinya dengan tafakur. Jika dahulu ia bertanya, “Mengapa ini terjadi padaku?” kini pertanyaannya berubah menjadi, “Apa yang Allah kehendaki dariku melalui ini?” Perubahan pertanyaan ini adalah tanda perubahan jiwa, dari jiwa yang menuntut, menjadi jiwa yang tunduk; dari jiwa yang gelisah, menjadi jiwa yang pasrah.

Keyakinan terhadap takdir juga menumbuhkan kedermawanan yang tulus. Ia memahami bahwa rezeki bukanlah hasil semata dari usahanya, tetapi juga bagian dari ketetapan Allah. Maka ia tidak takut memberi, karena ia tahu bahwa yang memberi sesungguhnya adalah Allah melalui tangannya. Sedekah baginya bukan sekadar amal, tetapi ekspresi kepercayaan bahwa apa yang keluar tidak akan mengurangi, melainkan justru menambah keberkahan.

Begitu pula dengan syukur, ia tidak lagi menjadi ritual sesaat, tetapi menjadi keadaan jiwa yang menetap. Ia bersyukur dalam lapang maupun sempit, dalam senang maupun susah. Ia melihat setiap keadaan sebagai kesempatan untuk lebih dekat kepada Allah. Bahkan dalam kekurangan, ia menemukan kelimpahan; dalam kesedihan, ia menemukan kehadiran.Semua ini bermuara pada satu keadaan batin yang dalam dan luas: ketenangan yang tidak tergoyahkan oleh perubahan dunia. Di titik ini, seorang hamba tidak lagi merasa perlu mengatur segala sesuatu sesuai keinginannya. Ia berhenti memaksakan alur hidupnya, dan mulai belajar mengalir dalam arus kehendak Ilahi.

Penerimaan terhadap qadha dan qadar adalah bagaimana seorang hamba menerima apa yang datang dengan lapang dada, karena ia tahu itu adalah pilihan terbaik dari Allah. Ia melepaskan apa yang pergi dengan ikhlas, karena ia sadar bahwa setiap yang pergi sedang digantikan dengan sesuatu yang lebih sesuai bagi perjalanan jiwanya. Ia mensyukuri apa yang tersisa dengan penuh cinta, karena ia melihatnya sebagai tanda perhatian Tuhan yang tidak pernah putus, dalam kedalaman hati yang telah bersih dari prasangka, luas dari keluhan, dan jernih dari keterikatan dunia, ia menemukan Allah. Bukan sebagai sesuatu yang jauh dan terpisah, tetapi sebagai kehadiran yang begitu dekat, lebih dekat dari urat nadinya sendiri. Ia merasakan bahwa setiap detak jantungnya adalah panggilan, setiap napasnya adalah zikir, dan setiap peristiwa dalam hidupnya adalah dialog yang tak pernah terputus antara dirinya dengan Tuhannya.

Maka ia pun menyadari dengan sepenuh kesadaran: apa yang ia dapatkan hari ini bukan semata hasil dari perjuangannya. Ikhtiar memang jalan, tetapi kehendak Allah adalah penentu. Usaha adalah bentuk penghambaan, tetapi hasil adalah rahasia ketetapan. Dan di antara keduanya, seorang hamba belajar untuk berjalan, berusaha dengan sungguh-sungguh, namun tetap bersandar sepenuhnya kepada-Nya, hidup bukan lagi beban yang harus ditaklukkan, tetapi perjalanan yang harus dihayati. Dan setiap langkahnya, sekecil apa pun, menjadi bagian dari perjalanan pulang menuju Allah. sebagai tenunan kehendak Ilahi yang rapi dan penuh hikmah. Firman Allah dalam Al-Qur’an, Surah At-Taubah ayat 51, menjadi bisikan batin yang terus bergema:

“Katakanlah (Muhammad), “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakallah orang-orang yang beriman.

Ayat ini tidak lagi sekadar dilafalkan oleh lisan, tetapi menjadi napas ruhani yang menghidupkan jiwa dalam setiap keadaan.

Dalam kesadaran seperti ini, cara pandang seorang hamba terhadap musibah maupun cobaan pun berubah secara mendasar. Ia tidak lagi melihat luka sebagai kezaliman semata, tetapi sebagai pesan yang dikirimkan oleh Allah melalui jalan yang terkadang tidak ia duga. Ia tidak tergesa menuduh manusia, sebab ia tahu bahwa tidak ada satu pun makhluk yang mampu menyentuh dirinya tanpa izin dari Yang Maha Mengatur. Bahkan kezaliman yang datang kepadanya pun ia baca sebagai bagian dari proses penyempurnaan dirinya, sebagai palu yang membentuk logam jiwa agar menjadi lebih kuat, lebih bening, dan lebih siap menerima cahaya Ilahi. Maka hatinya tidak lagi dipenuhi dendam yang menghitamkan, tetapi dipenuhi kesadaran yang mencerahkan: bahwa di balik setiap peristiwa, ada tangan Tuhan yang sedang menulis kisahnya dengan penuh kasih, meski terkadang terasa perih.

Keyakinan ini melahirkan ketenangan yang tidak mudah diguncang oleh perubahan. Ia seperti laut yang dalam, di permukaan mungkin bergelombang, tetapi di kedalaman tetap tenang. Seorang hamba tidak lagi gelisah oleh apa yang hilang darinya, karena ia tahu bahwa yang hilang itu tidak pernah benar-benar miliknya. Ia juga tidak menjadi sombong atas apa yang datang kepadanya, karena ia sadar bahwa semua itu hanyalah titipan sementara. Dalam keadaan seperti ini, ia mulai belajar ridha, sebuah maqam yang tinggi, di mana hati menerima tanpa syarat, menjalani tanpa keluh, dan berserah tanpa sisa. Ridha bukan berarti kebal dari rasa sakit, tetapi mampu menembus rasa itu hingga menemukan makna yang tersembunyi di baliknya.

Keyakinan terhadap takdir, akan bermuara pada satu keadaan batin yang dalam: ketenangan yang tidak tergoyahkan oleh perubahan dunia. Di sana, seorang hamba tidak lagi sibuk mengatur alur hidupnya sendiri, tetapi membiarkan dirinya mengalir dalam kehendak Allah. Ia menerima apa yang datang dengan lapang, melepaskan apa yang pergi dengan ikhlas, dan mensyukuri apa yang tersisa dengan penuh cinta. Dan di situlah ia menemukan Allah, bukan sebagai sesuatu yang jauh di luar dirinya, tetapi sebagai cahaya yang hadir di kedalaman hatinya yang telah bersih, luas, dan dipenuhi oleh kehadiran-Nya. Di sana, ia tidak lagi merasa sendiri, karena setiap detak hidupnya telah menjadi perjumpaan yang terus-menerus dengan-Nya.

 

By redaksi

Lentera Sastra Banyuwangi merupakan wadah Literasi, Seni dan Budaya Banyuwangi dan Indonesia

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

news-1701

yakinjp

MAUJP

MAUJP

MAUJP

SATGASJITU

SLOT GACOR

SALAMJITU

SATGASJITU

SEMOGAJITU

SALAMJITU

Slot Gacor

MAUJP

Slot Gacor

SLOT GACOR

artikel 000000121

artikel 000000122

artikel 000000123

artikel 000000124

artikel 000000125

artikel 000000126

artikel 000000127

artikel 000000128

artikel 000000129

artikel 000000130

artikel 000000131

artikel 000000132

artikel 000000133

artikel 000000134

artikel 000000135

artikel 000000136

artikel 000000137

artikel 000000138

artikel 000000139

artikel 000000140

artikel 000000141

artikel 000000142

artikel 000000143

artikel 000000144

artikel 000000145

artikel 000000146

artikel 000000147

artikel 000000148

artikel 000000149

artikel 000000150

artikel 000000151

artikel 000000152

artikel 000000153

artikel 000000154

artikel 000000155

artikel 000000156

artikel 000000157

artikel 000000158

artikel 000000159

artikel 000000160

artikel 000000161

artikel 000000162

artikel 000000163

artikel 000000164

artikel 000000165

artikel 000000166

artikel 000000167

artikel 000000168

artikel 000000169

artikel 000000170

artikel 000000171

artikel 000000172

artikel 000000173

artikel 000000174

artikel 000000175

informasi terbaru kabupaten belu 00000056

informasi terbaru kabupaten belu 00000057

informasi terbaru kabupaten belu 00000058

informasi terbaru kabupaten belu 00000059

informasi terbaru kabupaten belu 00000060

informasi terbaru kabupaten belu 00000061

informasi terbaru kabupaten belu 00000062

informasi terbaru kabupaten belu 00000063

informasi terbaru kabupaten belu 00000064

informasi terbaru kabupaten belu 00000065

informasi terbaru kabupaten belu 00000066

informasi terbaru kabupaten belu 00000067

informasi terbaru kabupaten belu 00000068

informasi terbaru kabupaten belu 00000069

informasi terbaru kabupaten belu 00000070

informasi terbaru kabupaten belu 00000071

informasi terbaru kabupaten belu 00000072

informasi terbaru kabupaten belu 00000073

informasi terbaru kabupaten belu 00000074

informasi terbaru kabupaten belu 00000075

informasi terbaru kabupaten belu 00000076

informasi terbaru kabupaten belu 00000077

informasi terbaru kabupaten belu 00000078

informasi terbaru kabupaten belu 00000079

informasi terbaru kabupaten belu 00000080

informasi terbaru kabupaten belu 00000081

informasi terbaru kabupaten belu 00000082

informasi terbaru kabupaten belu 00000083

informasi terbaru kabupaten belu 00000084

informasi terbaru kabupaten belu 00000085

informasi terbaru kabupaten belu 00000086

informasi terbaru kabupaten belu 00000087

informasi terbaru kabupaten belu 00000088

informasi terbaru kabupaten belu 00000089

informasi terbaru kabupaten belu 00000090

informasi terbaru kabupaten belu 00000091

informasi terbaru kabupaten belu 00000092

informasi terbaru kabupaten belu 00000093

informasi terbaru kabupaten belu 00000094

informasi terbaru kabupaten belu 00000095

informasi terbaru kabupaten belu 00000096

informasi terbaru kabupaten belu 00000097

informasi terbaru kabupaten belu 00000098

informasi terbaru kabupaten belu 00000099

informasi terbaru kabupaten belu 00000100

informasi terbaru kabupaten belu 00000101

informasi terbaru kabupaten belu 00000102

informasi terbaru kabupaten belu 00000103

informasi terbaru kabupaten belu 00000104

informasi terbaru kabupaten belu 00000105

informasi terbaru kabupaten belu 00000106

informasi terbaru kabupaten belu 00000107

informasi terbaru kabupaten belu 00000108

informasi terbaru kabupaten belu 00000109

informasi terbaru kabupaten belu 00000110

informasi terbaru kabupaten belu 00000111

informasi terbaru kabupaten belu 00000112

informasi terbaru kabupaten belu 00000113

informasi terbaru kabupaten belu 00000114

informasi terbaru kabupaten belu 00000115

informasi terbaru kabupaten belu 00000116

informasi terbaru kabupaten belu 00000117

informasi terbaru kabupaten belu 00000118

informasi terbaru kabupaten belu 00000119

informasi terbaru kabupaten belu 00000120

informasi terbaru kabupaten belu 00000121

informasi terbaru kabupaten belu 00000122

informasi terbaru kabupaten belu 00000123

informasi terbaru kabupaten belu 00000124

informasi terbaru kabupaten belu 00000125

informasi terbaru kabupaten belu 00000126

informasi terbaru kabupaten belu 00000127

informasi terbaru kabupaten belu 00000128

informasi terbaru kabupaten belu 00000129

informasi terbaru kabupaten belu 00000130

article 48666670361

article 48666670362

article 48666670363

article 48666670364

article 48666670365

article 48666670366

article 48666670367

article 48666670368

article 48666670369

article 48666670370

article 48666670371

article 48666670372

article 48666670373

article 48666670374

article 48666670375

article 48666670376

article 48666670377

article 48666670378

article 48666670379

article 48666670380

article 48666670381

article 48666670382

article 48666670383

article 48666670384

article 48666670385

article 48666670386

article 48666670387

article 48666670388

article 48666670389

article 48666670390

article 48666670391

article 48666670392

article 48666670393

article 48666670394

article 48666670395

article 48666670396

article 48666670397

article 48666670398

article 48666670399

article 48666670400

article 48666670401

article 48666670402

article 48666670403

article 48666670404

article 48666670405

article 48666670406

article 48666670407

article 48666670408

article 48666670409

article 48666670410

article 58666670411

article 58666670412

article 58666670413

article 58666670414

article 58666670415

article 58666670416

article 58666670417

article 58666670418

article 58666670419

article 58666670420

article 58666670421

article 58666670422

article 58666670423

article 58666670424

article 58666670425

article 58666670426

article 58666670427

article 58666670428

article 58666670429

article 58666670430

article 58666670431

article 58666670432

article 58666670433

article 58666670434

article 58666670435

article 58666670436

article 58666670437

article 58666670438

article 58666670439

article 58666670440

article 58666670441

article 58666670442

article 58666670443

article 58666670444

article 58666670445

article 58666670446

article 58666670447

article 58666670448

article 58666670449

article 58666670450

article 58666670451

article 58666670452

article 58666670453

article 58666670454

article 58666670455

article 58666670456

article 58666670457

article 58666670458

article 58666670459

article 58666670460

article 58666670461

article 58666670462

article 58666670463

article 58666670464

article 58666670465

article 58666670466

article 58666670467

article 58666670468

article 58666670469

article 58666670470

article 58666670471

article 58666670472

article 58666670473

article 58666670474

article 58666670475

article 58666670476

article 58666670477

article 58666670478

article 58666670479

article 58666670480

article 58666670481

article 58666670482

article 58666670483

article 58666670484

article 58666670485

article 58666670486

article 58666670487

article 58666670488

article 58666670489

article 58666670490

article 58666670491

article 58666670492

article 58666670493

article 58666670494

article 58666670495

article 58666670496

article 58666670497

article 58666670498

article 58666670499

article 58666670500

article 58666670501

article 58666670502

article 58666670503

article 58666670504

article 58666670505

article 58666670506

article 58666670507

article 58666670508

article 58666670509

article 58666670510

news-1701